Rabu, Oktober 14, 2009

Indian Ocean nations test tsunami warning system

By DENIS D. GRAY, Associated Press Writer

BANGKOK – Sirens blared, parents grabbed their children and hundreds ran to emergency shelters in Indonesia as countries bordering the Indian Ocean conducted a test Wednesday of a warning system set up after the devastating 2004 tsunami.

But at least one survivor was too paralyzed by memories of the killer wave to take part in mock evacuations off Aceh, Indonesia.

"What is this all for? My chest has gone tight and I am shaking," said Hamiyah, a 58-year-old woman who lost her in-laws, four children and five grandchildren in 2004.Planned for 18 countries, the drill was intended to simulate a tsunami similar to the one sparked by the 9.2 magnitude quake off Indonesia five years ago, the United Nations said in a statement.

That quake generated waves that eradicated entire coastal communities, killing some 230,000 people in one of the worst natural disasters of modern times.

"When the siren sounded, I immediately thought of my child, grabbed her and ran," said Bakhtiar, 50, who lives in the village of Gampong Pie, along the Indonesian coastline in Aceh province.

In Aceh's Ulee Lheue village, which was all but wiped out by the tsunami, about 200 residents gathered at a mosque after an explosion was sounded from loudspeakers that was meant to signal an earthquake.

Around ten minutes later a siren blared out, starting the drill.

But Hamiyah refused to take part, breaking down and staying at home, rebuilt after the disaster, with her two surviving children.

"It reminds me of the past and makes me really sad. Please stop reminding us," she said, sobbing, as people ran for quake-proof emergency shelters, some carrying the "wounded," as a voice over mosque loudspeakers urged people not to panic.

"We want to send the message to the world that we continue to improve our disaster mitigation skills," said Aceh Vice Governor Muhammad Nazar.

Dubbed "Exercise Indian Ocean Wave 09," the drill was the first comprehensive test and evaluation of the warning system put in place after the 2004 disaster, said the U.N. Educational, Scientific and Cultural Organization, or UNESCO.

It comes two weeks after a tsunami smashed into the Pacific islands of Samoa, American Samoa and Tonga, killing at least 183 people.

In Thailand, where more than 5,000 Thais and foreign tourists perished, no evacuation drill was planned but its National Disaster Warning Center was responding to the dummy telegrams, faxes and e-mails being sent out by the Hawaii-based Pacific Tsunami Warning Center, said Capt. Saran Thappasook.

In Myanmar, officials were to relay the warnings to tsunami-prone areas, said Thein Tun, director general of the Meteorological Department, while in Malayia 1,200 villagers on the northern resort island of Langkawi were directed to higher ground as firefighting trucks and ambulances ferried the elderly and pregnant women.

But in Sri Lanka's southern coastal village of Godawaya, a tsunami warning tower failed to emit a siren. Local fishermen who had stayed home to take part waited for a few hours and decided to go to work.

Later, officials manning the tower went around the village announcing a "tsunami threat" through loudspeakers and calling on residents to quickly move to a Buddhist temple on higher ground. Women who were at home gathered at the temple.

Air Force SGT M.G.A. Nandana declared the drill was still a success since they an alternative warning method was found in case the warning tower failed.

Ray Canterford, an official at Australia's Bureau of Meteorology, said ahead of the exercise that the Hawaii-based center would issue an earthquake alert to trigger the drill.

In Australia, the bureau would use the earthquake data from the tsunami warning center to calculate the size of any tsunami wave and estimate the time it will take to hit the Australian coast.

None of the warnings would go public, and no evacuations were planned in Australia, Canterford said.

Australia was not affected by the 2004 disaster, but is playing a role in the regional system to improve response times and international coordination. Australia has a network of wave height sensors along its coastline, and two deep sea sensors in waters between Australia's northwest and Indonesia, where some 130,000 were killed.

Under the system, Australia, Indonesia and India swap data on a tsunami threat, and Wednesday's drill will test how efficiently messages are sent among those countries, Canterford said.

"It's a real time event," Canterford said. "We believe that all or most of the countries in the Indian Ocean are a lot better prepared now than they were in 2004."

UNESCO said Wednesday's exercise would allow Indian Ocean countries to test their communications, review their emergency procedures and identify any weaknesses.

___

Associated Press writers Fakhrurradzie Gade in Ulee Lheue, Indonesia, and Ambika Ahuja in Bangkok contributed to this report.

Membangkitkan Trauma Tsunami

Oleh FAKHRURRADZIE GADE

DI tembok bekas pagar, Hamiyah bersandar. Tangan dan bibirnya terlihat bergetar. Pandangan ia arahkan ke sejumlah orang yang lari sambil berteriak histeris. Di depannnya, dari arah laut puluhan orang berlari ke arah gedung penyelamatan di kantor Pusat Riset Mitigasi Bencana dan Tsunami --yang terpaut sekira 300 meter dari posisi Hamiyah.

"Tujuannya apa dibuat acara seperti ini?" tanya Hamiyah kepada seorang pemuda yang mendekatinya.Hamiyah sadar, puluhan orang berlari sambil berteriak histeris adalah mereka yang terlibat dalam simulasi penyelamatan diri saat tsunami menerjang. Tapi, Hamiyah tidak ingin mengikuti simulasi tersebut.

Sejak pagi, Hamiyah mengurung diri di rumah. Ia tidak ingin melihat simulasi, yang membuatnya terkenang peristiwa Desember 2004 silam. Tsunami yang menghancurkan Aceh lima tahun silam itu, menyebabkan Hamiyah harus kehilangan 12 anggota keluarganya.

Hamiyah mengaku masih trauma. "Buat apa diingat-ingat kejadian dulu," kata Hamiyah.

Bagi Hamiyah, peristiwa tragis yang melumat 12 anggota keluarganya itu telah menjadi lembar kelam. "Saya sedih kalau mengingat kejadian itu," ujarnya.

Saat mendengar bunyi raungan sirine yang dibunyikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Banda Aceh, perempuan berusia 58 tahun itu, langsung terkejut. "Dada saya sesak," ujarnya. Tangan kirinya mengusap-usap dada. Terlihat nada gemetar di tangan dan bibirnya.

Matanya juga terlihat berkaca-kaca.

Tsunami telah menyebabkan Hamiyah kehilangan keluarga dan rumah. Bencana tsunami yang menghancurkan kampungnya, menyebabkan empat anak, lima cucu, dan tiga menantunya meninggal. Hamiyah sendiri sempat terseret arus.

"Jari kelingking saya putus," ia menunjuk tangan kirinya, yang tanpa kelingking.

Bagi Hamiyah, simulasi yang digelar ini tidak terlalu berguna. "Lihat anak-anak itu, mereka berlari-lari sambil ketawa-ketawa," ujar warga Desa Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, itu. "Mereka ria."

Hamiyah mengaku, jika bencana kembali datang, ia akan lari menyelamatkan diri ke masjid. "Tapi, kalau ada bencana, kapan kita mau lari. Dulu setelah gempa, kami melihat air laut kering. Tapi tidak ada yang suruh lari, karena tidak ada yang kasih tahu," kata Hamiyah yang mengaku tinggal bersama dua anaknya yang selamat dari humbalang tsunami tersebut.

***

Pukul 08.00 WIB. Satu ledakan keras terdengar dari arah laut. Berselang beberapa detik kemudian, ledakan keras kembali terdengar. Dari pengeras suara masjid, seorang lelaki mengabarkan bahwa telah terjadi gempa besar. Warga diminta tidak panik.

"Mari sama-sama kita berdoa dan berzikir kepada Allah. Masyarakat diharap tenang, jangan panik," suara dari pengeras suara masjid.

Peringatan itu disuarakan berulang kali. Puluhan perempuan dan lelaki -- yang membawa anak-anak balita-- berkumpul di pekarangan masjid. Sebelumnya, mereka sedang berkumpul di dalam masjid.

Sepuluh menit kemudian, raungan sirine memecahkan kesunyian. Warga diminta untuk menyelamatkan diri ke gedung penyelamatan yang berjarak sekitar 300 meter dari masjid. Lokasi penyelamatan berada di atas atap gedung Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana.

Dari arah laut, puluhan warga juga berlarian. Mereka berteriak tsunami. Kepanikan jelas diperlihatkan oleh peserta simulasi.

Kepanikan bertambah, saat ambulans membunyikan sirenenya. Petugas medis dengan sigap mengevakuasi beberapa orang yang mengalami luka akibat gempa. Mobil polisi juga siaga. Mereka mengangkut warga ke gedung penyelamatan.

Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, mengatakan, simulasi ini bertujuan untuk menguji kesiapan sistem dan kesiagaan bencana. “Skenarionya sudah berjalan,” katanya di Banda Aceh, Rabu (14/10).

Ini kali kedua simulasi tsunami dibuat di Aceh, setelah pada 2 November 2008. Pada simulasi kali ini, Kusmayanto magatakan, kesiapan system evakuasi bencana di Indonesia, khususnya Aceh mengalami kemajuan, dibanding sebelumnya. “Setelah kita uji coba, sistemnya jalan semua, komunikasi juga lancar,” ujarnya.

Wakil Gubernur Muhammad Nazar menambahkan, simulasi kali ini berjalan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). “Hanya beberapa komunikasi radio yang kurang berjalan saat kita coba dan ini akan kita perbaiki,” tuturnya.

***

Bagi Bakhtiar, warga Desa Gampong Pie, Kecamatan Meuraxa, simulasi tsunami yang digelar pemerintah ini sangat berguna. "Ini bisa membuat kita belajar dan mengetahui cara menyelamatkan diri saat ada bencana dan tsunami," kata Bakhtiar, saat ditemui di atas gedung penyelamatan tsunami. Saat mengikuti simulasi, Bakhtiar memboyong anak perempuannya.

Saat tsunami 2004 silam, Bakhtiar sedang berjualan di pasar, di Kota Banda Aceh. Sementara istri dan anaknya berada di rumah. Beruntung, tidak ada keluarga intinya yang menjadi korban dalam gelombang gergasi tersebut.

"Waktu bunyi sirene tadi, saya langsung teringat anak saya ini," kata Bakhtiar. "Saya lalu mengambilnya dan langsung bersama warga berlari ke sini."

Lain lagi pendapat Sri Mulyani. Warga Desa Ulee Lheue ini menilai simulasi yang digelar ini tak banyak berguna. "Kalau ada tsunami, secara spontan saya akan berlari mencari tempat tinggi. Tidak mesti saya harus berlari ke gedung penyelamatan. Saya akan mengikuti naluri saya," kata perempuan 39 tahun ini.

Mulyani mengaku sempat terseret arus tsunami. Anaknya yang berusia lima tahun terlepas dari genggaman suaminya. Sampai kini, anaknya itu tak ditemukan. Mulyani selamat setelah berhasil mencapai lantai dua Rumah Sakit Umum Meuraxa, yang juga rusak parah.

"Kita tidak mau tsunami terulang lagi. Cukup membuat saya trauma," kata Mulyani. []

Senin, September 28, 2009

196 Pengungsi Rohingya Kabur dari Penampungan

FAKHRURRADZIE GADE

BANDA ACEH -- Sebanyak 196 pengungsi etnis Rohingya kabur dari penampungan mereka di Kecamatan Idi Rayeuek, Aceh Timur, dan Pangkalan TNI Angkatan Laut Sabang. Umumnya, mereka kabur karena jenuh berada di pengungsian.

Informasi yang diperoleh dari Wakil Bupati Aceh Timur Nasruddin Abubakar, sebanyak 184 etnis Rohingya yang ditampung di kantor Kecamatan Idi Rayeuk melarikan diri ke Medan, sebelum akhirnya bertolak ke Malaysia. Mereka lari setelah mendapat pertolongan dari warga lokal yang menjadi calo.

Menurut Nasruddin, para pengungsi biasanya kabur pada pukul 3 atau 4 pagi, saat polisi yang bertugas di sana terlelap.

"Sekarang tinggal 14 orang lagi, dari sebelumnya 198 pengungsi yang kita tampung," kata Nasruddin Abubakar. "Terakhir, dua orang kabur pada pagi hari raya Idul Fitri lalu."

Nasruddin menyebutkan, polisi sempat mencari keberadaan para pengungsi ini. Namun tidak satu pun yang berhasil dipulangkan lagi ke penampungan.

"Tujuan mereka ke Malaysia untuk mencari kerja. Bahkan, saya dengar informasi (para pengungsi yang kabur ini) ada yang sudah mendapat kerja di Malaysia," ujar Nasruddin.

Sementara itu, 12 pengungsi etnis Rohingya yang ditampung di Pangkalan TNI Angkatan Laut Sabang juga melarikan diri pada malam lebaran.

Komandan Pangkalan TNI AL Kolonel Yanuar Handwiono menyebutkan, kaburnya 12 pengungsi ini baru diketahui saat absensi usai salat Subuh, Ahad (20/9).

"Mereka kabur dengan perahu nelayan yang ditambat dekat pangkalan. Kondisi perahunya kecil dan rusak," kata Yanuar saat dihubungi melalui telepon.

Yanuar menduga, para pengungsi melarikan diri karena mengalami depresi. "Apalagi proses (pemulangan mereka) membutuhkan waktu lama. Saat ini kita sudah mencari mereka tapi belum ketemu. Kita juga sudah menginformasikan kasus ini ke aparat kita yang ada di Aceh perairan," kata Yanuar.

Pangkalan TNI AL menampung 193 etnis Rohingya yang terdampar di Sabang pada 7 Januari lalu. Pada 3 Februari, sebanyak 198 pengungsi Rohingya lainnya terdampar di Idi Rayeuk. Etnis Rohingya mengakui bahwa mereka terdampar di perairan Aceh setelah sebelumnya dilarung tentara Thailand di laut lepas. Saat dalam perjalanan dari Bangladesh menuju ke Malaysia melalui Thailand untuk mencari pekerjaan, mereka ditangkap militer Thailand dan mengalami penyiksaan.

Pihak Imigrasi dan Departemen Luar Negeri telah mendata 391 etnis Rohingya yang terdampar di Aceh. Sebelumnya, acehkita.com melansir, Departemen Luar Negeri akan memulangkan 114 dari 391 etnis Rohingya yang terdampar di perairan Aceh ke negara asalnya. Namun, belum diketahui pasti jadwal deportasi tersebut. Sebagian di antara 391 etnis Rohingya di Aceh itu, telah ditetapkan sebagai pengungsi oleh UNHCR.

Direktur Asia Selatan dan Tengah Ditjen Asia Pasifik dan Afrika Departemen Luar Negeri Mochamad Asruchin mengatakan, 114 etnis muslim Rohingya tersebut akan dipulangkan ke Bangladesh. Pasalnya, setelah diverifikasi oleh tim Deplu, mereka terbukti sebagai warga negara Bangladesh.

"Mereka secara sukarela bersedia untuk kembali ke Bangladesh. Mereka akan dikembalikan dalam waktu dekat," kata Asruchin kepada wartawan di Banda Aceh, Senin (25/5) lalu.

Asruchin menambahkan, etnis Rohingya yang diduga berkewarganegaraan Myanmar sama sekali tidak mau dideportasi ke negaranya. Namun dia mengaku tidak tahu jumlah pasti berapa etnis Rohingya yang sudah ditetapkan sebagai refugee oleh UNHCR ini.

"Kalau saya tidak salah, UNHCR sudah masuk dan dinyatakan sebagai refugees. Itu biasanya akan dicarikan negara ketiga untuk mau menampung mereka," kata Asruchin. []

Minggu, September 27, 2009

Perusahaan Lilin Negara

HARI ini, tak terbilang sumpah serapah kukeluarkan untuk penyedia layanan listrik. Aku sering menyebutnya Perusahaan Lilin Negara sebagai kepanjangan dari PLN. Ini bukan kepanjangan yang mengada-ada. Istilah ini pertama sekali kulakabkan saat saking suntuknya karena dunia ini digelapkan oleh aksi PLN. Sungguh, saat itu berbatang-batang lilin kubakar untuk menerangi diri dan sekitar.

Hari ini, sumpah serapahku itu kubagi dengan kawan-kawan di Facebook. Aku menyebut ini jaman jahiliyah, di mana kegelapan masih mengepung diriku dan kawasan yang kudiami. Semoga, PLN diberi hidayah oleh Allah untuk mendakwahkan listriknya ke daerah kami, biar kami tidak terus menerus tinggal dalam jaman jahiliyah. Karena, bisa-bisa jaman ini akan membawa kami berhadapan dengan Qanun Zinayah. []

Kamis, September 17, 2009

Nurjannah & Qanun Jinayah

MENJELANG waktu berbuka puasa, bersama dua teman (Yo Fauzan dan Abdul Munar), saya mengunjungi Desa Lamtimpeung, Tungkop, Aceh Besar. Letaknya hanya sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh. Ke Lamtimpeung, kami ingin menunaikan amanah sejumlah pembaca acehkita.com. Sekitar dua bulan lalu, reporter acehkita.com, Riza Nasser, menurunkan liputan tentang Nurjannah, perempuan berusia 22 tahun yang menderita lumpuh layu sejak usia 4 bulan. Nurjannah terbujur kaku di atas dipan di dalam kamar sempit dan pengap. Aroma pesing merebak, hingga keluar rumah. Suasana kamar juga tak tertata. Kasur, kain, pakaian, saling bertindih: awut-awutan. Singkatnya, kamar itu sangat tak layak dihuni.

Nurjannah tinggal bersama ayah dan dua adiknya di rumah tipe 36 tersebut. Ada tiga kamar ukuran kecil yang tak terurus. Nurjannah tidur sendirian. Kamar di sebelah Nurjannah, dibiarkan kosong melompong. Ayahnya, tidur di kamar yang dekat ruang tamu. Jangan bayangkan ruang tamu dilengkapi televisi, meja dan kursi. Buang bayangan itu, karena di sana hanya ada tumpukan baju berserakan, sepeda bekas. Di dekat kamar Nurjannah, tergeletak satu kompor. Di atasnya ada penggorengan. Di sekitar kompor, cangkang telur ayam berserakan, dibiarkan bebas tergeletak di atas lantai. Rumah dicat kuning itu semi permanen.

"Binteh kadikap le kamue (dinding rumah dimakan rayap)," kata Muhammad Dehan, ayah Nurjannah. Telunjuknya mengarah ke dinding rumah.

Dehan mengurus anak-anaknya seorang diri, sejak istrinya meninggal dunia beberapa tahun silam. Ia hanya seorang pemelihara sapi suruhan orang. Kerjanya serabutan. Penghasilan sebulan paling banyak 200.000. Tinggal di pinggiran Kota Banda Aceh yang tingkat inflasinya tinggi, uang segitu sama-sekali tidak mencukupi. Apalagi untuk membiayai anak-anaknya. Tapi Dehan tak putus asa. Ia bekerja apa saja yang bisa menghasilkan rupiah.

Dua hari lalu, seorang warga yang hendak melangsungkan resepsi pernikahan memintanya menjaga sapi yang akan dipotong pada hari kenduri. Sapi agak kecil itu ditambat tak jauh dari rumahnya. Oya, sekitar 10 meter dari rumah, ada kandang kerbau atau sapi. Di sinilah, sapi-sapi peliharaannya bernaung. Bulan lalu, saat meugang puasa, Dehan menjual sapi yang dipelihara secara mawah. Mawah merupakan cara memelihara bagi hasil. Setelah modal membeli sapi dikembalikan ke pemodal, angka selisih dibagi berdua: antara dia dan pemodal.

"Misalnya harga sapi waktu dibeli itu lima juta rupiah dan waktu dijual tujuh juta, bagi hasilnya yang dua juta selisih itu," kata Dehan. "Ya dapat sejuta per orang."

Melihat kehidupan Dehan, saya kehabisan kata-kata. Betapa Ia tegar melakoni hidup dengan segudang permasalahan yang melingkupinya.

Sore itu, Dehan memakai oblong putih lengan biru. Bajunya dipakai terbalik: bagian dalam dibiarkan menjadi bagian terluar. Baju itu bukan dibeli, tapi diberi orang saat musim kampanye. Ya, baju putih berlengan biru itu atribut kampanye Susilo Bambang Yudhoyono yang berpasangan dengan Boediono. Di punggung Dehan jelas tertulis nama pasangan itu. Sementara di bagian depan, gambar SBY-Boediono lagi tersenyum juga terlihat jelas.

Nurjannah juga memakai baju SBY. Bantal yang tergeletak di samping Nurjannah juga dibajukan SBY. Saya tidak bertanya apakah keluarga ini pendukung SBY. Tapi yang jelas, tak jauh dari rumah Dehan, masih di dalam pekarangan rumahnya, ada bendera Partai Aceh. Ehm, saat pemilu presiden lalu, aktivis partai bentukan Gerakan Aceh Merdeka ini menyokong pasangan yang diusung Partai Demokrat ini. Hiruk-pikuk pemilu menyeruak ke kamar Nurjannah: yang terbujur kaku.

Melihat kondisi Nurjannah kemarin, saya teringat berita di sebuat media lokal di Banda Aceh, yang memuat pernyataan Abu Panton. Nama terakhir ini merupakan ulama yang bermukim di Aceh Utara. Ia mengasuh dayah di Panton Labu. Abu merupakan ulama yang disegani. Ia tak dekat kekuasaan.

Dalam berita itu, Abu Panton menyentil pengesahan Qanun Hukum Jinayat dan Qanun Acara Jinayat. Abu bilang, Qanun yang mengatur hukum rajam dan cambuk bagi pelanggar Syariat Islam baru bisa diterapkan kalau saja masyarakat Aceh sudah sadar hukum dan hidupnya makmur. Minimal sudah tidak berada di bawah garis kemiskinan.

Pernyataan nyaris serupa dikemukakan Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Ziauddin Ahmad. Saat kami wawancarai menjelang dinihari usai rapat paripurna DPR Aceh, saya dan sejumlah wartawan ikut memintai tanggapan Ziauddin soal penerapan hukum rajam. Ziauddin terang-terangan menyatakan penolakannya terhadap hukum rajam bagi pelaku zina yang telah menikah. Menurut Ziauddin, hukum Islam baru bisa ditegakkan kalau masyarakat di suatu negeri sudah hidup mapan dan sadar hukum. Nah, dua hal inilah yang belum dipunyai Aceh.

"Bagaimana, misalnya, kita menerapkan hukum potong tangan bagi yang mencuri," kata Ziauddin, "kalau perekonomian kita belum bagus."

Benar, bagaimana mungkin kita menggembar-gemborkan penegakan syariat Islam kalau sendi-sendi kehidupan masyarakat belum dibenahi. Syariat Islam kan bukan hanya hukum potong tangan, cambuk, rajam semata. Ia melingkupi segala aspek. Ada aspek sosial, ekonomi, syariat, hukum, dan banyak lagi.

Saya menilai bahwa selama ini para politisi –yang pemahaman agamanya pas-pasan—ingin memaksakan pemahaman dan keyakinan syariatnya kepada masyarakat. Mereka selalu mengklaim bertindak atas amanah rakyat. Di sini, mereka mengambil secuil ayat al-Quran dan meninggalkan ayat-ayat lainnya. Bukankah pola beragama seperti ini sangat dibenci oleh Allah dan Nabi-Nya?

Bagaimana mungkin hanya menegakkan hukum Allah di bidang lendir, judi, dan minuman, sementara ajaran dan hukum Allah yang lain ditinggalkan begitu saja. Misalnya, korupsi dan pembunuhan. Bukankah dalam Islam dua aspek ini juga mendapat sorotan tajam? Bagaimana misalnya dalil dalam Islam menyebutkan bahwa "pembunuh dan yang dibunuh sama-sama masuk neraka". Ini dalil untuk orang yang sama-sama ingin saling bunuh. Di sisi lain bagaimana misalnya Tuhan berjanji akan menempatkan pembunuh di neraka.

Dalam al-Quran memang tak ada kata khusus soal korupsi, tapi ini kan identik dengan mencuri. Nah, bagaimana dengan hukum potong tangan bagi si pencuri dan koruptor? Apa karena ada politisi dan pejabat yang berselemak kasus korupsi lantas hukum tak tegak?

Sungguh aneh para politisi yang mengaku sedang berjihad ini: agama menjadi dagangan semata.

Sebelum pikiran terus berkeliaran ke mana-mana, saya kembali fokus pada Dehan dan Nurjannah yang terbaring di kamar berbau pesing. Aroma amoniak menusuk hidung, hingga ke relung kepala yang membuat pusing. Tapi, penegakan syariat Islam dalam bentuk membebaskan orang-orang dari kemiskinan, sama sekali tak dipikirkan para politisi itu. []

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting