Tampilkan postingan dengan label Greating. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Greating. Tampilkan semua postingan

Senin, Januari 26, 2009

Gong Xi Fa Cai


Siang ini, Kota Sabang ramai dari biasanya. Di sudut-sudut kota terlihat tumpukan warga. Walau ramai, tapi banyak toko tutup.

'Hari raya ya hari ini,' tanya sopir mobil yang saya tumpangi, kepada seorang Tionghoa. Yang ditanya senyum sambil mengangguk.

Di Sabang, dan juga Aceh, etnis Tionghoa hidup damai. Mereka berbaur dengan warga lain tanpa ada bentuk diskriminasi.

Gong Xi Fa Cai.

Sent from my phone using trutap


Rabu, Desember 03, 2008

Sepucuk Surat Jadul


Kemarin, saya menerima sepucuk surat dari salah seorang pekerja media. Posisinya di bagian iklan. Nah, surat yang dikirimin ke saya, dalam sepucuk kertas yang ditulis tangan. Di bawahnya, dia membubuhi tandatangan dan nomor telepon selular. Sudah lama sekali saya tidak menerima surat. Ya surat tulisan tangan. Pasalnya, sekarang kan era digital. Sarana komunikasi pun sudah canggih. Ada telepon selular, telepon fixed line (telpon rumah). Ada fasilitas email. Bahkan chatting. Tapi yang bekerja di media ini, eh malah mau konsultasi soal iklan dengan surat.

Benar-benar di luar perkiraan saya. Padahal, kalau dia mau konsultasi, ya tinggal pencet nomor ponsel saya. Ponsel tak pernah saya matikan, kecuali kalau sedang dalam kondisi habis batre. Malam pun, posisi ponsel saya dalam keadaan standby. Saya juga bisa dihubungi melalui YM, Google Talk, Windows Live Messanger. Atau, saya juga bisa dihubungi melalui sejumlah alamat email. Ada yang @yahoo.com, @gmail.com, @live.com atau @hotmail.com.

Kenapa harus melalui surat dan disampaikan melalui orang lain? Ini kayak orang pacaran saja. Saya jadi teringat waktu masih mahasiswa, enam tahun silam. Saat itu, saya belum punya telepon. Jadi, mau hubungi orangtua di kampung untuk bertukar kabar dan meminta dikirimin duit, ya harus melalui surat, yang saya titipkan di bus milik orang kampung saya.

Kalau mau pake email, orangtua saya gak punya email, gak ngerti komputer dan gak ngerti internet. Wajar, karena di zaman mereka memang belum ada internet. Tapi ini, di zaman serba canggih, internet adalah kebutuhan. Jadi, saat menerima sepucuk surat itu, saya jadi tertawa geli... Apakah ini kita kembali ke zaman dulu?

Rabu, November 12, 2008

Mengenang Seratur Hari Sang Sahabat


Malam ini, tepat 100 hari kepergian sahabat kami, Ridwan H. Mukhtar. Kawan2 di Partai Rakyat Aceh, kolega RHM, bikin acara khusus 100 hari, di Episentrum Ule Kareng. Saya berencana hadir, tp sayang, saya harus liputan ke Sabang.

Risman A. Rahman, kolega RHM, mengirimi puisi mengenang almarhum. Berikut puisinya.

"Kala mata tertuju langit, aku ingat akan senyum manismu. Kala tangan menyentuh bumi aku ingat akan kata bijakmu. Kala kaki ku gerak kan kau sapa aku dengan candamu. Disini, kala seratus hari kepergian mu, aku merinduimu teman. Tidur lah dengan nyenyak krn kala kau terjaga pasti kita kan bersua, dihamparan padang tuhan. (puisi unt sahabat ridwan) risman"

Selamat jalan sahabat.

Sabang, Rabu malam, 12 Nov.

Sent from my phone using trutap


Senin, November 03, 2008

Its Done!


Alhamdulillah, doa tujuh hari unt almarhum Abi terlaksana sudah. Terimakasih atas solidaritas, doa, dan bantuan yg telah kawan2 curahkan, terutama kawan2 jurnalis, BRR staf, dan kawan2 lain yg tak mungkin disebut satu demi satu. Tengkiyu sahabat.

Bantuan, doa, dan solidaritas jg diberikan oleh seluruh warga Desa Cot Nuran, Keumala, yg sejak jenazah tiba dari rumah sakit telah memperhatikan kami. Hari2 selama kami berkabung, mereka bahu membahu membantu keluarga kami. Para pelayat jg telah menghibur, sehingga kami tak larut dalam duka.

Ya Allah, kami tak sanggup membalas jasa mereka. Mohon catat jasa, solidaritas, doa, dan bantuan mereka sebagai amal baik mereka. Permudah segala urusan saudara kami itu ya Rabb.

Jabat erat,
Kami yg berduka,
Keluarga Besar Nyak Gade Manaf

Sent from my phone using trutap


Sabtu, Agustus 23, 2008

Kado

Oleh FAKHRURRADZIE GADE
ACEHKINI Writer

Meski tak merayakan dengan pesta, layaknya ulang tahun, kami memperoleh kado teramat istimewa di usia merangkak ini. Rekan kami, Daspriani Y. Zamzami, menjadi finalis Mochtar Lubis Award. Dia menulis “Mencari Angka dalam Jerami” pada edisi Januari 2008. Laporannya bercerita soal nasib uang para korban tsunami yang tertahan di rekening bank.

Kabar itu membuat kami bangga. Bagi media besar dan sudah lama, penghargaan ini mungkin tak berarti apa-apa. Tapi bagi kami –sebuah media daerah dan baru setahun meramaikan dunia media— penghargaan ini menjadi alat pemicu agar kami lebih giat lagi, lebih menjaga kualitas, dan tentunya lebih patuh pada jadwal terbit yang telah kami susun.

Ajang Mochtar Lubis Award baru pertama diadakan tahun ini. Penyelenggaranya Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta. Ada yang bilang, ajang MLA ini mirip-mirip penghargaan Pulitzer bagi jurnalis di Amerika Serikat. Tapi, kami tentu tak berharap setinggi itu. Kami hanya berharap, tulisan yang disajikan dalam majalah ini berkelas, berkualitas, dan mendapat tempat di hati khalayak. Hanya itu.

Menjadi finalis MLA ini membuat kami cukup bangga. Apalagi kami bisa bersebahu dengan media besar dan terkenal sekelas Kompas, Majalah Gatra, dan Pikiran Rakyat. Yang membuat kami lebih bangga, tulisan “Mencari Angka dalam Jerami” membuat para dewan juri berdebat sengit. Dua juri bilang tulisan ini layak menjadi pemenang. Tapi kami akui, masih banyak kekurangan yang menghiasi laporan yang dipersiapkan buru-buru tersebut. Karenanya, kami tak ambil pusing saat para juri memantapkan hatinya pada laporan yang diturunkan Gatra untuk kategori pelayanan publik MLA tersebut.

“Kita tak ada target menang, masuk final saja sudah cukup,” kata Yuswardi Ali Suud, pemimpin redaksi majalah ini.

Kami tak ingin hanya menerima kado. Bulan Agustus ini, kami ingin memberi kado istimewa bagi seluruh rakyat Aceh. Sejak dua bulan lalu, kami telah mempersiapkan hadiah bagi peringatan tiga tahun perdamaian. Kado itu berupa majalah edisi khusus tiga tahun damai Aceh. Dalam laporan ini, kami mengangkat banyak sisi.

Ada cerita Farid Husain, Juha Christensen, dan Mahyuddin yang jadi pelaku lapangan untuk merintis upaya perdamaian antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka. Tiga orang ini –tanpa mengurangi upaya yang dilakukan pihak lain—sejak gagalnya perundingan CoHA pada 18 Mei 2003 menyusul diberlakukannya darurat militer di Aceh, mulai melanglang buana untuk menjajaki kembali perundingan antara GAM dan RI yang bertikai selama hampir tiga dekade.

Tak hanya cerita makcomblang perdamaian, edisi kali ini juga mengupas soal janji yang terbayar dan terutang. Kita tahu, tak semua butir-butir kesepakatan yang ada dalam Pakta Damai Helsinki telah diimplementasi. Undang Undang Pemerintah Aceh sebagai jabaran MoU Helsinki, juga belum sepenuhnya diimplementasikan. Banyak utang belum tertagih, yang masih menjadi aral di usia tiga tahun damai ini. Belum lagi soal persoalan reintegrasi yang tak kunjung selesai. Ada juga berbagai insiden kekerasan yang terjadi selama tiga tahun terakhir.

Kami juga meminta tulisan dari orang yang terlibat langsung dalam perundingan Helsinki. Ada tulisan penasihat politik GAM Damiens Kingsbury, Farid Husain dari Indonesia, Mukhtaruddin Yacob (jurnalis peliput perang), M. Nur Djuli (negosiator GAM). Sejatinya, pimpinan GAM lain menulis beberapa kolom. Kami meminta dari Bakhtiar Abdullah dan Munawarliza. Kami juga meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menulis artikel khusus. Tetapi, mereka belum sempat menulisnya karena kesibukan masing-masing. Munawarliza punya masalah: tulisannya hilang akibat flashdisknya rusak.

Walaupun kami menamakannya edisi khusus perdamaian, tetapi kami tak melupakan laporan lain. Ada lifestyle soal SPA yang mulai digandrungi perempuan Aceh, ada komunitas sepeda Ontel serta laporan-laporan menarik lainnya. Beragam cerita yang kami suguhkan agar Anda, tak bosan pada majalah yang cerdas mengulas ini. [a]

Published on Saleuem, ACEHKINI, August 2008.

Kado

Oleh FAKHRURRADZIE GADE
ACEHKINI Writer

Meski tak merayakan dengan pesta, layaknya ulang tahun, kami memperoleh kado teramat istimewa di usia merangkak ini. Rekan kami, Daspriani Y. Zamzami, menjadi finalis Mochtar Lubis Award. Dia menulis “Mencari Angka dalam Jerami” pada edisi Januari 2008. Laporannya bercerita soal nasib uang para korban tsunami yang tertahan di rekening bank.

Kabar itu membuat kami bangga. Bagi media besar dan sudah lama, penghargaan ini mungkin tak berarti apa-apa. Tapi bagi kami –sebuah media daerah dan baru setahun meramaikan dunia media— penghargaan ini menjadi alat pemicu agar kami lebih giat lagi, lebih menjaga kualitas, dan tentunya lebih patuh pada jadwal terbit yang telah kami susun.

Ajang Mochtar Lubis Award baru pertama diadakan tahun ini. Penyelenggaranya Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta. Ada yang bilang, ajang MLA ini mirip-mirip penghargaan Pulitzer bagi jurnalis di Amerika Serikat. Tapi, kami tentu tak berharap setinggi itu. Kami hanya berharap, tulisan yang disajikan dalam majalah ini berkelas, berkualitas, dan mendapat tempat di hati khalayak. Hanya itu.

Menjadi finalis MLA ini membuat kami cukup bangga. Apalagi kami bisa bersebahu dengan media besar dan terkenal sekelas Kompas, Majalah Gatra, dan Pikiran Rakyat. Yang membuat kami lebih bangga, tulisan “Mencari Angka dalam Jerami” membuat para dewan juri berdebat sengit. Dua juri bilang tulisan ini layak menjadi pemenang. Tapi kami akui, masih banyak kekurangan yang menghiasi laporan yang dipersiapkan buru-buru tersebut. Karenanya, kami tak ambil pusing saat para juri memantapkan hatinya pada laporan yang diturunkan Gatra untuk kategori pelayanan publik MLA tersebut.

“Kita tak ada target menang, masuk final saja sudah cukup,” kata Yuswardi Ali Suud, pemimpin redaksi majalah ini.

Kami tak ingin hanya menerima kado. Bulan Agustus ini, kami ingin memberi kado istimewa bagi seluruh rakyat Aceh. Sejak dua bulan lalu, kami telah mempersiapkan hadiah bagi peringatan tiga tahun perdamaian. Kado itu berupa majalah edisi khusus tiga tahun damai Aceh. Dalam laporan ini, kami mengangkat banyak sisi.

Ada cerita Farid Husain, Juha Christensen, dan Mahyuddin yang jadi pelaku lapangan untuk merintis upaya perdamaian antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka. Tiga orang ini –tanpa mengurangi upaya yang dilakukan pihak lain—sejak gagalnya perundingan CoHA pada 18 Mei 2003 menyusul diberlakukannya darurat militer di Aceh, mulai melanglang buana untuk menjajaki kembali perundingan antara GAM dan RI yang bertikai selama hampir tiga dekade.

Tak hanya cerita makcomblang perdamaian, edisi kali ini juga mengupas soal janji yang terbayar dan terutang. Kita tahu, tak semua butir-butir kesepakatan yang ada dalam Pakta Damai Helsinki telah diimplementasi. Undang Undang Pemerintah Aceh sebagai jabaran MoU Helsinki, juga belum sepenuhnya diimplementasikan. Banyak utang belum tertagih, yang masih menjadi aral di usia tiga tahun damai ini. Belum lagi soal persoalan reintegrasi yang tak kunjung selesai. Ada juga berbagai insiden kekerasan yang terjadi selama tiga tahun terakhir.

Kami juga meminta tulisan dari orang yang terlibat langsung dalam perundingan Helsinki. Ada tulisan penasihat politik GAM Damiens Kingsbury, Farid Husain dari Indonesia, Mukhtaruddin Yacob (jurnalis peliput perang), M. Nur Djuli (negosiator GAM). Sejatinya, pimpinan GAM lain menulis beberapa kolom. Kami meminta dari Bakhtiar Abdullah dan Munawarliza. Kami juga meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menulis artikel khusus. Tetapi, mereka belum sempat menulisnya karena kesibukan masing-masing. Munawarliza punya masalah: tulisannya hilang akibat flashdisknya rusak.

Walaupun kami menamakannya edisi khusus perdamaian, tetapi kami tak melupakan laporan lain. Ada lifestyle soal SPA yang mulai digandrungi perempuan Aceh, ada komunitas sepeda Ontel serta laporan-laporan menarik lainnya. Beragam cerita yang kami suguhkan agar Anda, tak bosan pada majalah yang cerdas mengulas ini. [a]

Published on Saleuem, ACEHKINI, August 2008.

Selasa, Desember 04, 2007

Perayaan Ulang Tahun GAM di Aceh


GAM memperingati Milad ke-31 yang jatuh pada Selasa (4/12) secara sederhana. Di beberapa tempat, anggota GAM dan KPA menggelar doa bersama, kenduri, dan menyantuni anak yatim korban konflik. Gubernur Irwandi Yusuf ikut hadir dalam peringatan milad di Indrapuri.

Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memperingati Milad ke-31 yang jatuh pada Selasa (4/12) secara sederhana. Di beberapa tempat, anggota GAM dan Komite Peralihan Aceh (KPA) menggelar doa bersama, kenduri, dan menyantuni anak yatim korban konflik. Gubernur Irwandi Yusuf ikut hadir dalam peringatan milad di Indrapuri.

Peringatan Milad GAM di Aceh Besar dipusatkan di kompleks makam pahlawan nasional, Teungku Chik di Tiro, di Desa Meureue, Kecamatan Indrapuri. Selain itu, peringatan milad juga dilakukan anggota GAM daerah II Cot Keu-eueng, yang dipusatkan di kompleks makam Teungku Gle Iniem di Desa Krueng Kale, Kemukiman Siem, Kecamatan Darussalam. Peringatan serupa juga digelar di kawasan Lhoknga.

Di Kompleks Makam Teungku Chik di Tiro, anggota KPA dan GAM menggelar doa bersama yang dipimpin Teungku Syekh Ahmad, dan kenduri rakyat, yang dihadiri ratusan warga di sekitar lokasi peringatan.

”Ini doa bersama untuk mengenang kawan-kawan seperjuangan yang telah lebih dulu mendahului kita. Milad GAM kali ini bertujuan untuk menjaga perdamaian, bukan seperti milad sebelumnya yang diperingati dengan upacara militer dan pengibaran bendera. Hari ini, tidak satu pun bendera kita kibarkan,” kata Saifuddin bin Yahya, Wakil Ketua KPA Aceh Besar, kepada wartawan sesaat sebelum doa bersama digelar.

Dia menambahkan, peringatan milad ke-31 ini juga diisi dengan menyantuni 400 anak yatim piatu korban konflik. Per anak yatim mendapat santunan Rp150.000. Untuk kenduri, mereka menyembelih 10 ekor lembu.

Saifuddin menambahkan, peringatan milad GAM tidak mempengaruhi proses perdamaian yang sedang berlangsung. KPA juga sudah memberitahukan jauh-jauh hari peringatan ulang tahun ini kepada pihak berwenang. Bahkan, mereka menyebarkan 5.000 undangan kepada segenap lapisan masyarakat.

Di antara tamu yang diundang, termasuk Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen Supiadin AS hingga jajaran aparat keamanan di tingkat kecamatan. Di ranah sipil, KPA mengundang Gubernur Irwandi Yusuf hingga camat setempat. “Kami juga mengundang beberapa petinggi GAM, seperti mantan Juru Bicara GAM Sofyan Dawood,” kata Saifuddin.

Gubernur Irwandi Yusuf termasuk petinggi daerah yang datang pada peringatan milad GAM di Desa Meureue sekitar pukul 13.00 WIB. Irwandi mengatakan, peringatan milad GAM tidak bertentangan dengan hukum dan tidak perlu dipersoalkan.

“Silakan saja adakan, dan milad ini tidak bertentangan dengan apa pun,” kata Irwandi kepada wartawan. “Saya datang ke sini sebagai masyarakat biasa. Sebagai gubernur juga saya punya hak menghadiri acara kerakyatan seperti ini. Tidak ada persoalan. Bahkan di rombongan saya juga ada polisi, BIN, TNI.”

Irwandi datang dengan mengenakan baju kemeja merah dipadu celana hitam. Irwandi larut dalam kenduri rakyat itu. Usai salat Dhuhur, Irwandi menyempatkan diri berziarah ke Makam Teungku Chik di Tiro dan membasuh muka dengan air yang ada dalam guci di kompleks makam tersebut. Usai berziarah dan berbincang dengan petinggi GAM Aceh Rayeuk Muharram dan masyarakat setempat, Irwandi kembali ke Banda Aceh.

Selain Irwandi, tampak pula Ketua Badan Reintegrasi Damai Aceh Nur Djuli, bekas perunding GAM Amni bin Ahmad Marzuki, dan mantan Panglima GAM Aceh Rayeuk Muharram.

Yusri, 30 tahun, mantan kombatan GAM Indrapuri, mengaku senang bisa memperingati milad secara leluasa di masa damai ini. “Kami memperingati milad tanpa senjata, dan atribut GAM, tapi saya merasa sangat senang karena bisa memperingati milad secara leluasa. Tidak ada perasaan was-was,” kata Yusri kepada acehkita.com.

Mantan kombatan yang pernah ditangkap pada tahun 2000 di kawasan Blang Bintang Aceh Besar ini menambahkan, peringatan milad tahun ini diperingati dengan sederhana. Mereka telah mendapat instruksi dari Panglima GAM Muzakkir Manaf untuk tidak mengibarkan bendera GAM dan upacara militer, karena bisa mengganggu proses perdamaian.

Peringatan milad sangat penting bagi Yusri untuk mengenang rekan-rekan seperjuangannya yang meninggal dalam perang selama tiga dekade. “Saya terharu kalau mengingat teman-teman saya yang telah meninggal. Hari ini, kami mengirim doa untuk mereka,” kata Yusri yang bergabung dengan GAM pada tahun 2000 ini.

Hal senada juga dikemukakan mantan Juru Bicara GAM Aceh Besar Teungku Muchsalmina. Dia menyebutkan, momentum milad digunakan anggota GAM dan KPA untuk mengingat kembali apa yang sudah dilakukan oleh rekan-rekan mereka yang sudah meninggal.

“Sebagai masyarakat Aceh, kami harus meneruskan perjuangan mereka dengan cara menjaga dan melaksanakan MoU Helsinki dengan baik, agar perjuangan mereka tidak sia-sia,” kata Muchsalmina saat ditemui usai mengikuti peringatan milad di Gle Iniem, Desa Krueng Kale, Kecamatan Darussalam.

Seperti halnya di Desa Meureue, Indrapuri, peringatan milad di Gle Iniem juga diisi dengan kenduri, doa bersama, dan menyantuni sekitar 250 anak yatim korban konflik. Teungku Muhammad Yatim, ketua panitia milad GAM Daerah II, kepada situs ini mengatakan, momentum milad ini juga digunakan KPA daerah II untuk meresmikan kantor KPA Sagoe Syiah Kuala yang berpusat di Lingke.

Secara umum, kondisi Aceh aman, kendati banyak pihak di Jakarta yang khawatir GAM akan mengibarkan bendera bulan bintang pada hari jadinya. Tidak ada insiden apa pun pada saat peringatan milad.

Pantauan acehkita.com di dua kecamatan basis GAM, yaitu Cot Keu-eueng, Kecamatan Kuta Baro, dan Desa Meureue, Kecamatan Indrapuri, warga menjalankan aktivitasnya secara normal. Di pasar Cot Keu-eueng, pemilik toko berjualan seperti biasa. Tidak ada raut ketakutan dan kecurigaan saat ada pendatang yang masuk ke wilayah itu.

Sementara itu, personel KPA Kota Sabang juga memperingati milad dengan doa bersama dan kenduri untuk anak yatim yang dipusatkan di kantor KPA yang ada di Kota Sabang. [efmg]

Kamis, Desember 15, 2005

Testi buat Tim AirPutih

Sebagaimana namanya, AirPutih seakan menjadi oase di tengah “kegelapan” informasi saat koneksi Internet di Aceh terputus akibat humbalang tsunami akhir Desember tahun lalu. Ini bukan untuk memuji, tapi memang itulah kenyataan yang saya rasakan.

Sebagai pekerja di media online (www.acehkita.com), saya harus tersambungkan dengan koneksi Internet selama 24 jam. Sebenarnya, itu tidak menjadi masalah, karena kantor saya memang tersambungkan dengan koneksi wireless. Namun, kendala justru mencul di lapangan: di mana hampir 40-an kontributor kami bekerja di Aceh.

Praktis, setelah dihumbalang tsunami, Banda Aceh, Calang, Meulaboh, dan Pidie, menjadi daerah yang terisolasi. Tidak ada yang bisa berkomunikasi ke sana. Kontributor acehkita.com pun akhirnya tidak bisa berkirim kabar berita tentang kejadian mahadahsyat di Aceh, karena memang koneksi Internet putus total, setelah kota rusak.

Baru hari ketiga, jalur komunikasi telepon di Banda Aceh mulai berdenyut. Melalui telepon, segala perkembangan dilaporkan kontributor ke Jakarta. Alhamdulillah, dalam beberapa hari setelah itu, koneksi Internet mulai tersambungkan. Semua kontributor acehkita.com sudah bisa mengirimkan foto dan berita melalui Internet.

Nah, keberadaan AirPutih, semakin dirasakan saat kami mengutus seorang wartawan ke Calang, Aceh Jaya. Melalui koneksi Internet yang disediakan AirPutih pula, reporter kami di sana bisa melaporkan berbagai perkembangan setelah tsunami.

Di Banda Aceh, kontributor kami juga menggunakan fasilitas yang disediakan AirPutih. Apalagi, kemudian antara acehkita.com dan Aceh Media Center, terjalin semacam kerjasama informal.

Selama pindah ke Banda Aceh, saya menggunakan jasa AirPutih untuk meng-upload berbagai berita ke acehkita.com. Namun, kadang-kadang, ada sedikit masalah dengan koneksi. Sebab, tak jarang koneksi AirPutih macet dan down. Saya tidak tahu ini apa kendalanya. Tapi, biasanya kawan-kawan di AirPutih Banda Aceh cepat tanggap, kok.

Baru-baru ini saya pergi ke Calang, Aceh Jaya. Di sana ada kantor AirPutih. Namun, sayang beberapa warga yang saya tanyai, tidak mengetahui apa itu AirPutih. Dan, yang membuat saya bingung, yang tidak tau AirPutih itu, ya tiga Security (kalau dulu dibilang Satpam, biar keren dikit pakai bahasa Inggris aja dah; security) di UN-WFP. Padahal, ternyata markas AirPutih itu, ya di depan markas UN-WFP, hehee.

Sebagai pengguna jasa AirPutih gratisan, saya berharap, aktivis AP menghibahkan peralatan ini ke mereka yang tidak berpikiran komersil.

Fakultas Ekonomi Unsyiah, Banda Aceh, 14 Desember 2005.

CATATAN: Dibuat sebagai testimoni bagi tim AirPutih yang telah bekerja maksimal memulihkan koneksi Internet di Aceh pascatsunami. Mereka akan keluar dari Aceh pada akhir tahun ini. Koneksi Internet wifi gratisan pun, terancam tidak bisa digunakan lagi.

Rabu, November 02, 2005

Indahnya Bermaaf-maafan


SELAMAT IDUL FITRI Posted by Picasa

"Kesalahan mata karena melihat, telinga karena mendengar, kaki karena berjalan, tangan karena memegang/meraba, hidung karena mencium, lidah karena berucap/bertutur, kesalahan akal karena berpikir (yang bukan-bukan), dan kesalahan hati karena syak wasangka/iri/dengki/sombong."

Untuk itu, mohon diperbanyak maaf atas apa yang telah kulakukan dengan anggota tubuhku itu.

"Uhanni-ukum bi 'Idil Fitri. Minal Aidzin wal Faidzin. Kullu 'Aamin wa Antum bi Khairin."

Banda Aceh, 2 November 2005
Fakhrurradzie

Selamat Idul Fitri 1426 H


BAITURRAHMAN - RADZIE/ACEHINTERAKTIF Posted by Picasa

”Al insaanu makaan al khatthaa-u wa al nisya”. (Manusia tak luput dari salah dan lupa).

Benar. Manusia memang mempunyai sifat yang sering berbuat salah dan lupa. Karena itu, selama mengarungi hidup ini, tak terhitung lagi berapa kesalahan dan kelupaan yang telah diperbuat manusia. Namun, kata Nabi Muhammad, sebaik-baik manusia adalah yang sadar akan kesalahannya, dan mau meminta maaf atas kesalahan dan kelupaan yang telah diperbuatnya.

Selama kita berkawan, aku tidak bisa mengitung lagi seberapa banyak dosa, salah, dan lupaku yang telah kuperbuat kepada kawan-kawan, baik melalui ketajaman lidah, kekerasan tangan dan kaki, maupun syak wasangka yang disiratkan hatiku, yang tidak bisa diketahui orang lain.

Jika kuhimpun segala salahku, niscaya aku malu menjadi manusia. Karena itu, melalui momen hari raya Idul Fitri 1426 Hijriah kali ini, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada kawan-kawan.

“Taqabba allahu minna wa minkum. Eidun mubaarak, wa kullu ‘aamin wa antum bi khair.” Minal Aidzin wa al Faaizin.

Banda Aceh, 1 November 2005
Fakhrurradzie MG

Sabtu, Agustus 13, 2005

Terimakasih, Kawan

Kawan-kawan yang baik, saya hanya ingin mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan yang telah diberikan, sehingga saya bisa menerima kejadian ini.

Alhamdulillah, beberapa hari lalu abang saya yang mengalami musibah, sudah kembali membuka usahanya. Kami sekeluarga sangat berterimakasih atas dukungan yang diberikan.

Demikian,

Saleum dari Aceh yang insya Allah akan damai
Radzie

Selasa, Januari 25, 2005

Berhentilah Mengutuk Orang Aceh

Oleh: Abdullah Alamudi*, 2005-01-24 19:32:16

SETIAP orang sekarang bicara soal Aceh. Semua orang kunjungi Aceh. Dari yang tulus untuk sampaikan sumbangan, relawan yang mengangkat mayat di antara puing, menyelam ke dalam kali mengeluarkan jenazah, sampai yang culas, mengalihkan bantuan kemanusiaan ke pasar dan mereka yang bertujuan komersial, menghitung-hitung proyek apa dan mana bakal masuk proposalnya.

Di antara mereka ada pula orang awam, ulama dan kiyai yang serta-merta menjatuhkan vonis: Tuhan memberi cobaan kepada Orang Aceh. Tuhan telah memperlihatkan kekuasaanNya bagaimana Dia menghancurkan kemaksiatan! Subhanallah.

Siapakah orang-orang ini? Apa hak mereka menghukum Orang Aceh yang sedang menderita ini?

Rupanya mereka adalah orang-orang tuli yang butahati. Mereka adalah orang-orang yang tak melihat betapa penderitaan Orang Aceh bahkan sebelum lahir. Mereka orang-orang tuli yang tidak mendengar jeritan Orang Aceh bahkan jauh sebelum republik ini berdiri. Orang Aceh sudah teraniaya dan dianiaya sejak zaman VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie), zaman Hindia Belanda, zaman Inggris, zaman Belanda, pendudukan Jepang, zaman Republik.

Mereka ditipu oleh pemerintah Orde Lama, dilibas oleh Orde Baru, diperkosa di zaman DOM (Daerah Operasi Militer), diinjak-injak oleh GAM, dan sekarang di bawah Darurat Militer dan Sipil.

Maka apakah hak orang-orang itu menjatuhkan vonis bahwa Tuhan menjatuhkan cobaan pada Orang Aceh karena di Serambi Mekkah itu terjadi terlalu banyak maksiat? Bukankah pusat maksiat itu dalam segala gradasinya ada di kota-kota seperti Jakarta, Medan atau Surabaya?

Malaikat yang berdiri di sebelah kiri Anda itu dengan notebook Pentium 20 (teknologi manusia baru sampai Pentium 4), mengeluhkan memori komputernya tidak cukup besar untuk menghitung dosa orang.

Tuhan tidak salah dan tidak pernah salah menjatuhkan hukuman. Tuhan menimbulkan gempa dan mendatangkan tsunami karena Dia tak tahan lagi melihat penderitaan Orang Aceh. Tuhan tak kuasa mendengar jeritan Orang Aceh. Tuhan menangis melihat Orang Aceh beriba-iba memohon pertolonganNya supaya segera membebaskan mereka dari beban hidup.

Tuhan tak bisa lagi menahan kepedihan hatinya ketika Orang-orang Aceh menengadahkan tangan dan berseru kepada Khalik mereka, “Wa iza sa’alaka ibadi ‘anni, fa inni qarib. ‘Ujibu da’watadda-i iza da’ani. Ya Allah, Ya Mujib, Ya Arhamarrahimin, bebaskanlah kami dari segala kesulitan yang kami hadapi …”

Mendengar permohonan itu, Tuhan menjawab dalam kepedihan, “wahai, ummat-Ku, hamba-hamba-Ku, kemarilah kalian, duduk di sini, di tempat yang mulia di sisi-Ku.” Dan dengan kekuasaanNya, Dia menggerakkan dasar lautan, menimbulkan gempa dan gelombang tsunami, yang menerjang semua di depannya dan menguras ke laut semua yang dilaluinya.

Apa yang tinggal hanyalah tubuh-tubuh tak bernyawa. Roh mereka sekarang sudah duduk di tempat yang mulia di sisi Tuhan. Mereka adalah kesayangan Tuhan. Begitu besar cinta Tuhan kepada hambaNya itu sehingga mati mereka pun sebagai syuhada, tak perlu disembahyangi, tak wajib dimandikan, tak harus dikafani.

Mati mereka lebih mulia daripada kita yang masih hidup ini, yang tak tahu kapan, di mana dan bagaimana kita menemui ajal.

Maka wahai orang yang culas, sampaikanlah bantuan kemanusiaan itu kepada yang berhak. Dan, tuanguru agama, kiyai dan ulama, berhentilah mengutuk Orang Aceh. Mereka sudah mati sebagai syuhada dan sekarang duduk di tempat yang mulia di sisi Tuhan. [A]

*Jurnalis senior; Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo, Jakarta; Koordinator Pokja Pusat Informasi & Komunikasi untuk Aceh (PIKA).

Sabtu, Desember 25, 2004

Ultah

Bismillahirrahmanirrahim!


“Selamat Ulang Tahun, semoga panjang umur dan sukses selalu.” Begitu bunyi dua pesan pendek (sandek) yang nangkring di telepon genggam saya. Pengirimnya, Dyna Keumala dan Nani Afrida. Keduanya, kawan saya di Banda Aceh. Dyna, bekas kolega saya di Tabloid Modus. Sekarang dia bekerja sebagai penyiar Radio Prima FM. Sementara Nani Afrida, kawan saya yang bekerja di The Jakarta Post. Dia koresponden TJP di Banda Aceh.

Saya membalas sandek itu dengan mengucapkan terimakasih atas perhatian yang mereka berikan.

Sebenarnya, saya tidak terlalu menghiraukan dengan ulang tahun itu. Bagi saya, itu adalah masa peralihan dan pertambahan umur. Bagi saya itu tidak terlalu berarti, jika saya tidak mengisinya dengan hal-hal positif.

Saya tidak pernah membuat acara merayakan ulang tahun. Karena, sejak kecil memang keluarga saya tidak memperkenalkan hal-hal begituan dalam hidup saya. Kami sekeluarga, tidak pernah merayakannya. Paling, kalau ada anggota keluaga kami yang bertambah umur, ayah dan ibu mendoakan semoga diberi umur panjang, dan sukses dalam hidup, dunia dan akhirat. Itu lebih bermakna, saya anggap, ketimbang merayakannya.

Pun, saya mengenal tradisi ada ulang tahun ini, ketika saya pindah ke Banda Aceh untuk melanjutkan pendidikan tinggi saya. Di sana, kawan-kawan memperkenalkannya. Setiap ada kawan yang ulang tahun, mereka selalu membuat acara, walaupun kecil-kecilan. Ngajak kawan minum kopi atau makan mie rebus. Saya juga terbawa dengan itu. Tapi, saya juga tidak merayakannya.

Pernah di tahun 2001, ketika saya ulang tahun, kawan mengajak makan-makan di sebuah café. Terus terang, saya tidak punya uang, untuk bisa membayar makan-makan itu. Uang dalam kantong saya, hanya Rp 50 ribu. Kalau saya meladeni makan-makan, berarti saya harus puasa untuk dua minggu, sebelum bulan baru menjumpai. Saat itu saya masih dikirimi uang dari kampung, untuk biaya hidup di Banda Aceh.

Tak kuasa menolak permintaan kawan, saya akhirnya meluluhkan permintaan mereka. Apalagi, selama ini kawan-kawan selalu mengajak makan-makan, kalau mereka ulang tahun. Dengan sebuah sedan corolla hitam milik kawan, saya bersama enam kawan, berangkat ke Juju café. Kami memesan makanan dan minuman yang paling murah. Untung kawan-kawan mengerti.

Itu adalah acara pertama yang saya buat. Setelah itu, tidak ada lagi.

Di masa-masa selanjutnya, setiap ada yang ulang tahun, kawan-kawan kost saya, selalu menyediakan telor, tepung, dan pernak-pernik yang bau lainnya. Jika si “pemilik” ulang tahun lengah, maka semua peralatan itu, ber”sarang” di atas kepala kawan yang ulang tahun itu.

Pernah sih saya berlaku jahil terhadap kawan yang ulang tahun. Junaidi namanya. Dia kawan dekat saya. Usianya di atas saya. Tapi di bangku kuliah, dia adik letting. Saya mengajak dia jalan-jalan ke depan rumah. Saya dan kawan lainnya, Murdani (kami memanggil namanya Pon), sudah mempersiapkan sebutir telor mentah yang akan dipecahkan di atas kepalanya. Saya dengan memakai sarung, mengajak Junaidi jalan-jalan. Sebuah kode isyarat dengan tangan, saya lambaikan ke arah si Pon.

Sambil berlari, Murdani memecahkan telor di atas kepala Junaidi. Saya menghindar, supaya pecahan itu tidak mengenai saya. Dia terkejut. Tapi tidak marah. Kejadiannya, pukul 22.00 WIB.

Di lain waktu, saya dan kawan-kawan di rumah, mengerjai Rizal. Dia kami mandikan dengan air “tujuh bau dan warna” di tengah malam buta. Dia menggigil. Tapi dia tidak marah. Di lain waktu, saya dikerja kawan-kawan di rumah. Tapi, saya tidak separah yang mereka alami. Hanya sebutir telor yang pecah di atas kepala saya. Itu karena saya lengah. Tapi, kami menikmati semua itu.

Di usia 24 kemarin, tidak ada yang pecah di atas kepala saya. Pada harinya, saya sibuk kerja. Pulang udah malam. Tak berapa lama, saya tertidur. Jadi mereka tidak bisa mengerjai saya.

Di usia 25 tahun, yang jatuh hari Sabtu ini, saya tidak lagi bersama kawan-kawan dekat saya. Maklum, sejak empat bulan lalu, saya pindah tugas ke Jakarta. Saya tidak bisa menemukan kejahilan kawan-kawan yang membuat senang. Biasanya, suara tawa Junaidi yang melengking, senyuman Murdani yang rada malu-malu, “petuah” Rizal yang bak orangtua, membuat saya senang. Mereka tidak lagi berada di dekat saya. Biasanya, kalau malam menjelang, kami sering menghabiskan malam di bawah pohon jambu yang ada dekat kamar Murdani, sembari cerita dan cet langet (berangan-angan). Juga, membicarakan masalah percintaan…

Tapi, tak apalah. Di Jakarta, saya bisa berteman dengan kawan-kawan baru saya, yang sangat baik-baik.

Ulang tahun yang jatuh bertepatan dengan Hari Natal ini, juga diprakarsai kawan-kawan. Saya sebenarnya tidak hendak merayakannya.

“Kak, Radzie ulang tahun,” kata Maimun kepada Kak Ita, setelah membaca sebuah imel yang saya kirim. Imel itu berisi kartu nama elektronik dari Plaxo.

Dia lalu mengumumkan pada semua isi kantor. Maimun mengajak malam itu juga, untuk makan-makan. Tapi saya bergeming. Karena memang belum sampai tanggalnya.

“Bakar ikan aja,” kata Bang Risman. Dia bos saya di kantor.

“Ide yang bagus,” batin saya, sembari mengiyakan.

Bakar ikan, tidak banyak menghabiskan uang, pikir saya lagi.

Pagi tadi, saya meminta Bang Jol untuk membeli ikan dan tetek bengek lainnya. Dia membeli ikan tongkol. Kami membakar di belakang kantor.

Maimun dan Tuahta, banyak membantu untuk menghidupkan api. Kak Ita dan Diana, mengurus ikan dan membuat bumbu. Bang Joe, membeli panggang. Bang Jol, mencari perlatan yang belum cukup.

Ikan sudah siap untuk dibakar. Api belum juga nyala. Bara untuk memanggang ikan, belum ada. Maimun terlihat marah-marah. Dia kecapaian, menyiasati api. Tuah mondar-mandir. saya berdiri di dekat pembakaran, mulai pesimis. Jam waktu makan siang, hampir tiba. Usaha menghidupkan api, beberapa kali dicoba, gagal.

“Wah, payah api ini,” kata Maimun.

Kak Ita, Tuah dan saya hanya bisa memandang onggokan arang yang masih belum terbakar. Padahal, minyak sudah banyak kami habiskan. Bang Joe marah-marah, apinya belum nyala. Dia lalu membantu menghidupkan api. Tidak membuahkan hasil. Dia membuat bumbu untuk ikan bakar kesukaannya.

Kak Ita, menyuruh Tuah mencari minyak tanah. Maimun belum juga bisa menghidupkan api. Segala usaha telah ia lakukan.

Dua liter minyak tanah, dibeli. Maimun menumpahkan ke dalam arang. Sebutir korek kayu, dilemparkan ke dalam arang. Api menyembul, mengeluarkan asap hitam ke udara.

“Langit-langit ini sudah hitam,” kata Tuah.

Kami hanya memandangi saja. Tidak berkomentar.

Kali ini, nyala api sudah membesar. Tapi, Maimun masih pesimis, api akan menjadikan arang menjadi bara yang bisa memanggang ikan-ikan itu. dia terus mencoba menghidupkan api. Tak berapa lama, usahanya berhasil. Arang-arang tidak lagi hitam. Dia berubah memerah. Pertanda ikan siap diletakkan di atasnya.

Satu, dua, tiga, empat….sampai tujuh ikan, diletakkan di atas panggang. Ia mengipas-ngipas api, supaya memanas.

“Pake kipas angin aja,” kata saya.

Kak Ita mengambil kipas angin. Tuah mencari wayer. Klop. Sekarang Maimun bisa tertawa girang. Dia berhasil memerahkan arang hitam menjadi panas tak tertahankan.

