Rabu, Januari 26, 2005

CATATAN HARIAN 1
Tsunami: Semoga Bukan Kado Ulang Tahun

SABTU, 25 Desember 2005. Syukuran kecil-kecilan kami adakan di kantor. Saat itu, kawan-kawan meminta ditraktir atas bertambahnya usia saya yang ke-25. Saya memenuhinya dengan membeli ikan laut. Hari itu kami membakar ikan. Bukan pesta besar laiknya orang merayakan ulangtahun. Saya tidak kuasa, dan memang tidak mempunyai niat untuk merayakan ultah. Karena, orangtua saya tidak pernah memperkenalkan tradisi yang demikian. Saya tidak menyesal, malah bangga.

Acara itu lenyap, seiring matinya bara api di pembakaran. Tempurung kelapa yang kami gunakan, lenyap tak berbekas. Acara kami sudahi, menjelang pukul 15.00 WIB. Tak ada seremoni selain itu. Kecuali, saya memanjatkan doa kepada Tuhan, atas perpanjangan umur ini.

Menjelang dinihari pada Sabtu itu, seorang kawan dekat saya, Dyna, mengirimi pesan pendek mengucapkan selamat ulang tahun. Saya tidak menyangka, itu pesan pendek yang terakhir dari Dyna Keumala. Sampai saat ini, saya tidak bisa menghubungi dia. Dan, tidak mendapat kabar dari dia. Gelap!

Dyna tinggal di kawasan Surin, dekat kampus Universitas Iskandar Muda (Unida). Daerah itu termasuk salah satu kawasan yang sangat parah kerusakannya.

***

Di pagi Minggu, ketika bersiap-siap ke Gelora Bung Karno di Senayan, saya dikabari ada gempa di Medan dan Aceh. Saya cuek aja, karena berpikir itu imbas dari Medan.

“Sudah ada yang kirim laporan gempa di Aceh?” tanya Murizal, melalui sambungan telepon. Tidak biasanya dia menelepon saya menggunakan telepon rumah.

“Belum,” jawab saya, sembari menuruni tangga lantai dua kantor saya.

“Dahsyat gempanya. Sambungan HP, putus total,” katanya.

“Nanti saja Bang. Saya mau pergi.”

Saya menutup HP dan melangkah pergi. Satu kardus majalah saya angkat. Rencananya akan dijual di sana. Tuahta, siap memasarkan majalah kepada warga Aceh yang hadir dalam acara Halal bi Halal warga Aceh se-Jabotabek dan Banten di Senayan. Hadir dalam acara itu, Wapres Jusuf Kalla dan Wagub Aceh Azwar Abubakar.

Saya memasukkan kardus berisi majalah ke dalam bagasi taksi yang telah dicater Tuah. Nada terima sandek, berbunyi dari HP saya.

Sebuh SMS mengabarkan ada gempa, saya terima dari Dandhy D Laksono, bos saya. Lama saya memandangi SMS itu. Saya bimbang. Pergi ke Senayan, atau kembali duduk di depan komputer.

“Saya nggak jadi pergi,” kata saya pada Tuah. “Nanti menyusul.”

Saya berpikir, saya bisa mengerjakan satu tulisan, setelah itu langsung meluncur ke Senayan.

Gagang telepon saya raih. Saya memencet nomor HP Murizal. Tak bisa dihubungkan. Sebuah nomor yang tadi digunakan Murizal, saya gunakan untuk menghubungi dia. Beruntung, masih bisa dihubungi.

“Gempa tadi sangat dahsyat,” kata dia. “Orang-orang banyak yang berkumpul di luar rumah. gempanya besar sekali. Di Lampriet, jembatan agak turun.”

Saya masih menganggap itu biasa. Belum ada bayangan dan perkiraan bahwa itu gempa besar yang belakangan, mematikan tanah tempat saya besar.

Informasi saya kumpulkan dari Murizal.

Tak puas, saya menghubungi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Mata Ie, Banda Aceh. Masih juga bisa disambung. “Saya dengar Aceh diguncang gempa?” tanya saya kepada seorang petugas BMG.

“Iya, gempanya kuat,” kata Yasir, petugas BMG.

Menurut Yasir, gempa mengguncang Aceh sejak pada pukul 07.59 WIB, Gempa susulan sampai saat ini masih terjadi. “Sampai sekarang (pukul 09.00 WIB –red.), kawat pencatat gempa masih jalan,” lanjutnya.

“Berapa skala pada Riechter?”

“Kita belum bisa mengetahui skala-nya. Gempa ini berkisar antara 6 sampai 7 Modified Mercalli Intensity (skala yang bisa dirasakan),” balasnya.

Ketika saya menanyakan kerusakan yang ditimbulkan gempa, Yasir belum bisa memberikan informasinya. “Kami belum menerimanya.”

Perbincangan saya dengan Murizal dan Yasir dari BMG, terjadi antara pukul 08.45 hingga 09.05 WIB. Setelah merasa informasi yang saya perlukan lengkap, saya menulis berita dengan judul, Aceh Diguncang Gempa.

Saya terus berusaha mendapatkan informasi dari kawan-kawan di Banda Aceh. Ketika saya menghubungi Murizal dan Yasir di BMG, tak ada satu pun yang tersambung. Lalu, saya menelpon dua kawan saya di Banda Aceh. Juga tidak bisa.

Tak berapa lama, saya memencet nomor Enida, kawan saya yang sudah berangkat ke Senayan. Saya meminta dia melihat nomor telepon keluarga saya di Pidie dan kawan saya di Meulaboh, yang tertera di memori HP saya. Tak tahu, kenapa tiba-tiba saya teringat Meulaboh.

Setelah mengetahui dua nomor ke Pidie dan Meulaboh, saya menelepon keduanya. Juga tidak bisa dihubungi. “Parah,” batin saya.

Hati semakin tidak tenang. Saya teringat ibu yang lagi sakit di kampung. Teringat ayah, kakak, abang dan ipar. Saya juga teringat keponakan saya yang masih kecil dan lagi lucu-lucunya.

Selain itu, saya juga teringat Sofa di Meulaboh. Dia salah satu kawan saya paling akrab. Ke mana-mana kami selalu berdua, jika tidak ditemani beberapa kawan kuliah. Dia sudah saya anggap kakak, karena memang lebih tua. Keluarga dia, sudah seperti keluarga sendiri. Terakhir saya telepon dia, ketika hari raya Idul Fitri. Saya bisa bicara panjang lebar dengan dia, ibunya, dan adiknya, Nurul.

Tak berapa lama, saya menelepon Nurul, di Banda Aceh. Dia tinggal di Desa Cadek, Aceh Besar. Desa dekat pantai. Tidak ada sambungan. Saya menelepon Adi dan Yuswardi. Nasibnya sama: tidak tersambungkan. Terakhir saya kontak dia, empat hari sebelum musibah. Ketika saya telepon, dia berada di rumah bibinya, di Desa Kajhu, yang hanya berjarak 500 meter dari bibir pantai. Setelah itu, entah mengapa saya agak jarang menelepon. Padahal, biasanya, saban malam saya menelepon dia.

Semakin sesak dada ini. Namun, belum ada perasaan apa-apa di benak. Hingga siang, saya terus menghubungi mereka, orang-orang terdekat saya. Satu-satunya jalur yang bisa saya hubungi adalah Bireuen, dan Lhokseumawe. Dari mereka, saya peroleh banyak informasi.

“Sudah 35 jenasah warga yang meninggal akibat air laut naik dan gempa yang merubuhkan rumah,” kata kawan saya di Bireuen. Dia stand by di Puskesmas Krueng Mane, Aceh Utara.

Banjir! Wah, saya tidak menyangka, gempa yang disusul banjir. Memakan korban lagi. Saat itu, saya masih saja tidak percaya demikian dahsyat akibatnya.

“Kamu lihat jenasahnya?” saya belum begitu yakin.

“Saya berdiri di antara tumpukan jenasah,” balas kawan dari ujung telepom. “Jenasah terus berdatangan.”

Apa!?!

Saya terdiam.

Hingga menjelang malam, saya masih mengontak kawan-kawan, untuk memberikan laporan tentang gempa. Belum ada kosakata tsunami pada saya saat itu. Saya terus mencari tahu, sesekali keluar menonton televisi yang terus memutar informasi gempa di Aceh. Dari siaran televisi swasta nasional itu pula, saya tahu, kerusakan parah.

Hari itu saya tutup dengan perasaan sedih. Menjelang pukul 03.00 WIB dinihari, Senin, saya beranjak ke peraduan. Saya tertidur lelap. Mata saya perih dan lelah, akibat seharian memelototi layar komputer. Belum ada kabar dari Banda Aceh, Meulaboh dan Pidie, tempat orang-orang terdekat saya berada.

Malam menenangkan saya dalam mimpi. Entah apa mimpi saya malam itu, saya pun tidak ingat, pada pagi harinya.

***

Pukul 08.30 WIB, saya baru terjaga. Guyuran air menyegarkan tubuh saya yang lelah dan penat. Mandi saya percepat.

Setelah membuah segelas teh hangat, saya meraih gagang telepon. Saya mencoba menghubungi Meulaboh, Banda Aceh dan Pidie. Masih belum bisa. Sayup-sayup, di hari kedua itu, saya mendengar kerusakan parah di Meulaboh dan Banda Aceh. Pasalnya, pusat gempa ada di dekat Pulau Simeulue dan Meulaboh.

Perasaan saya masih tenang. Saya masih bisa tertawa. Sementara kawan saya, sudah meneteskan airmata sejak hari pertama. Entah kenapa, saya masih bisa tertawa hingga hari kedua.

Sebuah SMS dari Sulaiman Tripa mampir di HP. “Saya mau ke kantormu.” Begitu bunyi SMS yang ditulis dalam bahasa Aceh. Tak berapa lama, dia muncul.

“Hancur sudah kampung kita,” ujar Sulaiman. “Tadi saudara saya menghubungi saya melalui wartel,” ujarnya.

“Wartel,” saya terheran.

“Dia pake HP Satelite.”

“Mana nomornya.”

Bergegas saya menekan angka di box telepon. Perasaan saya dag-dig-dug.

“Bapak Muhammad Ali,” ujar saya sembari memperkenalkan diri.

“Saya dengar Banda Aceh gempa dan banjir…” belum lagi habis saya bebicara, dia langsung menimpali.

“Iya, banjirnya besar sekali,” ujarnya.

Ali, warga Simpang Surabaya. Dari dia saya tahu di Banda Aceh banyak korban berjatuhan. Dan, merupakan daerah terparah dilanda gempa dan tsunami. Banyak jenasah yang belum dievakuasi, kata Ali.

“Saya yakin 2.000 orang (tewas) yang sudah dievakuasi. Saya sendiri angkat 100 mayat kemarin,” kata Ali kepada acehkita melalui telepon satelit.

Menurutnya, korban tewas terbanyak berada di sekitar Lapangan Blang Padang, yang terletak di jantung kota Banda Aceh, karena kemarin di lokasi itu ada kegiatan senam pagi rutin yang digelar setiap minggu. Di lokasi itu pula, Ali menyaksikan sejumlah korban tewas di dalam mobil karena terendam air.

“Saya perkirakan korban di situ ada 300 orang,” katanya.

Saya terdiam. Perasaan ragu masih menyelimuti. Antara percaya dengan tidak akan keterangan Ali. “Kalau kita berdiri di Lampaseh, kita udah bisa lihat laut Ulee Lheue,” kata Ali.

Saya semakin terdiam. Beberapa saat kemudian, saya sadar, bahwa sedang mewawancara. Bagaimana pun, saya harus bisa menggali pertanyaan lebih banyak dari dia. Saya singkirkan perasaan bersedih. Beberapa waktu, berhasil. Namun, keterangan yang diberikan Ali, membuat saya tidak bisa bertahan. Wawancara hampir setengah jam itu, saya sudahi. Padahal, masih banyak pertanyaan yang harus saya konfirmasi ke dia.

“Bapak itu bilang, dua reo tersangkut di pertokoan,” terang saya pada Dandhy. “Apa mungkin? Saya ragu.”

“Mungkin saja. Karena kita tidak tahu gimana kondisi di sana,” katanya.

“Atau yang ini nggak usah ditulis saja, ya. Soalnya, saya masih ragu,” lanjut saya.

“Tulis aja. Bisa saja kan kalau tsunami,” Dandhy berusaha meyakinkan saya.

Beberapa perkataan Pak Ali masih terngiang di telinga saya. “Kalau kita berdiri di Lampaseh, kita udah bisa lihat laut Ulee Lheue.”

“Ada orang yang meninggal dalam mobil.”

“Ketika saya angkat satu jenasah, di bawahnya masih tertimbun jenasah.”

Itu adalah beberapa kalimat yang masih melekat di ingatan saya. Hingga kini!

Saya mendikte hasil wawancara. Dandhy yang menulis berita. Tak berapa lama, berita pertama dari Banda Aceh itu, kelar dan tayang di situs. Untuk media online, kami salah satu media pertama yang mendapat laporan dari Banda Aceh. Saya senang. Tersungging senyum di bibir saya, yang kelu.

Sebuah perasaan sakit, hinggap di tekuk saya. Sakit menjalar hingga ke kepala. Saya tidak tahu mengapa. Beberapa saat, saya pusing, tapi tidak parah. Saya menundukkan kepala di atas kursi.

“Kenapa, Dzie?” tanya Dandhy.

“Nggak tau, tiba-tiba kepala saya sakit.”

Dalam sakit, saya terus memainkan HP. Padahal, saya tidak hendak menelepon, dan berkirim SMS. Tak ada tujuan, saya memegang HP.

“Keluargamu gimana?” tanya Dandhy.

Saya menggeleng. Sejurus kemudian, buliran airmata mengucur. Saya terus merunduk. Tangan kiri mengusap airmata yang terus mengalir. Saya keluar dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan membersihkan airmata. Itu airmata pertama saya, setelah tsunami.

Tak berapa lama, saya kembali duduk di depan komputer. Lama terbengong. Saya berusaha mengendalikan emosi, yang sudah teraduk-aduk. Untuk hari itu hingga dinihari, saya berhasil mengendalikan emosi.

Hari-hari selanjutnya, merupakan hari-hari yang berat bagi saya. Apalagi, belum ada kabar tentang keluarga di Pidie, kawan di Meulaboh, Adi, Yuswardi di Banda Aceh dan Nurul di Cadek. [bersambung]

--------
NB: Tulisan ini sudah lama saya rencanakan, namun baru malam ini saya bisa menulisnya. Tulisan ini juga merupakan satu rangkaian dengan tulisan tentang kondisi saya selama menggawangi newsroom acehkita di saat emosi saya sedang labil. Beberapa tulisan, merupakan perjalanan saya di Banda Aceh, Lhoong (Aceh Besar) dan Pidie.

Selasa, Januari 25, 2005

Berhentilah Mengutuk Orang Aceh

Oleh: Abdullah Alamudi*, 2005-01-24 19:32:16

SETIAP orang sekarang bicara soal Aceh. Semua orang kunjungi Aceh. Dari yang tulus untuk sampaikan sumbangan, relawan yang mengangkat mayat di antara puing, menyelam ke dalam kali mengeluarkan jenazah, sampai yang culas, mengalihkan bantuan kemanusiaan ke pasar dan mereka yang bertujuan komersial, menghitung-hitung proyek apa dan mana bakal masuk proposalnya.

Di antara mereka ada pula orang awam, ulama dan kiyai yang serta-merta menjatuhkan vonis: Tuhan memberi cobaan kepada Orang Aceh. Tuhan telah memperlihatkan kekuasaanNya bagaimana Dia menghancurkan kemaksiatan! Subhanallah.

Siapakah orang-orang ini? Apa hak mereka menghukum Orang Aceh yang sedang menderita ini?

Rupanya mereka adalah orang-orang tuli yang butahati. Mereka adalah orang-orang yang tak melihat betapa penderitaan Orang Aceh bahkan sebelum lahir. Mereka orang-orang tuli yang tidak mendengar jeritan Orang Aceh bahkan jauh sebelum republik ini berdiri. Orang Aceh sudah teraniaya dan dianiaya sejak zaman VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie), zaman Hindia Belanda, zaman Inggris, zaman Belanda, pendudukan Jepang, zaman Republik.

Mereka ditipu oleh pemerintah Orde Lama, dilibas oleh Orde Baru, diperkosa di zaman DOM (Daerah Operasi Militer), diinjak-injak oleh GAM, dan sekarang di bawah Darurat Militer dan Sipil.

Maka apakah hak orang-orang itu menjatuhkan vonis bahwa Tuhan menjatuhkan cobaan pada Orang Aceh karena di Serambi Mekkah itu terjadi terlalu banyak maksiat? Bukankah pusat maksiat itu dalam segala gradasinya ada di kota-kota seperti Jakarta, Medan atau Surabaya?

Malaikat yang berdiri di sebelah kiri Anda itu dengan notebook Pentium 20 (teknologi manusia baru sampai Pentium 4), mengeluhkan memori komputernya tidak cukup besar untuk menghitung dosa orang.

Tuhan tidak salah dan tidak pernah salah menjatuhkan hukuman. Tuhan menimbulkan gempa dan mendatangkan tsunami karena Dia tak tahan lagi melihat penderitaan Orang Aceh. Tuhan tak kuasa mendengar jeritan Orang Aceh. Tuhan menangis melihat Orang Aceh beriba-iba memohon pertolonganNya supaya segera membebaskan mereka dari beban hidup.

Tuhan tak bisa lagi menahan kepedihan hatinya ketika Orang-orang Aceh menengadahkan tangan dan berseru kepada Khalik mereka, “Wa iza sa’alaka ibadi ‘anni, fa inni qarib. ‘Ujibu da’watadda-i iza da’ani. Ya Allah, Ya Mujib, Ya Arhamarrahimin, bebaskanlah kami dari segala kesulitan yang kami hadapi …”

Mendengar permohonan itu, Tuhan menjawab dalam kepedihan, “wahai, ummat-Ku, hamba-hamba-Ku, kemarilah kalian, duduk di sini, di tempat yang mulia di sisi-Ku.” Dan dengan kekuasaanNya, Dia menggerakkan dasar lautan, menimbulkan gempa dan gelombang tsunami, yang menerjang semua di depannya dan menguras ke laut semua yang dilaluinya.

Apa yang tinggal hanyalah tubuh-tubuh tak bernyawa. Roh mereka sekarang sudah duduk di tempat yang mulia di sisi Tuhan. Mereka adalah kesayangan Tuhan. Begitu besar cinta Tuhan kepada hambaNya itu sehingga mati mereka pun sebagai syuhada, tak perlu disembahyangi, tak wajib dimandikan, tak harus dikafani.

Mati mereka lebih mulia daripada kita yang masih hidup ini, yang tak tahu kapan, di mana dan bagaimana kita menemui ajal.

Maka wahai orang yang culas, sampaikanlah bantuan kemanusiaan itu kepada yang berhak. Dan, tuanguru agama, kiyai dan ulama, berhentilah mengutuk Orang Aceh. Mereka sudah mati sebagai syuhada dan sekarang duduk di tempat yang mulia di sisi Tuhan. [A]

*Jurnalis senior; Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo, Jakarta; Koordinator Pokja Pusat Informasi & Komunikasi untuk Aceh (PIKA).

Sabtu, Januari 22, 2005

Geliat Baiturrahman

Jum'at (7/1). Sekitar 5.000-an warga Banda Aceh dan luar Aceh berduyun-duyun datang ke masjid termegah di Indonesia ini. Hari itu merupakan Jum'at kedua setelah tsunami menghantam Nanggroe Aceh Darussalam. Jumat pekan pertama tsunami, tak ada aktifitas di masjid ini. Pasalnya, pekarangan masjid masih berserakan jenasah, dan puing-puing reruntuhan bangunan. Tidak ada pula salat Jumat lazimnya dilaksanakan di sana dan dihadiri ribuan warga kota.

 


Hosted by Photobucket.com

Baru Jumat (7/1) itulah, Baiturrahman kembali menggeliat. Ibadah salat Jumat mulai dilaksanakan. Memang, dalam kondisi serba darurat. Jumat perdana setelah tsunami itu, selain dihadiri Pangdam Iskandar Muda, juga dihadiri Kasad Jend TNI Ryamizard Ryacudu.

 

Jum'at (14/1) lalu, giliran Wakil Presiden Jusuf Kalla menunaikan ibadah di sana. Didampingi oleh Dien Syamsuddin dan 15 duta besar negara muslim.

 

Pada Jum'at (21/1) giliran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sembahyang. Bukan salat Jumat, tapi salat Iedul Adha 1425 Hijriah, yang dirayakan dalam suasana serba memprihatinkan itu. [r]

Sabtu, Desember 25, 2004

Ultah

Bismillahirrahmanirrahim!


“Selamat Ulang Tahun, semoga panjang umur dan sukses selalu.” Begitu bunyi dua pesan pendek (sandek) yang nangkring di telepon genggam saya. Pengirimnya, Dyna Keumala dan Nani Afrida. Keduanya, kawan saya di Banda Aceh. Dyna, bekas kolega saya di Tabloid Modus. Sekarang dia bekerja sebagai penyiar Radio Prima FM. Sementara Nani Afrida, kawan saya yang bekerja di The Jakarta Post. Dia koresponden TJP di Banda Aceh.

Saya membalas sandek itu dengan mengucapkan terimakasih atas perhatian yang mereka berikan.

Sebenarnya, saya tidak terlalu menghiraukan dengan ulang tahun itu. Bagi saya, itu adalah masa peralihan dan pertambahan umur. Bagi saya itu tidak terlalu berarti, jika saya tidak mengisinya dengan hal-hal positif.

Saya tidak pernah membuat acara merayakan ulang tahun. Karena, sejak kecil memang keluarga saya tidak memperkenalkan hal-hal begituan dalam hidup saya. Kami sekeluarga, tidak pernah merayakannya. Paling, kalau ada anggota keluaga kami yang bertambah umur, ayah dan ibu mendoakan semoga diberi umur panjang, dan sukses dalam hidup, dunia dan akhirat. Itu lebih bermakna, saya anggap, ketimbang merayakannya.

Pun, saya mengenal tradisi ada ulang tahun ini, ketika saya pindah ke Banda Aceh untuk melanjutkan pendidikan tinggi saya. Di sana, kawan-kawan memperkenalkannya. Setiap ada kawan yang ulang tahun, mereka selalu membuat acara, walaupun kecil-kecilan. Ngajak kawan minum kopi atau makan mie rebus. Saya juga terbawa dengan itu. Tapi, saya juga tidak merayakannya.

Pernah di tahun 2001, ketika saya ulang tahun, kawan mengajak makan-makan di sebuah café. Terus terang, saya tidak punya uang, untuk bisa membayar makan-makan itu. Uang dalam kantong saya, hanya Rp 50 ribu. Kalau saya meladeni makan-makan, berarti saya harus puasa untuk dua minggu, sebelum bulan baru menjumpai. Saat itu saya masih dikirimi uang dari kampung, untuk biaya hidup di Banda Aceh.

Tak kuasa menolak permintaan kawan, saya akhirnya meluluhkan permintaan mereka. Apalagi, selama ini kawan-kawan selalu mengajak makan-makan, kalau mereka ulang tahun. Dengan sebuah sedan corolla hitam milik kawan, saya bersama enam kawan, berangkat ke Juju café. Kami memesan makanan dan minuman yang paling murah. Untung kawan-kawan mengerti.

Itu adalah acara pertama yang saya buat. Setelah itu, tidak ada lagi.

Di masa-masa selanjutnya, setiap ada yang ulang tahun, kawan-kawan kost saya, selalu menyediakan telor, tepung, dan pernak-pernik yang bau lainnya. Jika si “pemilik” ulang tahun lengah, maka semua peralatan itu, ber”sarang” di atas kepala kawan yang ulang tahun itu.

Pernah sih saya berlaku jahil terhadap kawan yang ulang tahun. Junaidi namanya. Dia kawan dekat saya. Usianya di atas saya. Tapi di bangku kuliah, dia adik letting. Saya mengajak dia jalan-jalan ke depan rumah. Saya dan kawan lainnya, Murdani (kami memanggil namanya Pon), sudah mempersiapkan sebutir telor mentah yang akan dipecahkan di atas kepalanya. Saya dengan memakai sarung, mengajak Junaidi jalan-jalan. Sebuah kode isyarat dengan tangan, saya lambaikan ke arah si Pon.

Sambil berlari, Murdani memecahkan telor di atas kepala Junaidi. Saya menghindar, supaya pecahan itu tidak mengenai saya. Dia terkejut. Tapi tidak marah. Kejadiannya, pukul 22.00 WIB.

Di lain waktu, saya dan kawan-kawan di rumah, mengerjai Rizal. Dia kami mandikan dengan air “tujuh bau dan warna” di tengah malam buta. Dia menggigil. Tapi dia tidak marah. Di lain waktu, saya dikerja kawan-kawan di rumah. Tapi, saya tidak separah yang mereka alami. Hanya sebutir telor yang pecah di atas kepala saya. Itu karena saya lengah. Tapi, kami menikmati semua itu.

Di usia 24 kemarin, tidak ada yang pecah di atas kepala saya. Pada harinya, saya sibuk kerja. Pulang udah malam. Tak berapa lama, saya tertidur. Jadi mereka tidak bisa mengerjai saya.

Di usia 25 tahun, yang jatuh hari Sabtu ini, saya tidak lagi bersama kawan-kawan dekat saya. Maklum, sejak empat bulan lalu, saya pindah tugas ke Jakarta. Saya tidak bisa menemukan kejahilan kawan-kawan yang membuat senang. Biasanya, suara tawa Junaidi yang melengking, senyuman Murdani yang rada malu-malu, “petuah” Rizal yang bak orangtua, membuat saya senang. Mereka tidak lagi berada di dekat saya. Biasanya, kalau malam menjelang, kami sering menghabiskan malam di bawah pohon jambu yang ada dekat kamar Murdani, sembari cerita dan cet langet (berangan-angan). Juga, membicarakan masalah percintaan…

Tapi, tak apalah. Di Jakarta, saya bisa berteman dengan kawan-kawan baru saya, yang sangat baik-baik.

Ulang tahun yang jatuh bertepatan dengan Hari Natal ini, juga diprakarsai kawan-kawan. Saya sebenarnya tidak hendak merayakannya.

“Kak, Radzie ulang tahun,” kata Maimun kepada Kak Ita, setelah membaca sebuah imel yang saya kirim. Imel itu berisi kartu nama elektronik dari Plaxo.

Dia lalu mengumumkan pada semua isi kantor. Maimun mengajak malam itu juga, untuk makan-makan. Tapi saya bergeming. Karena memang belum sampai tanggalnya.

“Bakar ikan aja,” kata Bang Risman. Dia bos saya di kantor.

“Ide yang bagus,” batin saya, sembari mengiyakan.

Bakar ikan, tidak banyak menghabiskan uang, pikir saya lagi.

Pagi tadi, saya meminta Bang Jol untuk membeli ikan dan tetek bengek lainnya. Dia membeli ikan tongkol. Kami membakar di belakang kantor.

Maimun dan Tuahta, banyak membantu untuk menghidupkan api. Kak Ita dan Diana, mengurus ikan dan membuat bumbu. Bang Joe, membeli panggang. Bang Jol, mencari perlatan yang belum cukup.

Ikan sudah siap untuk dibakar. Api belum juga nyala. Bara untuk memanggang ikan, belum ada. Maimun terlihat marah-marah. Dia kecapaian, menyiasati api. Tuah mondar-mandir. saya berdiri di dekat pembakaran, mulai pesimis. Jam waktu makan siang, hampir tiba. Usaha menghidupkan api, beberapa kali dicoba, gagal.

“Wah, payah api ini,” kata Maimun.

Kak Ita, Tuah dan saya hanya bisa memandang onggokan arang yang masih belum terbakar. Padahal, minyak sudah banyak kami habiskan. Bang Joe marah-marah, apinya belum nyala. Dia lalu membantu menghidupkan api. Tidak membuahkan hasil. Dia membuat bumbu untuk ikan bakar kesukaannya.

Kak Ita, menyuruh Tuah mencari minyak tanah. Maimun belum juga bisa menghidupkan api. Segala usaha telah ia lakukan.

Dua liter minyak tanah, dibeli. Maimun menumpahkan ke dalam arang. Sebutir korek kayu, dilemparkan ke dalam arang. Api menyembul, mengeluarkan asap hitam ke udara.

“Langit-langit ini sudah hitam,” kata Tuah.

Kami hanya memandangi saja. Tidak berkomentar.

Kali ini, nyala api sudah membesar. Tapi, Maimun masih pesimis, api akan menjadikan arang menjadi bara yang bisa memanggang ikan-ikan itu. dia terus mencoba menghidupkan api. Tak berapa lama, usahanya berhasil. Arang-arang tidak lagi hitam. Dia berubah memerah. Pertanda ikan siap diletakkan di atasnya.

Satu, dua, tiga, empat….sampai tujuh ikan, diletakkan di atas panggang. Ia mengipas-ngipas api, supaya memanas.

“Pake kipas angin aja,” kata saya.

Kak Ita mengambil kipas angin. Tuah mencari wayer. Klop. Sekarang Maimun bisa tertawa girang. Dia berhasil memerahkan arang hitam menjadi panas tak tertahankan.

Satu per satu ikan menghitam. Baunya menusuk hidung. Perut semakin keronconga, lapar tak tertahankan. Maimun masih setia memegang kipas angin, mengipas-ngipas ke semua penjuru api. Tak berapa lama, satu per satu ikan dipindahkan ke piring. Bang Risman, ikut membantu. Ia menjaga ikan bakar, sampai benar-benar bisa dimakan.

Wuih! Saya senang. Maimun riang. Kak Ita, juga tak kalah senang dibanding kami berdua. Kami segera beranjak ke dapur, mengambil piring dan nasi.

“Ini ala kadarnya,” kata saya kepada si bos. Si bos yang saya maksud adalah, Dandhy Dwi Laksono.

“Terimakasih. Selamat ulang tahun ya,” kata Dandhy, sembari menjabat tangan saya.

“Thanks.”

Saya makan sampai puas.

“Selama di Jakarta, baru kali ini saya makan banyak,” kata saya kepada Kak Ita dan Diana, yang duduk di hadapan saya.

***

Kami semua senang, acara syukuran kecil-kecilan ini, bisa berhasil. Padahal perasaan saya sempat dag-dig-dug.

Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada kawan-kawan yang sudah membantu. Tanpa mereka, saya tidak bisa sesenang hari ini.

Ya Allah, panjangkan umurku. Berkahkan umurku ini, dengan amal kebaikan!
***

Sebuah sandek kembali mampir ke ponsel saya. "Met ultah ya! Bukan umur yang panjang, tapi amal plus prestasi yang banyak." Pengirimnya, MH. Saya sering memanggilnya Murizal. Dia bekerja sebagai koresponden Sinar Harapan di Banda Aceh. Sandek itu bisa menjadi pengingat, sekaligus cambuk untuk saya introspeksi diri. [r]

Jumat, Desember 24, 2004

Geger 'Kayu Haram'

Reporter: Radzie – Jakarta

Selasa (26/10) lalu, kantor Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh di kawasan Lampriet mendadak ramai dijejali wartawan. Di salah satu ruang sempit di kantor itu, para wartawan duduk menekuri Muhammad Ibrahim, Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Bambang Antariksa, pengacara, dan Akhiruddin, Koordinator Badan Pekerja Solidaritas Gerakan Antikorupsi (SoRAK) Aceh.

Hari itu, mereka memakai bendera Kelompok Kerja Aceh Damai Tanpa Korupsi (Pokja ADTK). Isu yang diangkat adalah hilangnya 5.221,99 meter kubik kayu sitaan di Pulau Simeulue. Akibatnya, menurut mereka, negara telah dirugikan Rp 3,5 miliar.

Bambang Antariksa yang menjadi jurubicara, lancar memaparkan ihwal penyelewengan kayu yang disita Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) pada 11 Agustus 2003 silam. Dalam sebuah operasi pencegahan illegal logging di pulau penghasil kayu terbesar di Aceh itu, PDMD menyita 18.682,42 meter kubik. Oleh PDMD, kayu bulat tak bertuan itu disita menjadi milik negara.

Cerita selesai sampai di sini. Nasib kayu itupun nyaris terlupakan. Baru di penghujung darurat militer, PDMD mengalihkan kayu sitaan itu kepada Pemda Nanggroe Aceh Darussalam. Lalu, pada tanggal 14 April 2004, Gubernur Abdullah Puteh membentuk Tim Pemanfaatan Kayu Sitaan Kabupaten Simeulue dan Aceh Singkil, melalui SK Gubernur Aceh No 522.21/144/2004.

Dari namanya saja, kata Pokja Aceh Damai, tim bentukan Abdullah Puteh ini sejak semula memang tak berniat akan melelang kayu curian itu. Yang terjadi justru pengangkutan, pengolahan dan penjualan. Dan belakangan terbukti, kayu-kayu itu memang dilego tanpa lelang. Padahal, menurut UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, pasal 79 ayat (1), setiap kayu hasil sitaan harus dilelang oleh negara.

Tapi nyatanya, penjualan itu hanya didasarkan pada SK Sahnya Hasil Hutan (SKSHH) No DD 1152211 tertanggal 19 Mei 2004 oleh Dinas Kehutanan NAD cq Dinas Kehutanan Simeulue. Lalu dikuatkan oleh Abdullah Puteh, selaku PDSD saat itu, yang mengirimkan surat kepada menteri keuangan dan menteri kehutanan tentang pemutihan kayu sitaan tersebut. Surat itu bernomor 522.21/159-PDSD/2004, tanggal 28 Juni. Yang menarik, saat surat itu belum lagi sampai ke Jakarta, kayu-kayu tersebut sudah berada di Banda Aceh sejak 26 Mei.

Siapa Pembelinya?
Dalam dokumen yang diterima acehkita, proses pelegoan kayu negara itu dimulai pada Mei 2004, saat kayu-kayu itu dipindahkan dari Pulau Simeulue ke Banda Aceh melalui pelabuhan Ulee Lheue. Tahap pertama, kayu gelondongan itu dibawa dengan tug boat Panton, sebanyak 2.221,99 meter kubik. Kayu log dikirim ke alamat PT Kuala Batee Indonesia, milik seorang penguasa bernama Akmal di Jalan Tengku Chik Di Tiro, 24, Banda Aceh.

Menurut taksiran Pokja ADTK, kayu itu bernilai Rp 1,5 miliar dengan asumsi harga Rp 500 ribu per meter kubik. Anehnya, belakangan kayu yang dialamatkan ke PT Kuala Batee Indonesia itu, juga berada di lokasi CV Rahmah Furniture milik H. Anwar dan PT Budi Triksati yang beralamat di Krueng Raya, Ladong, Aceh Besar.

Nah, inilah yang menjadi masalah di kemudian hari. Selain kayu-kayu tersebut dijual tanpa melalui proses lelang, Pokja ADTK juga mencium gelagat tak baik dari perusahaan-perusahaan pembeli itu. PT Kuala Batee Indonesia misalnya, disebut-sebut sebelumnya tidak mencantumkan alamat jelas dan belum memiliki izin Perdagangan Kayu Antar-Pulau (PKAPT). Padahal, pencantuman nomor PKAPT pada SKSHH (Surat Keputusan Sahnya Hasil Hutan) adalah wajib.

Lagipula, menurut Pokja ADTK, kapal yang digunakan untuk mengangkut kayu tersebut diduga juga tak jelas juntrungannya. Menurut aturan, pengangkutan kayu antar pulau harus melalui perusahaan angkutan laut nasional yang memiliki Surat Izin Usaha Perusahaan Angkutan Laut (SIUPAL) atau Surat Izin Operasi Perusahaan Angkutan Laut Khusus (Siopsus) atau Pelayaran Rakyat (Pelra).

Silang sengkarut ini dilanjutkan pada bulan Agustus 2004, di mana sebanyak 3.000 meter kubik kayu sitaan itu kembali masuk ke Banda Aceh, dengan taksiran nilai mencapai Rp 2,02 miliar setelah ditambah Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH).

Yang lebih miris, setelah PDMD menyita kayu haram itu, kasusnya sendiri justru terkatung-katung dan tak terdengar tindak lanjut pengusutan terhadap para pihak yang terlibat. Nah, belum lagi selesai yang satu, kini ditimpali dengan kasus penjualan tanpa lelang ini.

“Kita mendorong Kajati untuk mengusut tuntas kasus ini, sampai ke pengadilan. Kita akan bantu supaya pelaku illegal logging ini ditangkap,” kata Muhammad Ibrahim, Direktur Eksekutif Walhi Aceh ketika dihubungi acehkita telepon selular, Senin (29/11).

Lalu untuk kasus penjualan zonder lelang ini, Ibrahim menaksir kerugian negara yang ditimbulkan tak hanhya mentok pada angka Rp 3,5 miliar. “Itu angka minimal yang kita hitung,” katanya.

Lalu, siapa yang harus bertanggungjawab dalam penjualan kayu tanpa lelang ini? Ibrahim mengatakan, Gubernur Abdullah Puteh dan Wakil Gubernur Azwar Abubakar adalah orang yang paling bertanggungjawab. “Mereka sangat bertanggungjawab terkait kasus ini,” tegasnya.

Dalih bahwa kucuran dana hasil penjualan kayu ilegal itu digunakan untuk operasi kemanusiaan, tak terlalu dipercaya Ibrahim. “Kalau membangun fasilitas kemanusiaan yang dana proyeknya ada, tidak boleh. Tapi kalau tidak ada dananya, silakan saja. Seharusnya, membangun rumah korban konflik, bisa menggunakan kayu ini,” katanya.

Selain menohok Puteh dan Azwar Abubakar, Pokja ADTK juga mencatat sedikitnya 15 orang yang juga harus dimintai pertanggungjawaban.

Mereka adalah Kepala Dinas Kehutanan Aceh, Ir Mustafa Hasjubullah, Ir Husni Syamaun (Kepala Sub Dinas Pengusahaan Hutan Dishut Aceh), Ir Ibnu Abbas (Kadis Kehutanan Simeulue), Hermansyah (Kepala Sub Dinas Pengusahaan Hutan Dishut Simeulue), Syamsuddin AG (staf Dishut Simeulue), dan Yuswin (staf Dishut Aceh).

Sementara di kalangan pengusaha, Pokja ADTK memasukkan Direktur PT Kuala Batee Indonesia, Akmal, sebagai pihak yang layak dimintai tanggungjawab. Selain itu, ada nama H Anwar (Direktur CV Rahmah Furniture), Direktur PT Budi Trisakti, H Datuk NG Razali (PT Panton Teungku Abadi), Reinir Aminsyah (PT Simeulue Kekal Mandiri), serta Welly Utomo (PT Simeulue Kekal Mandiri).

Masih ada lagi; Margono (PT Langkis Inti Persada), HT Burdansyah (PT Langkis Inti Persada), Nurdin Harahap (CV Angga) dan Ansaruddin (Koperasi Aurivan Bersamo).

Dibantah
Tentu saja pemerintah daerah tak tinggal diam menghadapi tudingan ini. Kepala Biro Hukum dan Humas Sekretariat Pemda Aceh, Hamid Zein mengatakan tidak benar Gubernur Abdullah Puteh dan Wagub Azwar Abubakar harus bertanggungjawab dalam kasus ini.

Kata Zein, kasus ini sudah dikelarkan melalui rapat Muspida yang dihadiri Gubernur, Wagub, Pangdam Iskandar Muda, Kapolda, Kepala Kejaksaan dan unsur BPKP. Menurut rapat itu, tidak ada masalah sama sekali mengenai penjualan kayu tersebut.

Karenanya, “Tuduhan dan data-data itu tidak benar sama sekali,” kata Hamid Zein kepada acehkita.

Lalu, bagaimana dengan penjualan tanpa lelang?

Menurut Hamid Zein, hal itu dilakukan karena pihak Pemda Aceh atau PDSD sudah mengantongi kewenangan. “Kita sudah dikasih kewenangan. Namun kewenangan itu bukan secara normal. Artinya, kewenangan itu berdasarkan UU Kedaruratan. Jadi, dari PDMD yang kemudian PDSD, sebagai turunannya, dapat menggunakan hukum darurat itu,” elaknya.

Bahkan, menurutnya, Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen Endang Suwarya juga berpendapat bahwa penjualan itu tidak ada masalah sama sekali. “Itu dalam konferensi pers sudah dikelarkan,” terangnya.

“PDSD tidak bisa sembarangan menggunakan dalih status darurat. Tindakan penguasa darurat tetap tidak dapat dibenarkan jika melanggar peraturan perundangan yang sudah ada. Maka, tindakan PDSD yang ‘melegalkan’ kayu sitaan itu dan menjualnya kepada pihak ketiga adalah Perbuatan Melawan Hukum berupa tindak pidana korupsi,” bantah Pokja ADTK. [r]


Dimuat di Majalah AcehKita Edisi Desember 2004

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting