Indian Ocean nations test tsunami warning system
10:58 PMBANGKOK – Sirens blared, parents grabbed their children and hundreds ran to emergency shelters in Indonesia as countries bordering the Indian Ocean conducted a test Wednesday of a warning system set up after the devastating 2004 tsunami.
But at least one survivor was too paralyzed by memories of the killer wave to take part in mock evacuations off Aceh, Indonesia.
"What is this all for? My chest has gone tight and I am shaking," said Hamiyah, a 58-year-old woman who lost her in-laws, four children and five grandchildren in 2004.Planned for 18 countries, the drill was intended to simulate a tsunami similar to the one sparked by the 9.2 magnitude quake off Indonesia five years ago, the United Nations said in a statement.
That quake generated waves that eradicated entire coastal communities, killing some 230,000 people in one of the worst natural disasters of modern times.
"When the siren sounded, I immediately thought of my child, grabbed her and ran," said Bakhtiar, 50, who lives in the village of Gampong Pie, along the Indonesian coastline in Aceh province.
In Aceh's Ulee Lheue village, which was all but wiped out by the tsunami, about 200 residents gathered at a mosque after an explosion was sounded from loudspeakers that was meant to signal an earthquake.
Around ten minutes later a siren blared out, starting the drill.
But Hamiyah refused to take part, breaking down and staying at home, rebuilt after the disaster, with her two surviving children.
"It reminds me of the past and makes me really sad. Please stop reminding us," she said, sobbing, as people ran for quake-proof emergency shelters, some carrying the "wounded," as a voice over mosque loudspeakers urged people not to panic.
"We want to send the message to the world that we continue to improve our disaster mitigation skills," said Aceh Vice Governor Muhammad Nazar.
Dubbed "Exercise Indian Ocean Wave 09," the drill was the first comprehensive test and evaluation of the warning system put in place after the 2004 disaster, said the U.N. Educational, Scientific and Cultural Organization, or UNESCO.
It comes two weeks after a tsunami smashed into the Pacific islands of Samoa, American Samoa and Tonga, killing at least 183 people.
In Thailand, where more than 5,000 Thais and foreign tourists perished, no evacuation drill was planned but its National Disaster Warning Center was responding to the dummy telegrams, faxes and e-mails being sent out by the Hawaii-based Pacific Tsunami Warning Center, said Capt. Saran Thappasook.
In Myanmar, officials were to relay the warnings to tsunami-prone areas, said Thein Tun, director general of the Meteorological Department, while in Malayia 1,200 villagers on the northern resort island of Langkawi were directed to higher ground as firefighting trucks and ambulances ferried the elderly and pregnant women.
But in Sri Lanka's southern coastal village of Godawaya, a tsunami warning tower failed to emit a siren. Local fishermen who had stayed home to take part waited for a few hours and decided to go to work.
Later, officials manning the tower went around the village announcing a "tsunami threat" through loudspeakers and calling on residents to quickly move to a Buddhist temple on higher ground. Women who were at home gathered at the temple.
Air Force SGT M.G.A. Nandana declared the drill was still a success since they an alternative warning method was found in case the warning tower failed.
Ray Canterford, an official at Australia's Bureau of Meteorology, said ahead of the exercise that the Hawaii-based center would issue an earthquake alert to trigger the drill.
In Australia, the bureau would use the earthquake data from the tsunami warning center to calculate the size of any tsunami wave and estimate the time it will take to hit the Australian coast.
None of the warnings would go public, and no evacuations were planned in Australia, Canterford said.
Australia was not affected by the 2004 disaster, but is playing a role in the regional system to improve response times and international coordination. Australia has a network of wave height sensors along its coastline, and two deep sea sensors in waters between Australia's northwest and Indonesia, where some 130,000 were killed.
Under the system, Australia, Indonesia and India swap data on a tsunami threat, and Wednesday's drill will test how efficiently messages are sent among those countries, Canterford said.
"It's a real time event," Canterford said. "We believe that all or most of the countries in the Indian Ocean are a lot better prepared now than they were in 2004."
UNESCO said Wednesday's exercise would allow Indian Ocean countries to test their communications, review their emergency procedures and identify any weaknesses.
___
Associated Press writers Fakhrurradzie Gade in Ulee Lheue, Indonesia, and Ambika Ahuja in Bangkok contributed to this report.
Membangkitkan Trauma Tsunami
10:26 PMDI tembok bekas pagar, Hamiyah bersandar. Tangan dan bibirnya terlihat bergetar. Pandangan ia arahkan ke sejumlah orang yang lari sambil berteriak histeris. Di depannnya, dari arah laut puluhan orang berlari ke arah gedung penyelamatan di kantor Pusat Riset Mitigasi Bencana dan Tsunami --yang terpaut sekira 300 meter dari posisi Hamiyah.
"Tujuannya apa dibuat acara seperti ini?" tanya Hamiyah kepada seorang pemuda yang mendekatinya.Hamiyah sadar, puluhan orang berlari sambil berteriak histeris adalah mereka yang terlibat dalam simulasi penyelamatan diri saat tsunami menerjang. Tapi, Hamiyah tidak ingin mengikuti simulasi tersebut.
Sejak pagi, Hamiyah mengurung diri di rumah. Ia tidak ingin melihat simulasi, yang membuatnya terkenang peristiwa Desember 2004 silam. Tsunami yang menghancurkan Aceh lima tahun silam itu, menyebabkan Hamiyah harus kehilangan 12 anggota keluarganya.
Hamiyah mengaku masih trauma. "Buat apa diingat-ingat kejadian dulu," kata Hamiyah.
Bagi Hamiyah, peristiwa tragis yang melumat 12 anggota keluarganya itu telah menjadi lembar kelam. "Saya sedih kalau mengingat kejadian itu," ujarnya.
Saat mendengar bunyi raungan sirine yang dibunyikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Banda Aceh, perempuan berusia 58 tahun itu, langsung terkejut. "Dada saya sesak," ujarnya. Tangan kirinya mengusap-usap dada. Terlihat nada gemetar di tangan dan bibirnya.
Matanya juga terlihat berkaca-kaca.
Tsunami telah menyebabkan Hamiyah kehilangan keluarga dan rumah. Bencana tsunami yang menghancurkan kampungnya, menyebabkan empat anak, lima cucu, dan tiga menantunya meninggal. Hamiyah sendiri sempat terseret arus.
"Jari kelingking saya putus," ia menunjuk tangan kirinya, yang tanpa kelingking.
Bagi Hamiyah, simulasi yang digelar ini tidak terlalu berguna. "Lihat anak-anak itu, mereka berlari-lari sambil ketawa-ketawa," ujar warga Desa Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, itu. "Mereka ria."
Hamiyah mengaku, jika bencana kembali datang, ia akan lari menyelamatkan diri ke masjid. "Tapi, kalau ada bencana, kapan kita mau lari. Dulu setelah gempa, kami melihat air laut kering. Tapi tidak ada yang suruh lari, karena tidak ada yang kasih tahu," kata Hamiyah yang mengaku tinggal bersama dua anaknya yang selamat dari humbalang tsunami tersebut.
***
Pukul 08.00 WIB. Satu ledakan keras terdengar dari arah laut. Berselang beberapa detik kemudian, ledakan keras kembali terdengar. Dari pengeras suara masjid, seorang lelaki mengabarkan bahwa telah terjadi gempa besar. Warga diminta tidak panik.
"Mari sama-sama kita berdoa dan berzikir kepada Allah. Masyarakat diharap tenang, jangan panik," suara dari pengeras suara masjid.
Peringatan itu disuarakan berulang kali. Puluhan perempuan dan lelaki -- yang membawa anak-anak balita-- berkumpul di pekarangan masjid. Sebelumnya, mereka sedang berkumpul di dalam masjid.
Sepuluh menit kemudian, raungan sirine memecahkan kesunyian. Warga diminta untuk menyelamatkan diri ke gedung penyelamatan yang berjarak sekitar 300 meter dari masjid. Lokasi penyelamatan berada di atas atap gedung Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana.
Dari arah laut, puluhan warga juga berlarian. Mereka berteriak tsunami. Kepanikan jelas diperlihatkan oleh peserta simulasi.
Kepanikan bertambah, saat ambulans membunyikan sirenenya. Petugas medis dengan sigap mengevakuasi beberapa orang yang mengalami luka akibat gempa. Mobil polisi juga siaga. Mereka mengangkut warga ke gedung penyelamatan.
Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, mengatakan, simulasi ini bertujuan untuk menguji kesiapan sistem dan kesiagaan bencana. “Skenarionya sudah berjalan,” katanya di Banda Aceh, Rabu (14/10).
Ini kali kedua simulasi tsunami dibuat di Aceh, setelah pada 2 November 2008. Pada simulasi kali ini, Kusmayanto magatakan, kesiapan system evakuasi bencana di Indonesia, khususnya Aceh mengalami kemajuan, dibanding sebelumnya. “Setelah kita uji coba, sistemnya jalan semua, komunikasi juga lancar,” ujarnya.
Wakil Gubernur Muhammad Nazar menambahkan, simulasi kali ini berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). “Hanya beberapa komunikasi radio yang kurang berjalan saat kita coba dan ini akan kita perbaiki,” tuturnya.
***
Bagi Bakhtiar, warga Desa Gampong Pie, Kecamatan Meuraxa, simulasi tsunami yang digelar pemerintah ini sangat berguna. "Ini bisa membuat kita belajar dan mengetahui cara menyelamatkan diri saat ada bencana dan tsunami," kata Bakhtiar, saat ditemui di atas gedung penyelamatan tsunami. Saat mengikuti simulasi, Bakhtiar memboyong anak perempuannya.
Saat tsunami 2004 silam, Bakhtiar sedang berjualan di pasar, di Kota Banda Aceh. Sementara istri dan anaknya berada di rumah. Beruntung, tidak ada keluarga intinya yang menjadi korban dalam gelombang gergasi tersebut.
"Waktu bunyi sirene tadi, saya langsung teringat anak saya ini," kata Bakhtiar. "Saya lalu mengambilnya dan langsung bersama warga berlari ke sini."
Lain lagi pendapat Sri Mulyani. Warga Desa Ulee Lheue ini menilai simulasi yang digelar ini tak banyak berguna. "Kalau ada tsunami, secara spontan saya akan berlari mencari tempat tinggi. Tidak mesti saya harus berlari ke gedung penyelamatan. Saya akan mengikuti naluri saya," kata perempuan 39 tahun ini.
Mulyani mengaku sempat terseret arus tsunami. Anaknya yang berusia lima tahun terlepas dari genggaman suaminya. Sampai kini, anaknya itu tak ditemukan. Mulyani selamat setelah berhasil mencapai lantai dua Rumah Sakit Umum Meuraxa, yang juga rusak parah.
"Kita tidak mau tsunami terulang lagi. Cukup membuat saya trauma," kata Mulyani. []
196 Pengungsi Rohingya Kabur dari Penampungan
4:49 PMFAKHRURRADZIE GADE
BANDA ACEH -- Sebanyak 196 pengungsi etnis Rohingya kabur dari penampungan mereka di Kecamatan Idi Rayeuek, Aceh Timur, dan Pangkalan TNI Angkatan Laut Sabang. Umumnya, mereka kabur karena jenuh berada di pengungsian.
Informasi yang diperoleh dari Wakil Bupati Aceh Timur Nasruddin Abubakar, sebanyak 184 etnis Rohingya yang ditampung di kantor Kecamatan Idi Rayeuk melarikan diri ke Medan, sebelum akhirnya bertolak ke Malaysia. Mereka lari setelah mendapat pertolongan dari warga lokal yang menjadi calo.
Menurut Nasruddin, para pengungsi biasanya kabur pada pukul 3 atau 4 pagi, saat polisi yang bertugas di sana terlelap.
"Sekarang tinggal 14 orang lagi, dari sebelumnya 198 pengungsi yang kita tampung," kata Nasruddin Abubakar. "Terakhir, dua orang kabur pada pagi hari raya Idul Fitri lalu."
Nasruddin menyebutkan, polisi sempat mencari keberadaan para pengungsi ini. Namun tidak satu pun yang berhasil dipulangkan lagi ke penampungan.
"Tujuan mereka ke Malaysia untuk mencari kerja. Bahkan, saya dengar informasi (para pengungsi yang kabur ini) ada yang sudah mendapat kerja di Malaysia," ujar Nasruddin.
Sementara itu, 12 pengungsi etnis Rohingya yang ditampung di Pangkalan TNI Angkatan Laut Sabang juga melarikan diri pada malam lebaran.
Komandan Pangkalan TNI AL Kolonel Yanuar Handwiono menyebutkan, kaburnya 12 pengungsi ini baru diketahui saat absensi usai salat Subuh, Ahad (20/9).
"Mereka kabur dengan perahu nelayan yang ditambat dekat pangkalan. Kondisi perahunya kecil dan rusak," kata Yanuar saat dihubungi melalui telepon.
Yanuar menduga, para pengungsi melarikan diri karena mengalami depresi. "Apalagi proses (pemulangan mereka) membutuhkan waktu lama. Saat ini kita sudah mencari mereka tapi belum ketemu. Kita juga sudah menginformasikan kasus ini ke aparat kita yang ada di Aceh perairan," kata Yanuar.
Pangkalan TNI AL menampung 193 etnis Rohingya yang terdampar di Sabang pada 7 Januari lalu. Pada 3 Februari, sebanyak 198 pengungsi Rohingya lainnya terdampar di Idi Rayeuk. Etnis Rohingya mengakui bahwa mereka terdampar di perairan Aceh setelah sebelumnya dilarung tentara Thailand di laut lepas. Saat dalam perjalanan dari Bangladesh menuju ke Malaysia melalui Thailand untuk mencari pekerjaan, mereka ditangkap militer Thailand dan mengalami penyiksaan.
Pihak Imigrasi dan Departemen Luar Negeri telah mendata 391 etnis Rohingya yang terdampar di Aceh. Sebelumnya, acehkita.com melansir, Departemen Luar Negeri akan memulangkan 114 dari 391 etnis Rohingya yang terdampar di perairan Aceh ke negara asalnya. Namun, belum diketahui pasti jadwal deportasi tersebut. Sebagian di antara 391 etnis Rohingya di Aceh itu, telah ditetapkan sebagai pengungsi oleh UNHCR.
Direktur Asia Selatan dan Tengah Ditjen Asia Pasifik dan Afrika Departemen Luar Negeri Mochamad Asruchin mengatakan, 114 etnis muslim Rohingya tersebut akan dipulangkan ke Bangladesh. Pasalnya, setelah diverifikasi oleh tim Deplu, mereka terbukti sebagai warga negara Bangladesh.
"Mereka secara sukarela bersedia untuk kembali ke Bangladesh. Mereka akan dikembalikan dalam waktu dekat," kata Asruchin kepada wartawan di Banda Aceh, Senin (25/5) lalu.
Asruchin menambahkan, etnis Rohingya yang diduga berkewarganegaraan Myanmar sama sekali tidak mau dideportasi ke negaranya. Namun dia mengaku tidak tahu jumlah pasti berapa etnis Rohingya yang sudah ditetapkan sebagai refugee oleh UNHCR ini.
"Kalau saya tidak salah, UNHCR sudah masuk dan dinyatakan sebagai refugees. Itu biasanya akan dicarikan negara ketiga untuk mau menampung mereka," kata Asruchin. []
Perusahaan Lilin Negara
11:09 PMHARI ini, tak terbilang sumpah serapah kukeluarkan untuk penyedia layanan listrik. Aku sering menyebutnya Perusahaan Lilin Negara sebagai kepanjangan dari PLN. Ini bukan kepanjangan yang mengada-ada. Istilah ini pertama sekali kulakabkan saat saking suntuknya karena dunia ini digelapkan oleh aksi PLN. Sungguh, saat itu berbatang-batang lilin kubakar untuk menerangi diri dan sekitar.
Hari ini, sumpah serapahku itu kubagi dengan kawan-kawan di Facebook. Aku menyebut ini jaman jahiliyah, di mana kegelapan masih mengepung diriku dan kawasan yang kudiami. Semoga, PLN diberi hidayah oleh Allah untuk mendakwahkan listriknya ke daerah kami, biar kami tidak terus menerus tinggal dalam jaman jahiliyah. Karena, bisa-bisa jaman ini akan membawa kami berhadapan dengan Qanun Zinayah. []
Nurjannah & Qanun Jinayah
12:59 PMMENJELANG waktu berbuka puasa, bersama dua teman (Yo Fauzan dan Abdul Munar), saya mengunjungi Desa Lamtimpeung, Tungkop, Aceh Besar. Letaknya hanya sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh. Ke Lamtimpeung, kami ingin menunaikan amanah sejumlah pembaca acehkita.com. Sekitar dua bulan lalu, reporter acehkita.com, Riza Nasser, menurunkan liputan tentang Nurjannah, perempuan berusia 22 tahun yang menderita lumpuh layu sejak usia 4 bulan. Nurjannah terbujur kaku di atas dipan di dalam kamar sempit dan pengap. Aroma pesing merebak, hingga keluar rumah. Suasana kamar juga tak tertata. Kasur, kain, pakaian, saling bertindih: awut-awutan. Singkatnya, kamar itu sangat tak layak dihuni.
Nurjannah tinggal bersama ayah dan dua adiknya di rumah tipe 36 tersebut. Ada tiga kamar ukuran kecil yang tak terurus. Nurjannah tidur sendirian. Kamar di sebelah Nurjannah, dibiarkan kosong melompong. Ayahnya, tidur di kamar yang dekat ruang tamu. Jangan bayangkan ruang tamu dilengkapi televisi, meja dan kursi. Buang bayangan itu, karena di sana hanya ada tumpukan baju berserakan, sepeda bekas. Di dekat kamar Nurjannah, tergeletak satu kompor. Di atasnya ada penggorengan. Di sekitar kompor, cangkang telur ayam berserakan, dibiarkan bebas tergeletak di atas lantai. Rumah dicat kuning itu semi permanen.
"Binteh kadikap le kamue (dinding rumah dimakan rayap)," kata Muhammad Dehan, ayah Nurjannah. Telunjuknya mengarah ke dinding rumah.
Dehan mengurus anak-anaknya seorang diri, sejak istrinya meninggal dunia beberapa tahun silam. Ia hanya seorang pemelihara sapi suruhan orang. Kerjanya serabutan. Penghasilan sebulan paling banyak 200.000. Tinggal di pinggiran Kota Banda Aceh yang tingkat inflasinya tinggi, uang segitu sama-sekali tidak mencukupi. Apalagi untuk membiayai anak-anaknya. Tapi Dehan tak putus asa. Ia bekerja apa saja yang bisa menghasilkan rupiah.
Dua hari lalu, seorang warga yang hendak melangsungkan resepsi pernikahan memintanya menjaga sapi yang akan dipotong pada hari kenduri. Sapi agak kecil itu ditambat tak jauh dari rumahnya. Oya, sekitar 10 meter dari rumah, ada kandang kerbau atau sapi. Di sinilah, sapi-sapi peliharaannya bernaung. Bulan lalu, saat meugang puasa, Dehan menjual sapi yang dipelihara secara mawah. Mawah merupakan cara memelihara bagi hasil. Setelah modal membeli sapi dikembalikan ke pemodal, angka selisih dibagi berdua: antara dia dan pemodal.
"Misalnya harga sapi waktu dibeli itu lima juta rupiah dan waktu dijual tujuh juta, bagi hasilnya yang dua juta selisih itu," kata Dehan. "Ya dapat sejuta per orang."
Melihat kehidupan Dehan, saya kehabisan kata-kata. Betapa Ia tegar melakoni hidup dengan segudang permasalahan yang melingkupinya.
Sore itu, Dehan memakai oblong putih lengan biru. Bajunya dipakai terbalik: bagian dalam dibiarkan menjadi bagian terluar. Baju itu bukan dibeli, tapi diberi orang saat musim kampanye. Ya, baju putih berlengan biru itu atribut kampanye Susilo Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Boediono. Di punggung Dehan jelas tertulis nama pasangan itu. Sementara di bagian depan, gambar SBY-Boediono lagi tersenyum juga terlihat jelas.
Nurjannah juga memakai baju SBY. Bantal yang tergeletak di samping Nurjannah juga dibajukan SBY. Saya tidak bertanya apakah keluarga ini pendukung SBY. Tapi yang jelas, tak jauh dari rumah Dehan, masih di dalam pekarangan rumahnya, ada bendera Partai Aceh. Ehm, saat pemilu presiden lalu, aktivis partai bentukan Gerakan Aceh Merdeka ini menyokong pasangan yang diusung Partai Demokrat ini. Hiruk-pikuk pemilu menyeruak ke kamar Nurjannah: yang terbujur kaku.
Melihat kondisi Nurjannah kemarin, saya teringat berita di sebuat media lokal di Banda Aceh, yang memuat pernyataan Abu Panton. Nama terakhir ini merupakan ulama yang bermukim di Aceh Utara. Ia mengasuh dayah di Panton Labu. Abu merupakan ulama yang disegani. Ia tak dekat kekuasaan.
Dalam berita itu, Abu Panton menyentil pengesahan Qanun Hukum Jinayat dan Qanun Acara Jinayat. Abu bilang, Qanun yang mengatur hukum rajam dan cambuk bagi pelanggar Syariat Islam baru bisa diterapkan kalau saja masyarakat Aceh sudah sadar hukum dan hidupnya makmur. Minimal sudah tidak berada di bawah garis kemiskinan.
Pernyataan nyaris serupa dikemukakan Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Ziauddin Ahmad. Saat kami wawancarai menjelang dinihari usai rapat paripurna DPR Aceh, saya dan sejumlah wartawan ikut memintai tanggapan Ziauddin soal penerapan hukum rajam. Ziauddin terang-terangan menyatakan penolakannya terhadap hukum rajam bagi pelaku zina yang telah menikah. Menurut Ziauddin, hukum Islam baru bisa ditegakkan kalau masyarakat di suatu negeri sudah hidup mapan dan sadar hukum. Nah, dua hal inilah yang belum dipunyai Aceh.
"Bagaimana, misalnya, kita menerapkan hukum potong tangan bagi yang mencuri," kata Ziauddin, "kalau perekonomian kita belum bagus."
Benar, bagaimana mungkin kita menggembar-gemborkan penegakan syariat Islam kalau sendi-sendi kehidupan masyarakat belum dibenahi. Syariat Islam kan bukan hanya hukum potong tangan, cambuk, rajam semata. Ia melingkupi segala aspek. Ada aspek sosial, ekonomi, syariat, hukum, dan banyak lagi.
Saya menilai bahwa selama ini para politisi –yang pemahaman agamanya pas-pasan—ingin memaksakan pemahaman dan keyakinan syariatnya kepada masyarakat. Mereka selalu mengklaim bertindak atas amanah rakyat. Di sini, mereka mengambil secuil ayat al-Quran dan meninggalkan ayat-ayat lainnya. Bukankah pola beragama seperti ini sangat dibenci oleh Allah dan Nabi-Nya?
Bagaimana mungkin hanya menegakkan hukum Allah di bidang lendir, judi, dan minuman, sementara ajaran dan hukum Allah yang lain ditinggalkan begitu saja. Misalnya, korupsi dan pembunuhan. Bukankah dalam Islam dua aspek ini juga mendapat sorotan tajam? Bagaimana misalnya dalil dalam Islam menyebutkan bahwa "pembunuh dan yang dibunuh sama-sama masuk neraka". Ini dalil untuk orang yang sama-sama ingin saling bunuh. Di sisi lain bagaimana misalnya Tuhan berjanji akan menempatkan pembunuh di neraka.
Dalam al-Quran memang tak ada kata khusus soal korupsi, tapi ini kan identik dengan mencuri. Nah, bagaimana dengan hukum potong tangan bagi si pencuri dan koruptor? Apa karena ada politisi dan pejabat yang berselemak kasus korupsi lantas hukum tak tegak?
Sungguh aneh para politisi yang mengaku sedang berjihad ini: agama menjadi dagangan semata.
Sebelum pikiran terus berkeliaran ke mana-mana, saya kembali fokus pada Dehan dan Nurjannah yang terbaring di kamar berbau pesing. Aroma amoniak menusuk hidung, hingga ke relung kepala yang membuat pusing. Tapi, penegakan syariat Islam dalam bentuk membebaskan orang-orang dari kemiskinan, sama sekali tak dipikirkan para politisi itu. []
Indonesia's Aceh to allow stoning for adulterers
6:46 AM
By FAKHRURRADZIE GADE
The Associated Press
Monday, September 14, 2009; 1:20 PM
BANDA ACEH, Indonesia -- Lawmakers in a devoutly Muslim Indonesian province voted unanimously Monday that adulterers could be sentenced to death by stoning, just months after voters overwhelmingly chose to throw conservative Islamic parties out of power.Only weeks before the new government, led by the moderate Aceh Party, is set to take over, the regional parliament still controlled by hard-liners pushed through steep punishments for adultery and homosexuality.
The chairman of the 69-seat house asked if the bill could be passed into law and members answered in unison: "Yes, it can." Some members of the moderate Democrat Party voiced reservations, but none of them voted against the bill.
Human rights groups said the law violates international treaties signed by Indonesia. The province's deputy governor also opposed the legislation, saying it needed more careful consideration because it imposes a new form of capital punishment.
The Aceh Party is also believed to have a less strict interpretation of Islamic law, or Shariah, and some activists expressed hope that once in power, they would amend or tone down the law. Others were considering contesting the bill in court in the capital, Jakarta.
Aceh, where Islam first arrived in Indonesia from Saudi Arabia centuries ago, enjoys semiautonomy from the central government. A long-running Islamic insurgency in the province ended in 2005 in the wake of the Indian Ocean tsunami that killed 130,000 there.
A version of Shariah that was introduced in Aceh in 2001 already bans gambling and drinking alcohol, and makes it compulsory for women to wear headscarves. Dozens of public canings have been carried out by the local Shariah police against violators of that law.
The majority of Indonesia's roughly 200 Muslims practice a moderate form of the faith, and surveys suggest they do not support such hardline interpretations of the Quran, the Muslim holy book.
Stoning is legally sanctioned in varying forms in Afghanistan, Iran, Pakistan, Sudan, Saudi Arabia, the United Arab Emirates and parts of Nigeria. Illegal stonings have also been reported in recent years in Iraq and Somalia. But its use is a point of contention among Islamic scholars.
The most notable example in modern Islam was that of Amina Lawal, a young woman who was sentenced to death in a Nigerian state in 2002 for having sex outside marriage, but was later released.
The new Indonesian law also imposes tough sentences and fines, to be paid in kilograms of gold, for rape and pedophilia, but the most hotly disputed article was on adultery and states that offenders can be punished by a minimum of 100 lashings and a maximum of stoning to death.
"The stoning to death is the toughest punishment included in the (new) Shariah law," Bahrom Rasjid, one of the drafters and a member of the United Development Party, said after its passage.
It also imposes severe prison terms for other behavior considered morally unacceptable, including homosexuality, which will be punishable by public lashings and more than eight years in prison.
The bill violates national and international treaties signed by Indonesia protecting the rights of minorities and women, said a gay rights activist in Aceh who requested anonymity because he feared for his safety.
"It's discriminatory, and it's saddening, but we are quite sure members of civil society who are concerned with human rights will not sit by silently," the activist said, adding that he hopes the new moderate leadership in the province will overturn the law after taking power next month.
Aceh Vice Governor Muhamad Nazar said that even though his office opposed the clause on stoning to death it has no legal power to block it. "Whatever law is passed we have to enforce it," he said.
---
Associated Press writers Irwan Firdaus and Anthony Deutsch contributed to this article from Jakarta.
http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/content/article/2009/09/14/AR2009091400814.html
New Islamic law in Indonesia's Aceh province
8:47 PM• ADULTERY: "Any person who deliberately commits adultery is threatened with 100 cane lashes for the unmarried and stoning to death for those who are married."
• HOMOSEXUALITY: "Any person deliberately performing homosexuality or lesbianism is threatened with up to 100 cane lashes and a maximum fine of 1,000 grams of fine gold, or imprisonment of up to 100 months."
• PEDOPHILIA: "Any person who deliberately commits a sexual crime against children is threatened with a variable sentence of up to 200 cane lashes and a fine of up to 2,000 grams of fine gold, or maximum imprisonment of 200 months."
• RAPE: "Any person who deliberately commits rape is threatened with at least 100 cane lashes and maximum 300 cane lashes or imprisonment of at least 100 months and a maximum of 200 months."
Indonesia's Aceh passes law on stoning to death
8:42 PM
By FAKHRURRADZIE GADE, Associated Press Writer
BANDA ACEH, Indonesia – Adulterers can be stoned to death and homosexuality is punishable by steep prison terms under a new law passed unanimously by lawmakers in Indonesia's devoutly Muslim Aceh province Monday.
Aceh's regional parliament adopted the bill despite strong objections from human rights groups and the province's deputy governor, who said the legislation needed more careful consideration because it imposes a new form of capital punishment.
The chairman of the 69-seat house asked if the bill could be passed into law and members answered in unison: "Yes, it can." Some members of the moderate Democrat Party had voiced reservations, but none of them voted against the bill.
The law, which reinforces the province's already strict Islamic laws, is to go into effect within 30 days. Its passage comes two weeks before a new assembly led by the moderate Aceh Party will be sworn in following a heavy defeat of conservative Muslim parties in local elections.
Aceh, where Islam first arrived in Indonesia from Saudi Arabia centuries ago, enjoys semiautonomy from the central government. A long-running Islamic insurgency in the province ended in 2005 in the wake of the Indian Ocean tsunami that killed 130,000 there.
A version of Islamic law, or Shariah, that had been introduced in Aceh in 2001 already bans gambling and drinking alcohol, and makes it compulsory for women to wear headscarves. Dozens of public canings have been carried out by the local Shariah police against violators of that law.
The majority of Indonesia's roughly 200 Muslims practice a moderate form of the faith and surveys suggest they do not support such hardline interpretations of the Quran, the Muslim holy book.
Several countries have laws on stoning, but the punishment remains a point of disagreement between Islamic scholars. Out of fifty-two Muslim-majority countries worldwide, stoning is legally sanctioned in varying forms in Afghanistan, Iran, Pakistan, Sudan, Saudi Arabia, the United Arab Emirates and parts of Nigeria.
Illegal stonings have also been reported in recent years in Iraq and Somalia.
The most notable example in modern Islam was that of Amina Lawal, a young woman who was sentenced to death in a Nigerian state in 2002 for having sex outside marriage, but was later released.
The new Indonesian law also imposes tough sentences and fines, to be paid in kilograms of gold, for rape and pedophilia, but the most hotly disputed article was on adultery and states that offending married couples can be punished by a minimum of 100 lashings and a maximum of stoning to death.
"The stoning to death is the toughest punishment included in the (new) Shariah law Bahrom Rasjid, one of the drafters and a member of the United Development Party, said after its passage.
It also imposes severe prison terms for other behavior considered morally unacceptable, including homosexuality, which will be punishable by public lashings and more than eight years in prison.
Aceh Vice Governor Muhamad Nazar said that even though his office opposed the clause on stoning to death it has no legal power to block it. "Whatever law is passed we have to enforce it," he said.
Pendatang di Negeri Sendiri
12:30 PM[e-mail: radzie@acehkini.co.id]
MUHAMMAD Hassan terbaring lemas di ruangan 3 x 2,5 meter. Di dekatnya ada sebuah lemari kecil. Di atasnya ada obat dan infus. Sebuah Al Quran warna kuning emas bertengger di atas lemari yang dipenuhi oleh obat dan makanan. Di atas Quran, ada dua boat mainan kecil yang dibuat dari kertas buku.
Bukan tanpa alasan pria berusia 22 tahun itu membuat boat kertas. Selama sepuluh hari, dia bersama 583 orang terombang-ambing di laut lepas, setelah Angkatan Laut Thailand melepaskan mereka di laut. Hasan terdampar di perairan Sabang dan diselamatkan nelayan, 7 Januari silam.
Hasan merupakan satu di antara 193 etnis Rohingya yang terdampar di Sabang.
Awalnya, mereka hendak mencari kerja di Malaysia. Rencananya, mereka masuk ke Malaysia lewat Thailand. Sayangnya, sebelum rencana itu terwujud, mereka keburu ditangkap Angkatan Laut Thailand. “Selama tiga hari tiga malam, kami dipenjara oleh Angkatan Laut Thailand. Kami dipukul dan disiksa,” kata Hasan saat ditemui di Rumah Sakit Umum Sabang, akhir Januari lalu. Hasan mendapat perawatan medis akibat penyakit tuberkolosis (TBC) yang dideritanya.
Selang beberapa hari, sebuah rombongan lain terdampar di Idi, Aceh Timur. Jumlah mereka bertambah menjadi 372 orang. Mereka bagian dari 1.000 orang yang diusir Thailand dan dipaksa kembali ke laut lepas. Mereka berbondong-bondong meninggalkan Myanmar untuk mencari kehidupan yang layak dan terbebas dari penindasan yang dilakukan Junta Militer.
Sejak Junta Militer berkuasa, etnis Rohingya semakin tertindas. Mereka tidak boleh menikah, menguasai tanah, dan bepergian, termasuk tidak diperkenankan melaksanakan ajaran agama secara bebas. “Negara saya mayoritas penganut Budha, mereka tidak suka muslim. Kami tidak diperbolehkan salat di masjid. Saya selalu salat di rumah, tidak ada masjid,” kata Hassan.
Etnis Rohingya merupakan penduduk asli negara bagian Arakan di barat Myanmar. Daerah berdemografi pegunungan ini berbatasan langsung dengan India di utara, negara bagian China di timur laut, distrik Magwe dan Pegu di timur, distrik Irrawady di selatan, dan Bangladesh di barat laut. Arakan dihuni sekitar 5 juta penduduk, yang terdiri atas Rohingya yang muslim dan Rakhine/Maghs yang beragama Budha.
Etnis Rohingya sudah tinggal di Arakan sejak abad ke-7 Masehi. Ini membantah pernyataan Junta Militer yang menyebut Rohingya sebagai pendatang yang dibawa Inggris dan Bangladesh saat menjajah Myanmar. Secara fisik dan bahasa, etnis Rohingya sangat berbeda dengan kebanyakan penduduk Burma/Myanmar. Ciri-ciri fisik Rohingya lebih mendekati Bangladesh dan Arab. Ini dikarenakan etnis Rohingya merupakan keturunan dari Benggali, Persia, Mongol, dan Turki. Karenanya, saat Inggris memasukkan Arakan menjadi bagian British-Burma pada 1937, etnis Rohingya menolaknya. Mereka sebenarnya ingin bergabung dengan India. Arakan akhirnya menjadi bagian Burma merdeka pada tahun 1948. Sejak itu, hidup Rohingya kian tertindas. Mereka terusir, dianiaya, dan tak boleh melaksanakan agama dan keyakinan secara bebas.
Burma juga tidak mengundang perwakilan Islam Rohingya saat perjanjian penyatuan Burma pada 12 September 1947 di Pinlong antara Jenderan Aung San dan perwakilan dari negara bagian Burma untuk bersama-sama merebut kemerdekaan dari Inggris dan kemudian membentuk negara federasi Burma. Etnis-etnis yang ada di Burma diperbolehkan mendirikan negara bagian. Namun tidak untuk Rohingya. Negara bagian Arakan kemudian dikuasai oleh etnis Rakhin –minoritas Budha.
Sejak Junta Militer berkuasa di Burma, nasib Rohingya kian memprihatinkan. Pusat-pusat pendidikan Rohingya ditutup pada tahun 1965. Mereka semakin menderita setelah Junta Militer meloloskan Undang Undang Burma Citizenship Law of 1982. Undang Undang ini menghapus kewarganegaraan muslim Rohingya. Mereka disebut pendatang di tanah air sendiri. Sejak saat itu, mereka tak diakui lagi. Tanah-tanah mereka dikuasai negara. Mereka dilecehkan, dipukuli, dan dihukum tanpa alasan yang jelas.
Populasinya juga semakin menyusut dari tahun ke tahun. Saat ini populasi Rohingya di Myanmar diperkirakan dua juta orang, sebanyak 1,5 juta di antaranya tinggal di Arakan. Sebanyak 600.000 tinggal di Bangladesh, 350.000 di Pakistan, 400.000 di Arab Saudi, dan 100.000 di Uni Emirat Arab, Thailand, dan Malaysia.
Mulai tahun 2006, etnis Rohingya mulai melanglang buana lewat laut. Tujuan mereka ke Thailand, lalu menyeberang ke Malaysia untuk mencari kehidupan yang lebih layak.
Perjalanan via laut itu tak selalu membuahkan hasil. Di Thailand, mereka tak hanya ditolak, tapi dikejar-kejar, ditangkapi, dan dikembalikan ke laut dengan kapal tanpa mesin, makanan, dan minuman. Pada 7 Januari lalu, 193 etnis Rohingya terdampar di perairan Kepulauan Rondo, Sabang. Gelombang imigran Rohingya juga kembali ditemukan nelayan di perairan Idi Rayeuk, Aceh Timur, awal Februari lalu setelah 21 hari terombang-ambing di lautan tanpa makanan dan minuman.
Rencana pemerintah Indonesia memulangkan mereka ke Negara asal, ditolak mentah-mentah. “Kami lebih baik mati di sini. Jika kami dipulangkan, saya yakin pemerintah akan membunuh kami,” kata Nur Muhammad dalam sebuah wawancara saat dirawat di Rumah Sakit Umum Sabang. Muhammad dirawat akibat luka dalam yang diderita setelah mengalami penyiksaan di Thailand.
Hasan malah punya mimpi berangkat ke Italia. “Ingin bertemu abang saya yang telah mendapat suaka di sana,” ujar Hasan, sambil memegang dadanya yang sesak.
Diusir di negeri sendiri, mereka juga ditolak di tanah harapan. []
***
Infografis:
SEJARAH: Etnis Rohingya merupakan keturunan orang-orang Arab pada abad ke-7 yang ditaklukkan oleh Burma pada tahun 1784. Etnis ini mendiami wilayah barat Myanmar selama berabad-abad.
KARAKTERISTIK: Etnis Rohingya berasal dari Rakhine, Myanmar. Tapi ciri-ciri fisik dan bahasa lebih mirip dengan orang-orang Bengal di Bangladesh.
KEWARGANEGARAAN: Lebih dari 800.000 etnis Rohingya tinggal di Myanmar, tapi tidak diakui kewarganegaannya.
IMIGRAN TANPA WARGA NEGARA: Menghadapi penganiayaan karena mereka umat Islam yang tinggal di negara yang mayoritas beragama Budha, etnis Rohingya mengungsi ke luar negeri dalam beberapa dekade. Hampir dua juta jiwa telah membuat perkampungan baru dari Arab Saudi ke Malaysia, tempat mereka bekerja secara ilegal.
Sekita setengah juta etnis Rohingya melarikan diri dari Myanmar sejak militer mengambil tindakan keras terhadap mereka pada tahun 1978 dan 1991, kebanyakan dari mereka pindah ke Bangladesh. Banyak juga yang tinggal di pengasingan di Pakistan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Thailand, dan Malaysia.
PERJALANAN DI LAUT: Sejak 2006, Bangladesh mempersulit etnis Rohingya memperoleh paspor, jadi mereka mulai perjalanan berbahaya dengan boat ke Thailand dan kemudian menyeberang ke Malaysia untuk bekerja.
Sumber: The Associated Press
Kandas di Tanah Harapan
12:28 PMTUBUHNYA mungil. Dia tampak gesit saat memanjat kelapa. Dua butir kelapa berhasil dipetik. Belum lagi sempat memetik yang lain, seorang tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) menyuruhnya turun. Sambil memperagakan gerakan, sang tentara menyuruh lelaki itu push up. Awalnya, lelaki berkulit legam itu hanya skot jam sekali, namun si tentara menyuruhnya mengulangi gerakan push-up. Enam kali gerakan. Lelaki itu lantas memungut kelapa dan berlalu.
Dalam kerumunan, kelapa itu berpindah tangan. Seorang lelaki kurus tinggi coba mengupas dengan giginya. Sama sekali tak memakai pisau atau parang. Hanya pecahan batu. Kurang dari 15 menit, kelapa itu telah tak berkulit.
Pemandangan itu terlihat, akhir Januari lalu, di Pangkalan TNI AL Sabang. Sejak 7 Januari silam, pangkalan itu dipenuhi 193 warga etnis Rohingya, yang terdampar di perairan Pulau Rondo, 20 mil dari bibir pantai Sabang. Saat diselamatkan ke darat, kondisi mereka mengenaskan: dehidrasi akut, karena kekurangan cairan akibat 10 hari terombang-ambing di laut, tanpa makanan dan minuman.
Di penampungan itu, muslim Rohingya mengisi hari-hari dengan senam, bermain bola, catur, bulu tangkis, dan lompat tali. Sesekali, mereka dibebankan mengecat pagar Pangkalan TNI AL. Pagi –jika matahari terik, mereka "dijemur" di lapangan terbuka. Seorang tentara yang berjaga di pangkalan itu bilang, mereka dijemur karena kondisi mereka sangat lembab. Ini agar mereka tak mudah terserang biri-biri basah.
Setelah sepuluh hari terombang-ambing di laut, mereka juga tidur berdesak-desakan di penampungan. Relawan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Angkatan Laut Sabang menyediakan dua tenda masing-masing berukuran sekitar 10 x 6 meter dan 6 x 4 meter.
Untuk membunuh jenuh, relawan PMI mengatur pola hidup 'manusia perahu' itu. Mereka dibekali pemainan catur, ular tangga, halma, lompat tali, bulu tangkis, bola kaki, dan bola voli. Malam hari, mereka menonton film di layar proyektor yang disediakan relawan PMI Sabang. Khusus malam Jumat, mereka diharuskan membaca surat Yasin.
Saat ACEHKINI bertandang ke kamp penampungan mereka, akhir Januari lalu, pengungsi etnis Rohingya sedang berlaga di lapangan hijau. Mereka menjamu tim PMI. Setelah salat Asar dan makan makanan ringan, sebelas etnis Rohingya menuju lapangan upacara TNI AL. Di sana, mereka membentuk formasi.
Kaos putih bertuliskan GN-OTA dikenakan kesebelasan Rohingya. Sementara kesebelasan PMI memakai rompi berwarna biru donker dan bertuliskan PMI di belakangnya. Etnis Rohingya terbilang pandai bermain bola. Dalam tempo tak sampai 15 menit, mereka berhasil membobol gawang tim PMI. Berselang sepuluh menit kemudian, gol lain diciptakan etnis Rohingya. Sore itu, Rohingya menaklukkan tim PMI dengan skor 2-0.
***
MANUSIA perahu etnis Rohingya ini terdampar di Sabang setelah dilarung di lautan lepas oleh Angkatan Laut Thailand. Pihak otoritas negeri Gajah Putih itu menangkap, lalu menganiaya para manusia perahu. Puas menganiaya, Angkatan Laut Thailand melepaskan mereka ke laut lepas dengan boat kayu tanpa mesin. Stok makanan dan minuman tak mencukupi. Praktis, mereka hanya berharap pada angin yang akan membawa mereka ke daratan terdekat.
"Mereka menarik kami dalam boat kayu tanpa mesin. Tak ada makanan, dan minuman," kata Muhammad Hassan, satu dari 193 etnis Rohingya yang terdampar di Sabang. Saat diwawancarai ACEHKINI akhir Januari lalu, Hassan sedang mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum Sabang akibat penyakit Tuberculosis (TBC) yang dideritanya.
Hassan menceritakan kekejaman tentara Thailand saat mengusir mereka dari sebuah pulau terpencil negeri Gajah Putih itu. Saat berlabuh di selatan Thailand pada 26 Desember 2008, mereka ditangkap Angkatan Laut dan dijebloskan dalam penjara selama empat hari. Di sana, mereka mengalami penyiksaan bertubi-tubi. Ada yang dicambuk, diinjak dengan sepatu lars, dan dipukul dengan popor senapan.
Usai melampiaskan kekejamannya, tentara Thailand melepaskan etnis Rohingya ke lautan lepas. Mula-mula, empat boat yang berisi 583 muslim Rohingya itu ditarik dengan kapal otoritas Thailand. Sesampai di lautan lepas, "mereka memotong tali boat kami dan membiarkan kami terombang-ambing di laut," kata Hassan.
Boat yang membawa mereka tak besar ukurannya. Hanya 10 x 3 meter. Boat tak bermesin itu mengangkut 200 orang. Mereka berhimpit-himpitan, nyaris tak ada ruang untuk bergerak. Selama 10 hari mereka dihanyutkan gelombang tanpa tujuan. Tujuh orang tak bertahan, meregang nyawa di lautan lepas. "The oxygen will bring us to another place," kenang Hassan dalam bahasa Inggris terbata-bata. "Kami hanya bisa berdoa kepada Allah untuk menyelamatkan hidup kami."
Selama 10 hari "berkelana" di laut, mereka kerap menjumpai kapal yang melintasi jalur padat Selat Malaka. Hassan menyebutkan, mereka kerap meminta bantuan pada kapal yang lalu lalang, sambil melambaikan kain dan pakaian. Sayang, suara mereka tak terdengar. "Saat saya melihat kapal, saya berteriak minta bantuan. Tapi tak satu pun yang membantu kami," ujar pemuda berusia 22 tahun itu.
Boat yang ditumpangi Hassan bersama 192 orang lainnya merupakan bagian dari empat boat yang dilarung Angkatan Laut Thailand ke lautan lepas. Hassan dan temannya terdampar di Sabang. Satu boat lain terdampar di Pulau Andaman, India. Sementara sisanya hingga kini tak jelas juntrungannya.
Nur Muhammad, etnis Rohingya yang juga terdampar di Sabang, menyebutkan, mereka berlayar ke Thailand untuk mencari pekerjaan yang layak. Sebenarnya, persinggahan akhir mereka, Malaysia. Namun sebelum bisa menjejakkan kaki di Malaysia, mereka ditangkap tentara dan dipenjara di Ranong, Thailand Selatan.
Di negeri sendiri, menurut Muhammad, mereka tak bebas bekerja. Sebelum ke Thailand, Muhammad menyeberang perbatasan secara ilegal ke Bangladesh. Di sana, dia bekerja sebagai nelayan dan mengumpulkan uang untuk membayar "tiket" boat ke Malaysia, sekitar US$430. Dia dan temannya berlayar dengan boat kayu pada 16 Desember 2008. Celakanya, sang kapten boat sama sekali tak tahu arah tujuan mereka, hingga terdamparlah di Ranong.
Keberuntungan belum berpihak pada etnis Rohingya. Saat mencapai Thailand, mereka malah ditangkap tentara dan dipenjara, sebelum akhirnya dilepaskan ke laut dengan boat tanpa mesin, makanan, dan minuman.
"Boat yang kami tumpangi sangat jelek," kata pria berusia 37 tahun itu ketika ditemui di RSU Sabang, akhir Januari lalu. Dia mendapat perawatan medis akibat menderita sakit di pinggang dan luka dalam. "Air laut masuk dalam boat sampai selutut dan kami mulai membuang airnya. Kami hanya bisa berdoa pada Allah agar kami selamat," kata Muhammad.
Thailand dan Myanmar menolak bertanggungjawab atas kasus ini. Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva berjanji akan menyelidiki aksi yang dilakukan tentara Angkatan Laut terhadap warga Rohingya. Myanmar menyebutkan bahwa etnis Rohingya bukan warga mereka.
Undang Undang Kewarganegaraan Burma yang disahkan pada 1982 mencabut kewarganegaraan etnis muslim minoritas Rohingya. "Etnis Rohingya tidak eksis dalam (Union of Myanmar) dan mereka bukan bagian etnis pribumi Myanmar," kata pemerintah Myanmar kepada UNHCR, tahun lalu.
Saat satu tim Departemen Luar Negeri Indonesia dan International Organization for Migration (IOM) sedang memverifikasi etnis Rohingya di Sabang, satu perahu kayu tanpa mesin yang penuh manusia kembali ditemukan sebuah kapal nelayan di perairan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur. Mereka berjumlah 198 orang. Nasib mereka tak jauh beda dengan kelompok manusia perahu di Sabang. Ketika ditemukan, kondisi mereka sangat memprihatinkan.
Menurut kesaksian Rahmad, seorang manusia perahu yang ditemukan terapung di Selat Malaka, mereka sebenarnya berjumlah 220 orang. Tetapi, 22 orang telah meninggal dunia di laut setelah terombang-ambing 21 hari. Mereka juga ditarik ke tengah lautan oleh serdadu Thailand setelah tiga bulan ditahan di pulau kecil Provinsi Ranong. Ke-198 manusia perahu itu kini ditampung di Kantor Camat Idi Rayeuk.
***
DEPARTEMEN Luar Negeri Indonesia semula bersikukuh untuk tidak melibatkan lembaga PBB yang mengurus pengungsi (UNHCR), karena beralasan warga etnis Rohingya merupakan "migran ekonomi". Selain itu, ungkap pejabat Departemen Luar Negeri, ada "pengalaman buruk" dalam menangani manusia perahu dengan UNHCR.
Pejabat Departemen Luar Negeri menyatakan, akan memulangkan warga etnis Rohingya ke negaranya. Tapi karena derasnya tekanan berbagai kalangan dalam dan luar negeri, Indonesia akhirnya mengizinkan UNHCR untuk memverifikasi 391 etnis Rohingya yang terdampar di Sabang dan Idi Rayeuk, Aceh Timur.
"Kita bersedia mengikutsertakan UNHCR untuk menangani siapa yang tidak mau kembali ke negara mereka," kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri, Teuku Faizasyah, kepada International Herald Tribune. "Kita ingin melaksanakan yang terbaik untuk mencari jalan keluar kasus Rohingya."
Meski bersedia bekerja sama dengan UNHCR, pemerintah tetap tak mengizinkan pengungsi Rohingya menetap di Indonesia. Pasalnya, jika diizinkan, gelombang pengungsi etnis minoritas di Myanmar akan terus berdatangan ke Indonesia. "Negara kita bukan untuk para pengungsi," kata dia.
Pendirian pemerintah bertolak belakang dengan keinginan sejumlah kalangan di Aceh. Mereka tetap berharap agar pemerintah bersedia mengizinkan warga etnis Rohingya menetap di Aceh. Beberapa dayah sudah menyatakan kesediaan untuk menampung manusia perahu itu. Alasannya, mereka adalah saudara seiman, dan bila dikembalikan ke negaranya akan mendapat perlakuan tidak manusiawi dari junta militer Myanmar.
Jauh-jauh hari, etnis Rohingya yang terdampar itu juga menolak dikembalikan ke Myanmar, negara yang mayoritas beragama Budha. "Saya lebih baik mati di sini, dibunuh oleh orang muslim," kata Nur Muhammad. "Jika dipulangkan, saya yakin pemerintah akan membunuh kami."
Di tanah harapan, cita-cita Hassan kandas. Niat hati ingin mempunyai kehidupan lebih baik, malah berakhir terapung-apung di tengah samudera. Padahal, ia ingin mengikuti jejak sang abang yang kini menetap di Italia. "Saya tidak ingin kembali ke Myanmar. Takut, karena militer akan membunuh saya. Saya berharap agar pemerintah Indonesia mau mengirim saya ke Italia," kata Hassan. Nafasnya tersengal-sengal. [a]
Bencana di Ambang Mata
12:28 PMOleh FAKHRURRADZIE GADE
KABAR itu bak petir di siang bolong. Cahaya sama sekali tak percaya dengan hasil tes darah yang dijalani sang suami. Saat itu, dokter menyatakan suaminya, sebut saja namanya Arman, divonis mengidap virus HIV positif. Hari-hari dijalani Cahaya bagai orang putus asa. Ia kemudian menjalani tes. Hasilnya, membuat ia semakin terpuruk: Cahaya positif HIV dan AIDS. Mulanya, Cahaya marah dan menyesali hidupnya. Terlebih keluarganya shock dengan kejadian ini.
Cahaya tertular virus HIV dari sang suami, yang seorang pecandu narkotika. Saat terinfeksi, Cahaya sedang mengandung anaknya. Awal Maret lalu, dia melahirkan si buah hati. Kegembiraannya atas kehadiran bayi juga direnggut rasa was-was. Kelak di usia 18 bulan, nasib bayinya dipastikan: tertular HIV/AIDS atau tidak. “Syukurlah bila tidak, tapi bila positif kami siap menerimanya,” katanya, pasrah.
Cahaya merupakan potret orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Aceh, provinsi ujung barat Indonesia yang katanya telah memberlakukan syariat Islam secara kaffah. Ia merupakan ODHA yang mampu bertahan dan bangkit menjalani hidup normal. Sisa hidupnya diabdikan untuk berkecimpung di lembaga nirlaba yang bergerak pada upaya penanggulangan HIV/AIDS di Aceh.
Penyebaran virus mematikan itu tidak bisa dipandang sebelah mata. Data yang dilansir Dinas Kesehatan Aceh cukup membuat mata publik terbelalak. Hingga Desember tahun lalu, ada 29 kasus HIV/AIDS ditemukan di Aceh. Dibandingkan daerah lain, memang angka ini relatif kecil. Tapi, penyebaran meningkat drastis dalam empat tahun terakhir.
Kepala Seksi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Aceh dr. Abdul Fatah menyebutkan, penyebaran HIV/AIDS di Aceh terbilang cepat. Pada tahun 2004, pihaknya hanya mencatat satu kasus. Namun angka itu terus merangsek naik pertahunnya. Pada 2005 tercatat dua kasus. Di tahun 2006 ditemukan tujuh kasus, tahun 2007 (sembilan kasus). Puncaknya pada 2008 yang tercatat 10 kasus. Dari data itu, hubungan seks menjadi faktor dominan penyebaran virus mematikan itu.
Usai bencana gempa bumi dan tsunami melanda Aceh, akhir tahun 2004, banyak “pekerja kemanusiaan” dari berbagai belahan dunia datang ke Aceh. Bandingkan dengan keadaan sebelum tsunami, warga asing sulit bisa masuk ke Aceh. Tetapi, sekarang hampir setiap hari, kita bisa menemukan warga asing yang bekerja di berbagai lembaga internasional dan bergaul bersama warga Aceh.
“Aceh sekarang menjadi wilayah open area. Jadi potensi terjadinya penyebaran HIV juga semakin besar,” kata Abdul Fatah kepada ACEHKINI, medio Maret lalu.
Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Aceh giat memberikan penyuluhan dan pemahaman tentang penyakit ini. Selain penyuluhan soal bahaya AIDS, Dinas Kesehatan juga berupaya menekan stigma negatif terhadap ODHA. “Selama ini ada stigma negatif terhadap penderita HIV. Padahal, HIV tidak ditularkan melalui makan bersama, bersentuhan. Bahkan tak ditularkan melalui ciuman,” ujar Fatah.
Menurut dia, penyebaran HIV/AIDS di Aceh tidak ada sangkut pautnya dengan keberadaan pekerja asing pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Sebab, kebanyakan penderita HIV terinfeksi saat mereka berada di luar Aceh. “Setelah terinfeksi, mereka kembali ke Aceh. Dulunya mereka pernah bekerja di Batam, misalnya,” kata dia.
Pernyataan ini seperti menghibur diri. Tetapi, bagaimana menjamin para pekerja asing itu tidak membawa virus mematikan itu. Apakah sebelum mereka datang ke Aceh, pernah dilakukan tes darah bahwa pekerja asing itu tak terjangkit HIV. Bukan rahasia umum lagi kalau selama ini mereka juga sering menggelar party terbatas, yang juga diikuti warga Aceh, untuk menghilangkan penatnya bekerja.
Harus diakui, praktik prostitusi terselubung juga menjamur di daerah bersyariat ini. ACEHKINI sempat menelusuri jejaring dan lokasi pelacuran terselubung di Banda Aceh dan beberapa kota besar lain. Sejumlah salon kecantikan malah menyediakan servis plus bagi para lelaki hidung belang. Bisnis esek-esek ini juga menghinggapi kalangan remaja di Aceh. Inilah yang menyebabkan Aceh menjadi rentan dan berpotensi meluasnya penyebaran virus yang hingga kini belum ditemukan obat penawarnya.
Praktik prostitusi dan penyebaran HIV/AIDS ibarat sisi mata uang. Di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu menyebar cepat. Hal ini tak terlepas dari bebasnya praktik prostitusi. Angka pengidap HIV/AIDS pada 1997 yang hanya berjumlah satu orang, bergerak cepat dalam jangka 10 tahun. Awal Januari 2007, seperti dilaporkan Antara, di Mimika telah 1.181 warga mengidap HIV/AIDS. Mimika menyumbang 45 persen dari total kasus HIV/ADIS di Papua dan Irian Jaya Barat. Hal yang sama juga terjadi di Maluku.
Gencarnya penyebaran HIV/AIDS di Mimika karena pemerintah setempat gagal dalam menanggulanginya. Selama ini, Pemerintah Mimika hanya memberikan penyuluhan bahaya HIV/AIDS bagi warga. Namun penyuluhan ini tak disertai dengan regulasi pemerintah soal penanggulangan penyakit itu.
Kasus Mimika harus menjadi pelajaran bagi Pemerintah Aceh. Penanggulangan HIV/AIDS di Aceh butuh payung hukum tersendiri. Apalagi pascatsunami Aceh menjadi wilayah terbuka. Baby Rivona, Ketua Medan Aceh Partnership (MAP), menyebutkan, selama ini penanganan HIV/AIDS tak terlalu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Padahal, jumlah penderita di Aceh terus bertambah. Karenanya, “perlu aturan khusus,” ujar Baby.
Rencana aktivis peduli HIV/AIDS mendulang pro-kontra. Ketua Panitia Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, Amir Helmi, mempersilahkan jika ada yang ingin mengajukan draf qanun tersebut. “Selama masalah penting dan dirasa mendesak,” ujar Amir.
Ada juga pihak yang menentang rencana pembuatan qanun tersebut. Sebut saja, Khairul Amal. Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, untuk menangani kasus AIDS di Aceh tidak perlu kekhususan. Baginya, cukup diatur dalam qanun kesehatan saja.
Teungku Faisal Ali, Sekretaris Himpunan Ulama Dayah Aceh mendukung inisiatif lahirnya qanun untuk pengidap HIV/AIDS. “Ini hal positif yang perlu didukung. Meski belum lihat draftnya, saya yakin tujuannya baik, untuk menanggulangi dan menangani masalah HIV/AIDS,” ujarnya.
Menurut Faisal, HIV bukanlah masalah yang harus dihindari. Dia juga meminta masyarakat tak mengucilkan penderita penyakit mematikan itu. Sebab, kata dia, penyakit itu terjadi tak hanya karena perilaku si penderita, tapi bisa jadi karena ketidaksengajaan.
Angka jumlah penderita HIV/AID yang dipapar Dinas Kesehatan ialah data yang tercatat. Menurut prediksi WHO – badan kesehatan dunia— bila terdeteksi satu kasus, berkemungkinan 100 kasus lain terjadi. Jadi tak tertutup kemungkinan HIV positif di Aceh, yang belum diketahui, masih banyak. Nah, bila tidak segera ditangani serius, bencana baru kini mengancam di ambang mata. [a]
Xperia X2 Segera Hadir
11:33 PMSony Ericsson mengumumkan akan mengeluarkan produk teranyar, yaitu Xperia X2, Rabu (2/9). Ini merupakan produk lanjutan dari Xperia X1 yang diluncurkan pada awal 2008 lalu. Sony Ericsson mengklaim X2 lebih unggul dibandingkan X1.
Sony Ericsson mengklaim bahwa X2 ini lebih unggul dibandingkan pendahulunya. Sony membenamkan Windows Mobile versi 6,5 ke dalam X2, selain mengklaim unggul di bidang push email dan kecanggihan multimedia."Pengguna bisa secara langsung menyinkronkan surat elektronik dan kalender, membuka dan mengedit dokumen melalui Microsoft Office secara cepat dan efektif untuk tetap terhubung dengan koleganya di mana pun mereka," ujar Mattias Holm, Sony Ericsson Global Communication, dalam publikasi di situs mereka,
Holm menyebutkan, X2 mempunyai fitur slideview yang unik, yang bisa diakses secara cepat. Melalui slide ini, pengguna bisa berinteraksi dengan menu kontak, perpesanan, media.Kamera yang dibenamkan pun jauh berbeda dengan X1. Di X2, Sony membenamkan kamera beresolusi 8,1 megapixel dengan 16 kali optical zoom. Sayang, kamera ini tak mempunyai lampu flash. Keunggulan kamera X2 lainnya yaitu mempunyai penstabil gambar, blogging video, dan geo tagging. Ini semua tak dipunyai X1.
Keunggulan lain, layar sentuh X2 lebih sensitif dan fokus, Produk yang akan beredar di pasar pada kuartal ke empat tahun 2009 ini juga unggul di pemutar musik. Bbeerapa fitur, seperti speaker stereo, PlayNow, dan album gambar, tidak ditemukan di X1. Padahal, Sony Ericsson nyaris membenamkan menu PlayNow di semua telepon pintarnya.
Tak banyak fitur tambahan yang dibenamkan di X2. Bahkan di beberapa hal, X2 kalah dibandingkan pendahulunya. Sebut saja misalnya, X2 tak mempunyai radio, tidak bisa video call, tidak mempunyai Outlook Mobile, dan tidak tersedia navigasi joystik optik.
Untuk Internet, kendati sama-sama bekerja di jaringan HSPA atau 3,5 G, X2 tidak bisa mengakses RSS feed.
Pun begitu, X2 digadang-gadang unggul di bidang multimedia. Sony menawarkan pengalaman multimedia dengan layar sentuh 3,2 inci yang beresolusi tinggi dan berkualitas DVD.
"Telepon berplatform Windows ini memungkinkan pengguna untuk mengatur dunia mereka --dari kerja, rumah, atau bermain-main -- dalam satu handset," kata Stephanie Ferguson, general manager, product management Microsoft Corp. "Xperia X2 menawarkan kesempurnaan menu perpesanan, kemampuan multimedia di perangkat Windows Mobile, jadi pengguna bisa tetap berhubungan (dengan sesama), bekerja, dan menikmati hiburan di mana saja mereka berada." []