Satu per satu ikan menghitam. Baunya menusuk hidung. Perut semakin keronconga, lapar tak tertahankan. Maimun masih setia memegang kipas angin, mengipas-ngipas ke semua penjuru api. Tak berapa lama, satu per satu ikan dipindahkan ke piring. Bang Risman, ikut membantu. Ia menjaga ikan bakar, sampai benar-benar bisa dimakan.

Wuih! Saya senang. Maimun riang. Kak Ita, juga tak kalah senang dibanding kami berdua. Kami segera beranjak ke dapur, mengambil piring dan nasi.

“Ini ala kadarnya,” kata saya kepada si bos. Si bos yang saya maksud adalah, Dandhy Dwi Laksono.

“Terimakasih. Selamat ulang tahun ya,” kata Dandhy, sembari menjabat tangan saya.

“Thanks.”

Saya makan sampai puas.

“Selama di Jakarta, baru kali ini saya makan banyak,” kata saya kepada Kak Ita dan Diana, yang duduk di hadapan saya.

***

Kami semua senang, acara syukuran kecil-kecilan ini, bisa berhasil. Padahal perasaan saya sempat dag-dig-dug.

Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada kawan-kawan yang sudah membantu. Tanpa mereka, saya tidak bisa sesenang hari ini.

Ya Allah, panjangkan umurku. Berkahkan umurku ini, dengan amal kebaikan!
***

Sebuah sandek kembali mampir ke ponsel saya. "Met ultah ya! Bukan umur yang panjang, tapi amal plus prestasi yang banyak." Pengirimnya, MH. Saya sering memanggilnya Murizal. Dia bekerja sebagai koresponden Sinar Harapan di Banda Aceh. Sandek itu bisa menjadi pengingat, sekaligus cambuk untuk saya introspeksi diri. [r]

Rabu, Juli 28, 2004

Hari Benci Anak?

Kemarin, Selasa (27/7), saya meliput di kantor Gubernur Aceh. Paginya, saya datang. Ternyata ada peringatan Hari Keluarga Nasional. Saya dan beberapa wartawan lainnya, terlambat datang. Abdullah Puteh, sedang membacakan amanat peringatan itu. Hampir semua pegawai negeri sipil di jajaran Pemda Aceh, datang. Halaman depan kantor gubernur, dipenuhi PNS. Juga dari ibu-ibu PKK. Di barisan depan, peserta upacara, terlihat rapi. Di belakang, pegawai itu, banyak yang duduk-duduk. Ibu-ibu PKK, juga banyak yang duduk, sambil mengobrol.
“Wah, gubernur lagi pidato, bawahannya, gak ada yang peduli,” kata saya kepada Yuswardi. Dia hanya mengangguk.
Saya tidak terlalu dengar pesan Gubernur Puteh. Karena, saya datang bukan untuk liputan Hari Keluarga Nasional itu. Saya dan kawan wartawan lainnya, datang untuk meminta keterangan Puteh, soal penolakan gugatan praperadilan dirinya terhadap KPK. Jadi, saya tidak terlalu dengar apa yang diomongkan Puteh.
Usai pidato, wawancara Puteh. Dia bicara lancar, soal Hari Keluarga Nasional. Pas giliran pertanyaan ke soal Puteh, ia enggan menjawabnya.
Banyak wartawan yang kecewa karena Puteh tidak mau “umbar” pernyataan. Padahal, ia dikenal sangat suka bicara kepada wartawan. Wartawan memutuskan untuk menunggu di depan kantor megah itu. Hampir satu jam menunggu, tak juga Puteh kunjung tiba turun lagi. Sebagian pulang. Lama-lama, tak terlihat lagi wartawan di sana. Saya pun, memutuskan pulang.
Kembali ke acara peringatan Hari Keluarga. Usai acara, para ibu-ibu PKK yang dikomandoi Marlidan Abdullah Puteh, naik becak hias keliling kota Banda Aceh. Semua ibu-ibu PKK ikut serta. Becak dihiasi dengan umbul-umbul. Pokoknya meriah. Ada tulisan ini dan itu.
“Banyak anak, banyak masalah.” Begitu bunyi salah satu “spanduk” kecil di becak mesin. Terbuat dari kain warna biru. Tulisannya, merah.
Tak berapa lama, datang becak lainnya.
“Sedikit anak, sedikit masalah.” Kompak!
Saya tercengung melihat dua spanduk itu. Saya mengurut dada.
Saya teringat, semasa Sekolah Dasar dulu, saya direcoki dengan kata-kata: “Banyak anak, banyak rezeki”. Ironis, pikir saya.
Saya langsung teringat. Ini adalah program keluarga berencana, untuk mengurangi populasi penduduk Indonesia yang sudah mencapai 120 juta lebih itu.
Lalu, kenapa mesti memusuhi anak-anak, dengan membatasi kelahiran? Bukankah anak-akan itu tidak minta dilahirkan? Apa salah mereka? Orang tua kan yang sangat ngebet cetak anak, siang dan malam. Kalau tidak dapat jatah, malah jajan. Nah giliran dapat anak, e malah susah.
Ini, saya pikir, sudah tidak sehat lagi persaingan untuk hidup di dunia. Masa orang tua-tua masih bias hidup. Untuk melanggengkannya, menyebarkan provokasi banyak anak banyak masalah itu.
“Kalau memang tidak bisa bersaing, jangan hidup lagi. Mati saja. Kan sudah lama, tinggal di dunia,” begitu kata-kata tidak senang yang akan dikeluarkan anak-anak.
Kenapa sih membatasi kehidupan? Tua muda, anak-anak, kan sama saja. Punya hak untuk hidup. Ingat, yang tua itu bersumber dari anak-anak. Jangan sok dan angkuh deh. Nanti kalau sudah tua bangka, yang ngasuh itu yang muda-muda dan anak-anak.
Anak-anak jendela mata telinga para malaikat. Kesayangan. Jangan dibenci. Pesan, saya. Juga pesan lainnya.
Ini, bagi saya, adalah Hari Kebencian Anak.
Sedih dan ironis!
radzie

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting