Tampilkan postingan dengan label Portal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Portal. Tampilkan semua postingan

Senin, Januari 05, 2009

Portal Foto Aceh Diluncurkan

Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar meluncurkan portal foto berita Aceh Image, Senin (5/1) di Hotel Hermes Palace Banda Aceh. Peluncuran portal yang beralamat di www.acehimage.com diwarnai dengan penyerahan penghargaan kepada sejumlah wartawan yang dinilai berperan penting dalam memberitakan konflik Aceh, tsunami, dan masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami.

Portal Aceh Image digagas oleh Abdul Kadir Jailani, pewarta foto yang bekerja untuk Harian Aceh Independen. Pria jangkung yang akrab disapa AK ini telah jauh-jauh hari menyiapkan portal ini. Pada mulanya, usaha AK Jailani ini dianggap kawan-kawannya sesama jurnalis dan pewarta foto hanya main-main. Tapi, portal yang digagas itu diupayakan serius. Kini, situs yang berwarna latar hitam itu telah dipenuhi iklan-iklan.

Selamat buat AK Jailani dan Aceh Image.

Kamis, Desember 04, 2008

Koran Merah: Tak Mendidik


Pagi ini, saya terhenyak, karena seorang kawan yang lagi baca koran Metro Aceh protes. "Dasar wartawan," kata seorang kawan. Saya yang lagi buka laptop, terhenyak. Apa gerangan nih.Kok "profesi" yang katanya mulia ini dikecam. Saya lalu nanya dan dia memperlihatkan sebuah berita yang dimuat di Harian Metro Aceh. Judulnya besar-besar. Warna merah. "Darah Perawan di Sprei Jadi Bukti, Digrebek Mahasiswi Zina di Hotel".

"Ini kayak kita baca Pos Kota saja," timpal teman yang lain.

"Seharusnya tidak dimuat seperti ini. Gak cocok dengan masyarakat kita," timpal kawan yang pertama protes.

Saya hanya bisa membela diri. "Itu wartawan yang nulis berita lagi nafsu."

Di Serambi Indonesia kemarin, saya juga mendapati berita ini. Tapi tak sevulgar yang di Metro Aceh. Di Serambi hanya disebutkan kata bercak darah di sprei dalam beritanya. Seingat saya diulang dua kali. Ini mungkin si wartawannya untuk make sure bahwa data ini penting. Pertanyaannya, apakah data ini penting sehingga harus diulang untuk kedua kalinya?

Yang di Serambi memang tak terlalu jadi persoalan, bagi saya. Tapi di Metro Aceh, kok ndak diperhalus sedikit judulnya. Apalagi di judul besar, "DIGREBEK! MAHASISWI ZINA DI HOTEL". Emang bisa yakkk, seorang dikatakan berzina, seorang diri. Ke mana pelaku zina satu lagi. BUkankah ada satu lagi si LELAKI yang juga terlibat indehoi di hotel itu?

"Masa kalau yang jelek-jelek perempuan yang ditonjolkan. Kami protes," kata teman saya, yang cewek, langsung membuang koran itu ke tong sampah.

"Kenapa yang lakinya gak dibikin di judul?" serapah dia lagi.

Saya tak bisa berkomentar. Hanya bisa senyam-senyum saja. Buat apa saya bela berita semacam itu, pikir saya. "Protes aja ke korannya. Bilang, suruh training wartawan agar nulis yang berimbang," saya lagi-lagi membela diri.

Benar-benar saya tidak bisa berkutik dengan dua teman yang kritis dalam membaca berita di media. Andai ada banyak pembaca kritis, saya yakin, media ini tak tumbuh subur. Tapi memang, segmentasi media tetap ada dan media itu akan tetap terjaga kelangsungan hidupnya.

Semoga, protes teman saya ini dibaca oleh si pembuat berita ini dan media Metro Aceh. Semoga juga, ke depan sedikit ada perubahan. Mengharapkan perubahan drastis dari media itu, memang mustahil. Karena platform media ini memang dibangun mengarah pada seks dan kriminalitas. Di manakah peran media ini untuk mencerdaskan anak bangsa?

Rabu, November 12, 2008

ACEHKINI Goes to Sabang


Sore ini, serombongan wartawan ACEHKINI bertolak ke Sabang. Pagi tadi, sempat ketinggalan kapal cepat dan lambat.

Ke Sabang, selain liburan, juga ada agenda unt liputan sejumlah objek unt edisi Desember.

Well, saya udah lama sekali tdk menginjakkan kaki di pulau terluar Indonesia itu.

Sent from my phone using trutap


Selasa, November 04, 2008

Finally...


Finally, majalah ACEHKINI terbit tepat waktu. Nantikan kehadiran edisi November pada Jumat nanti. Mengupas tuntas kepulangan Hasan M. di Tiro, bulan lalu.

Sent from my phone using trutap


Minggu, Oktober 12, 2008

Enaknya Jadi Wartawan Bule

Oleh FAKHRURRADZIE GADE
[radzie@acehkita.com]

Sejumlah wartawan lokal sempat dilarang memasuki halaman Pendopo Gubernur Aceh. Tidak ada alasan yang jelas kenapa mereka dilarang masuk. Namun, wartawan yang bertampang bule dengan mudah bisa menerobos barikade penjagaan.

Banda Aceh, acehkita.com. Pengamanan kedatangan Hasan Tiro terbilang cukup ketat. Penjagaan dari anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) berlapis. Akibatnya, wartawan yang ingin meliput kepulangan Hasan Tiro pun tak leluasa. Bahkan, banyak wartawan yang harus kehilangan momentum. Ada juga yang dikasari anggota KPA.

Pengamanan super ketat itu mulai dirasakan wartawan saat mau mengurus badge khusus meliput Hasan Tiro di KPA. Pada awalnya, pengurusan badge bagi wartawan dipusatkan di kantor Partai Aceh di bilangan Jalan Sultan Mahmudsyah. Namun belakangan, pengurusan badge dipindahkan ke markas KPA di kawasan Lampaseh.

Saat mengurus badge, selain harus menyerahkan fotokopi kartu pers dan pasfoto, wartawan juga diharuskan menyerahkan satu lembar fotokopi kartu penduduk. Seorang wartawan senior di Banda Aceh menyebutkan, pengurusan badge peliputan yang diterapkan KPA sangat berbeda dengan pengalaman mengurus izin peliputan kedatangan presiden, baik presiden Indonesia maupun presiden/perdana menteri dari negara lain, yang tidak membutuhkan KTP.

Nah, saat hari H kedatangan Hasan Tiro, pengamanan ekstra ketat memang benar-benar terjadi. Mengantongi kartu peliputan yang dikeluarkan secara resmi oleh KPA tidak banyak membantu. Reporter AFP yang hendak meliput di Bandara Sultan Iskandar Muda hampir saja tidak diizinkan masuk. “Semula saya tidak dikasih masuk dulu. Tapi untung saya menenami kawan yang wartawan bule,” katanya, kesal.

Bahkan, seorang reporter media lokal sempat diminta untuk menunjukkan kartu tanda penduduk. Padahal, reporter media itu telah menunjukkan kartu pengenal yang dikeluarkan KPA dan kartu pers. Lagi-lagi, para penjaga pintu masuk meminta sang reporter menunjukkan KTP.

Belum lagi ada perlakuan yang berbeda antara wartawan lokal, nasional, dan internasional. Sejumlah wartawan lokal sempat dilarang memasuki halaman Pendopo Gubernur Aceh. Tidak ada alasan yang jelas kenapa mereka dilarang masuk. Namun, wartawan yang bertampang bule dengan mudah bisa menerobos barikade penjagaan. Bahkan, ada wartawan asing yang malah tak bertanda pengenal yang dikeluarkan KPA.

“Besok, kita jadi bule saja, biar gampang akses,” celetuk seorang fotografer ketika tertahan di pintu masuk.

Tak hanya susah mengakses area liputan, wartawan juga tak leluasa mengabadikan momen kepulangan Hasan Tiro karena banyaknya anggota pengamanan yang wara-wiri di depan kamera para wartawan. Akibatnya, seorang fotografer yang berusaha menerobos barikade pengamanan itu mengalami tindak kekerasan.

Pewarta foto itu pada mulanya hendak mengabadikan detik-detik Hasan Tiro keluar dari badan pesawat yang membawanya pulang ke Aceh. Namun, tiba-tiba ada petugas pengamanan yang berdiri di depannya. Terang saja dia mencari lokasi lain, dengan jongkok di celah-celah barikade. Namun entah kenapa, tiba-tiba ada yang menendang wajah fotografer.

“Saya awalnya berusaha menghargai mereka, tapi saat pesawat wali datang, mereka sudah tidak menghargai saya lagi dengan berdiri di depan kamera. Makanya saya terobos,” kata sang fotografer yang tak mau disebutkan namanya itu.

Perlakuan tidak mengenakkan juga dilakukan massa yang berusaha melihat dari dekat Hasan Tiro di halaman Masjid Raya Baiturrahman. “Saya kena lemparan kursi patah. Ada juga yang kena batu,” kata seorang wartawan media lokal. [dzie]

Selasa, Oktober 07, 2008

Mendadak Batal


Kawan saya kirim sandek: "HT mendadak batalkan wawancara dg RCTI. Padahal tim sudah ada di lobbi hotel. Ada apa ya?"

Tentu pertanyaan ini sulit unt dijawab. Sebab saya tak kenal dg HT. Oya, HT adalah Hasan Tiro, presiden Aceh Sumatra National Liberation Front. Dalam bahasa sehari-hari disebut GAM.

Bagi saya, HT batalkan wawancara itu bukan berita baru. Jamak diketahui, HT memang jarang mau diinterview. Namun ini istimewa karena dia mau pulang ke Aceh, setelah 30 tahun menetap di pengasingan usai mendeklarasikan kemerdekaan Aceh pada 1976.

Tapi beruntung, media saya, ACEHKINI edisi Oktober, dapat wawancara dg HT. Saat di Malaysia kemarin, kawan saya juga sempat diterima oleh HT. Ini surprise. Ingin tau ceritanya? Simak laporan Yuswardi A. Suud langsung dari Kuala Lumpur pada edisi November nanti.

Sent from my phone using trutap


Kamis, September 15, 2005

WARTAWAN ACEHKITA DIUSIR


Para wartawan dan staf redaksi situs dan majalah acehkita diusir dari kantor di Jalan Bojonegoro, 16, Menteng, Jakarta Pusat oleh para pengelola Yayasan Acehkita, Rabu, 13 September 2005. Surat pengusiran ditandatangani oleh Otto Syamsuddin Ishak dan Debra Yatim, menyusul aksi mogok yang dilakukan para wartawan dan staf redaksi yang mempermasalahkan transparansi manajemen keuangan. Selain kedua nama di atas, para pengelola yayasan adalah Todung Mulya Lubis, Binny Buchori dan Smita Notosusanto.

acehkita.com

Selasa, Juni 28, 2005

Aceh Interaktif


Aceh Interaktif sebuah medium untuk memberitakan Aceh dari berbagai sudut pandang, tidak hanya dari sudut pandang konflik, tapi juga berusaha menggali nuansa budaya, pariwisata, dan religiusitas yang membumi di kalangan rakyat Aceh.

Situs berita Aceh Interaktif dikelola secara profesional oleh beberapa jurnalis muda di Nanggroe Aceh Darussalam. Situs ini dibangun tidak dimaksudkan untuk menyatakan keberpihakan terhadap siapa pun, kecuali untuk kebenaran dan jurnalisme.

Dalam beberapa bulan ini, situs Aceh Interaktif, masih berada dalam tahap uji coba. Karenanya, masih ditemukan kekurangan di situs ini. Kami memohon pengunjung memakluminya. Insya Allah, dalam perjalanannya, kami akan terus menata dan mengisi situs ini, sesuai harapan para pengunjung sekalian. Karena bagaimana pun, Anda adalah mitra kami. Tanpa Anda, kami tidak ada artinya.

Sekali lagi, selamat berkunjung ke situs Aceh Interaktif. Kritik Anda sangat kami harapkan.

Wassalam,
Fakhrurradzie MG (Jakarta),
Yuswardi Ali Suud (Banda Aceh)

Selasa, Mei 24, 2005

Coming Soon
Aceh Interaktif

Salam,
Kawan-kawan, dalam beberapa pekan mendatang, Aceh Interaktif dengan alamat situsnya http://www.acehinteraktif.com akan segera online. Ini merupakan pengembangan dari blog ini. Namun, saya berusaha untuk tidak menjadikan Aceh Interaktif sebagai rumah pribadi, namun bisa dijadikan rumah bagi semua orang yang ingin membaca beberapa berita Aceh.

Insya Allah, saya akan mengupdate tiap hari berita yang ada di sana.

Saleum,
Redaksi AcehInteraktif

Kamis, Februari 24, 2005

Kegalauan Media?

Media nasional dan internasional ramai memberitakan sikap baru Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang bersedia melepaskan tuntutan merdeka, yang sudah 30 tahun terakhir ini mereka perjuangkan. Sikap baru GAM itu, kata sejumlah media, dikemukakan oleh Bachtiar Abdullah, jurubicara GAM di Swedia yang hadir dalam perundingan di Helsinki, 21-23 Februari.

Kata Bachtiar Abdullah, GAM bersedia melepaskan tuntutan merdeka dengan sejumlah syarat, di antaranya [dan ini mutlak] penarikan 50,000 pasukan Indonesia yang saat ini diparkir di Aceh, untuk menggempur gerilyawan.

Selain itu, mereka juga meminta supaya ada pemerintahan sendiri (self government) di Aceh, diusut tuntas pelanggaran HAM di Aceh oleh pihak Internasional. Juga, gencatan senjata.

Belum ada respons positif dari Pemerintah Indonesia perihal tuntutan GAM ini.

Oleh media, banyak dilansir berita itu. Anehnya, bahkan GAM dikabarkan sudah menerima otonomi khusus yang ditawarkan Jakarta. Tentu, belakangan Bachtiar Abdullah membantah bahwa pihaknya menerima otonomi khusus.

Media ramai memberitakan tentang polemik GAM menerima Otsus.

***

Akibat berita ini, terjadi pro-kontra di sejumlah warga Aceh. Di milis acehkita, jurnalisme, membangun kembali aceh, kabar GAM menerima Otsus diperbincangkan secara hangat. Bahkan, dia milis acehkita, Syamaun Manyak, yang mengakunya anggota GAM, menolak keras jika pimpinan mereka di Swedia menerima otsus. Kata dia, ini adalah pengkhianatan terhadap perjuangan.

Seorang lain, yang di namanya muncul Sisingamangaraja, juga berkata demikian. Menurutnya, GAM telah berkhianat kepada rakyat Aceh.

Saya tidak tahu di kalangan GAM di lapangan sana. Bisa saja, jika benar seperti diberitakan media, sungguh akan membuat mereka terpukul.

***

Kawan saya pada pagi Rabu (23/2) menghubungi Cowell, semacam staf Humas CMI. Dia menanyakan apakah benar GAM menerima Otsus. Kata Cowell, dia tidak berani mengambil kesimpulan bahwa GAM menerima Otsus yang ditawarkan RI.

“Atas tawaran itu, saya tidak berani menyimpulkan apakah GAM bersikap lebih moderat atau tidak,” kata Cowel.

Saya mengutip acehkita, dalam perundingan kemarin, pihak GAM menegaskan bahwa pihaknya akan meniadakan permintaan merdeka asalkan delegasi RI tidak lagi menyinggung-nyinggung tentang otonomi.

Lalu, polemik itu berakhir setelah Ketua CMI Marti Ahtisari menggelar jumpa pers di Helsinki, pada pukul 15.00 waktu Helsinki atau pukul 20.00 WIB.

Martti menyatakan dalam pembicaraan tiga hari ini, tidak ada persetujuan gencatan senjata (cease fire agreement) melainkan pengaturan gencatan senjata (cease fire arrangement) yang akan dibicarakan kemudian sebagai bagian dari lima agenda yang telah disepakati untuk dibahas.

Kelima agenda tersebut adalah (1) otonomi khusus, atau yang oleh GAM disebut self-government (pemerintahan sendiri); (2) pemberian amnesti kepada anggota GAM dan tahanan politik; dan beberapa instrumen kesepakatan seperti (3) pengaturan keamanan; (4) monitoring dari penerapan kesepakatan; dan (5) kurun waktu pelaksanaan kesepakatan.

***

Ini adalah keterangan resmi dari CMI dan para pihak yang berunding. Namun, anehnya, kabar ini tidak segera menyebar di media nasional. Hingga pukul 02.50 WIB, Kamis (24/2), beberapa media online belum melansir berita ini. Padahal, konferensi pers itu digelar secara langsung melalui internet. Acehkita sendiri, menurunkan sejam setelah konferensi pers.

Besoknya, saya yakin ini menjadi HL [headline]. Koran Tempo, misalnya, menurunkan HL dengan judul GAM Ingin Pemerintahan Sendiri. Di Kompas, berita ini tidak jadi HL. Di Media Indonesia, HL-nya GAM tidak Sebut Tuntutan Merdeka.

Jadi, benarkah media berdiri pada posisi netral dalam memberitakan perundingan GAM dan RI ini? Entahlah, saya tidak terlalu mengerti.

Bagi saya, perundingan ini harus menjadi penuntas konflik di Aceh. Saya berharap, media mendorong proses ini.

Saya yakin, beberapa media nasional, ada yang memprovokasi damai.... selain media alternatif, tentunya. [r]

Jumat, Juli 30, 2004

Akurasi

"Ketidakcermatan adalah dosa wartawan."
Ungkapan itu telah akrab denganku sejak tahun 2000, jauh sebelum aku terjun dalam dunia wartawan dua tahun silam. Dari sebuah acara di TVRI aku mengetahuinya melalui "omongan" Parni Hadi, tokoh yang kukagumi melalui tulisan ringannya dalam rubrik Foolitik di Tabloid ADIL.
Namun, ungkapan itu, kembali terngiang di telingaku, dalam beberapa hari terakhir ini. Bukan berarti bahwa selama ini aku telah abai terhadap ungkapan sarat makna itu. Aku tetap ingat dan mencoba untuk menerapkannya. Yang membuat kembali terngiang, karena kecerobohanku dalam mengolah berita.
Jujur saja, dalam beritaku yang berjudul Dua Bronco Bombardir Markas GAM Aceh Besar yang dimuat di Suara Merdeka CyberNews edisi 29 Juli 2004, ada sedikit kesalahan yang menyebabkan kurangnya akurasi.
Dalam berita itu, aku menuliskan TNI memperkirakan banyak korban yang disebabkan oleh penyerangan melalui udara itu. Juga, TNI mengklaim menewaskan satu pasukan GAM dan menyita dua pucuk senjata. Narasumberku itu adalah Komandan Kodim 0101 Aceh Besar Letkol Inf Joko Warsito. Dia mengeluarkan pernyataan itu setelah aku dan kawanku menanyakan apakah dalam penggempuran itu ada korban. "Di Naga Umbang, satu GAM tewas dan dua pucuk senjata disita," katanya.
Nah, pernyataan itu aku muat. Beritaku pun, naik (muat), pada siangnya, sekitar 45 menit setelah aku mengirimkannya.
Sorenya, aku mengadakan liputan ke Kantor Gubernur Aceh, karena ada rapat evaluasi Darurat Sipil. Sambil menunggu rapat kelar, kami bicarakan seputar penyerangan TNI terhadap GAM yang mengerahkan Pesawat Tempur buatan Amerika, Bronco OV-10. Aku bilang, satu GAM tewas dan dua pucuk senjata disita.
"Ah kau. Belum ada korban," kata salah seorang kawan wartawan.
"Tapi, itu pernyataan Dandim, Bang," aku membela diri.
"Masa langsung bisa diketahui korbannya. Belum ada," katanya.
"Lalu kata Dandim, di desa Naga Umbang ada tewas," belaku lagi.
"Lha, itu kejadiannya lain. Itu akibat sergapan pasukan Raiders," dia menjelaskan.
"Wah gawat. Beritaku salah," aku mengalah setelah sadar dengan kesalahan yang baru saja kuperbuat.
"Makanya, kalau yang begituan buat beritanya hati-hati," katanya lagi, memberi nasihat yang sangat berarti bagiku.
Pasca kejadian itu, aku langsung terdiam. Termenung. Selama ini aku selalu berusaha supaya beritaku akurat. Ternyata, aku kebablasan. Aku terbayang ungkapan Parni Hadi yang kudengar 4 tahun silam. Aku teringat ungkapan Nick, Julia dan Yusuf dua bulan silam di Medan.
Aku jadi sadar, bahwa aku telah salah: abai terhadap akurasi.
Melalui media ini, aku ingin mengingatkan diriku sendiri, bahwa akurasi adalah ruh sebuah berita. Perhatikan akurasi.
"Akurasi lebih penting daripada kecepatan," kata Nick Nugent, dari BBC London.
Kejadian itu membuat jera diriku. Semoga aku semakin lebih hati-hati.
Banda Aceh, 30 Juli 2004
radzie

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting