Rabu, Juli 15, 2009

Ayo, Menulis di Wiki Aceh!

FAKHRURRADZIE GADE
Anggota Aceh Blogger Community

Gara-gara membidani lahirnya Wikipedia berbahasa Aceh, ia sempat tak lulus matakuliah. Ini upaya anak muda melestarikan bahasa Aceh di jagat maya. Dan, Wikipedia berbahasa Aceh pun tinggal selangkah lagi.

DI awal tahun 2008, Muhammad Nabil Berri punya kesibukan baru. Saban hari ia menyambangi warung internet usai jam kuliah. Ia tak melahap situs berita atau jejaring sosial yang digandrungi kawula muda. Selama berjam-jam ia betah memelototi monitor komputer di warnet untuk memperbarui laman web yang baru dibuatnya.

Saat itu, Nabil baru saja membuat halaman Wiki dalam bahasa Aceh. Ia mengajukan proposal kepada Wikimedia Foundation untuk menyediakan halaman khusus bagi pengembangan bahasa dan budaya Aceh di situs ensiklopedi daring (online), Wikipedia. Wikipedia merupakan ensiklopedia daring yang digemari warga dunia. Keinginan Nabil untuk membidani lahirnya Wikipedia dalam bahasa Aceh, terinspirasi dari Wikipedia dalam sejumlah daerah. Sebut saja misalnya, ada Wikipedia dalam bahasa Jawa, Sunda, dan Banyumasan.

“Kenapa tidak ada dalam bahasa Aceh?” pikir Nabil waktu itu.

Dengan berbekal uang jajan sehari-hari, mahasiswa Fakultas Kedokteran ini menyambangi warnet dan menulis permohonan kepada Yayasan Wikimedia. Ia kemudian diberikan laman di ruang inkubator Wiki. Di sinilah, saban hari ia menulis dan memperbarui tentang Aceh dalam bahasa Aceh. Sebelumnya, Wikipedia hanya menyediakan informasi tentang Aceh dalam bahasa Indonesia. Nabil sendiri, sering memperbarui berbagai informasi tentang Aceh di Wikipedia berbahasa Indonesia.

Nabil tergerak untuk melestarikan bahasa Aceh. “Perlu ada Wikipedia berbahasa Aceh untuk pelestarian bahasa Aceh, dan ada keinginan dari orang untuk belajar bahasa Aceh,” kata pria kelahiran Banda Aceh 23 tahun silam.

Sejak itu, ia aktif mengampanyekan proyek barunya ini. Kampanye tak hanya dilakukan pada teman-teman kuliahnya, tetangga, dosen, penjaga pustaka tempat ia kuliah, tapi juga kepada sejumlah warga Aceh yang menetap di luar negeri yang ia kenal. Sayang, tak banyak sambutan positif yang ia peroleh.

“Tidak ada respons, mereka cuma bilang insya Allah,” kata Nabil.

Pun begitu, ia tak patah arang. Di bulan April 2008, bulan pertama ia menggarap Wikipedia berbahasa Aceh, ia berhasil menambah anggota jadi dua orang. Bulan berikutnya bertambah jadi empat, dan terus bertambah di bulan selanjutnya.

Semula, ia girang, karena ada minat dari sejumlah teman-temannya. Tapi, sayang, bertambahnya anggota justru tak menambah jumlah postingan informasi di Wiki Aceh. Karenanya, ia makin mengintensifkan kampanye. Ia sendiri setiap bulan harus memposting dan memperbarui minimal 10 informasi.

“Jumlah posting-an di bawah 10, dianggap user tidak aktif dan dicoret secara otomatis oleh Wiki,” kata pemilik blog http://nabilberri.wordpress.com ini.

Baru pada awal 2009, Nabil memperoleh suntikan anggota baru. Abi Azkia, yang baru bergabung di akhir tahun 2008, menginput berbagai informasi ke Wiki Aceh. Abi Azkia merupakan seorang pengajar ilmu agama di Lamlo, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie.

“Ia menulis artikel soal agama. Tulisannya bagus,” ujar Nabil.

Gara-gara mengerjakan proyek nirlaba untuk melestarikan dan menggalakkan penulisan dalam bahasa Aceh, Nabil sempat abai pada pendidikan di kampusnya.

“Saya tidak lulus beberapa matakuliah. Pulang kuliah bukannya belajar, tapi langsung ke warnet untuk ngerjain ini,” kata alumnus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Banda Aceh. “Bahkan ada yang bilang, peue ka pungo?”

Kendati kuliah di Kedokteran, ketertarikan Nabil justru di bidang budaya dan bahasa. Selain mengelola blog pribadinya, Nabil juga aktif menggawangi blog bahasa Aceh yang beralamat di http://bahasaaceh.wordpress.com. Di blog ini, ia menulis sejumlah kosa-kata Aceh, seperi angka, ungkapan utama, kata tunjuk, kata tanya, hubungan bahasa Aceh dengan bahasa Melayu yang ditulis dalam empat seri, makanan, warna, dan berbagai postingan informatif lainnya. Banyak pengunjung yang merasa terbantu dengan adanya blog yang diasuh Nabil.

Nabil mengaku kesulitan dalam membidani lahirnya Wiki berbahasa Aceh ini. Selain karena literatur yang minim soal bahasa Aceh, juga terdapat dialek yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Nabil yang berasal dari Banda Aceh, harus bisa mengakomodasi pengunjung Wiki yang berasal dari kabupaten lain di Aceh.

Karenanya, ia berharap ada ahli bahasa Aceh yang mau membantu mengerjakan proyek ini, setidaknya memperbaiki tatabahasa Aceh yang sudah mereka tulis di
http://incubator.wikimedia.org/wiki/Wp/ace/ôn_Keuë.

Wiki berbahasa Aceh yang digagas Nabil (di Wiki dia punya akun Si Gam Acèh) kini sudah mendapat suntikan pengguna baru. Ia kini dibantu Fadli Idris. Aktivis Aceh Blogger Community ini tergerak untuk membantu Nabil melahirkan Wiki berbahasa Aceh. Saban hari mereka mendiskusikan tampilan dan informasi yang akan disajikan di halaman Incubator Wiki Aceh.

“Saya ingin bahasa Aceh tidak hilang di bawah pengaruh bahasa-bahasa lain. Dan generasi muda Aceh jangan malu menggunakan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari,” kata Fadli.

Menurut Fadli, Wikipedia berbahasa Aceh tinggal selangkap lagi mendapat persetujuan Wikimedia Foundation. Empat hari lalu, Fadli telah mengirim surat kepada Mark Durie,Ph.D, ahli linguistik yang mempelajari bahasa Aceh, asal Australia.

“Alhamdulillah, dia merespons positif. Nanti, pihak Wikimedia akan menghubungi beliau untuk mengonfirmasi apakah ini benar bahasa Aceh,” kata pemilik blog fadli.web.id ini.

Pun begitu, Fadli mengajak warga dan ahli bahasa Aceh untuk terlibat dalam pengerjaan Wikipedia berbahasa Aceh ini. Ia menyebutkan, Bahasa Acèh di wikipedia masih berada dalam incubator (tabung penetasan) yang membutuhkan perawatan untuk bisa menetas dengan baik.

Untuk bisa keluar dari incubator dan memiliki subdomain sendiri [ace.wikipedia.org], kata Fadli, masih membutuhkan perjuangan dan dukungan dari segenap pemuda Aceh yang bangga akan bahasa Acèh. Dibutuhkan sedikitnya 10 artikel setiap bulan. Sayang, untuk memenuhi batasan minimal ini, Fadli, Nabil, dan Abi Zaskia harus bekerja ekstra keras.

“Untuk dukungan saja masih 21 orang yang memberikannya. Sungguh naif memang dengan jumlah pengguna lebih dari 3 juta orang, namun sampai saat ini bahasa Acèh masih tertatih-tatih untuk bisa keluar dari inkubator Wikipedia,” sebutnya.

Nabil dan Fadli mengajak warga Aceh untuk terlibat dalam proyek Wiki ini. “Agar bahasa kita lestari. Mari kita cintai bahasa Aceh,” ujar Fadli. []

Artikel ini dimuat di Tabloid Kontras edisi 16 Juli 2009.

Jumat, Juli 03, 2009

Mari Bantu Nurjannah, Penderita Lumpuh Layu


DUA malam lalu saya terperangah, ketika membuka surat elektronik. Di kotak pesan sudah ada kiriman foto dari Yo Fauzan, teman saya di acehkita.com. Dia mengirim foto anak berusia 21 tahun, yang menderita lumpuh layu sejak berusia empat bulan. Sungguh miris!

Anak itu terkulai tak berdaya di atas dipan, di dekat jendela. Rumahnya sempit. Hanya jendela kecil satu-satunya ventilasi yang mengantarkan udara ke kamar yang – maaf—sumpek itu. Di ruangan sempit itu, Nurjannah menghabiskan hari-harinya: tidur, makan, buang air.

Ia sama sekali tak bisa menikmati udara segar, atau sekadar jalan-jalan di pagi dan sore hari. Kakinya lumpuh. Badannya kurus-kering.

Teman saya, Riza Nasser, menulis berita warga Desa Lamtimpeung, Kecamatan Darussalam, ini. Miris. Berikut saya kutip sebagian tulisan yang telah dimuat di acehkita.com.

Nurjanah, 21 tahun, warga Desa Lamtimpeung, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, membutuhkan biaya perawatan untuk mengobati lumpuh layu yang dideritanya sejak kecil. Menurut Muhammad Dehan, ayahnya, Nurjanah menderita lumpuh layu sejak usia empat bulan. Sebelum sakit, Nurjanah pernah disuntik tetanus oleh petugas kesehatan yang mendatangi rumah mereka.


Berikut yang ditulis di Facebook.

Bola matanya nanar, menatap dari balik jendela kamar berdiamer 3x3 itu. Di atas dipan yang mengeluarkan bau pesing, gadis yang kaki dan badanya mengecil ini, hidup serba memprihatinkan. Dia hanya bisa membolak-balikan badanya, seolah mengharap iba.

21 tahun lalu, menjelang magrib, Muhammad Dehan, pulang dari mengembala ternak dan memotong rumput. Pria yang kini berusia 64 tahun itu, mendapati Nurjannah, putri pertamanya, kejang-kejang. menjelang siang, rumahnya didatangi petugas kesehatan dan menyuntikkan vaksin tetanus ke tubuh Nurjanah.


Berita ini mengingatkan saya pada cerita Nek Rahsia, janda tua-miskin dari Geumpang, Kecamatan Pidie. Nek Rahsia mempunyai anak semata wayang, yang menderita keterbelakangan mental. Rahsia sendiri sering sakit-sakitan.

Cerita dan foto Nek Rahsia dimuat di Harian Aceh, ditulis dengan baik oleh Suparta. Ia juga memberikan kami foto dan dimuat di acehkita.com.

Kami lantas membuat aliansi. Harian Aceh dan acehkita.com, kemudian menggalang dana untuk membantu keluarga miskin ini. Penggalangan dana juga dilakukan oleh aktivis blog. Komunitas Blogger Aceh ikut andil. Dana yang terkumpul melalui solidaritas dunia maya ini lumayan banyak. Alhamdulillah, kami telah sepenuhnya menyerahkan bantuan itu kepada Nek Rahsia.

Pengalaman sukses itu, ingin kami lakukan lagi (saya tidak mau bilang lanjutkan, karena musim kampanye). Kali ini, acehkita.com ingin memfasilitasi kawan-kawan untuk menyumbang kepada Nurjannah.

Ide awalnya, kami ingin mengobati Nurjannah. Jika dana mencukupi, kami ingin membeli beberapa ekor kambing atau bebek atau ayam, untuk membantu ayahnya, Dehan.

Alhamdulillah, respons positif datang dari banyak kalangan. Fadli Idris dari Komunitas Aceh Blogger sudah memposting kabar duka ini di blognya. Aceh Forum juga ikut bagian.

Melalui pesan ini, saya ingin mengajak kawan-kawan blogger, pengguna internet, dan siapa pun yang membaca tulisan ini, berkenan menyumbang demi membantu saudara kita yang lagi mengalami musibah dan cobaan ini.

Berapa pun yang terkumpulkan, akan kami informasikan perkembangannya melalui blog ini, situs acehkita.com, dan Facebook via akun Riza Nasser.

Ingin ikut membantu, silakan kirimkan donasi melalui:

Nomor Rekening 8040020145
PERMATA BANK CABANG ACEH
a.n. Daspriani Y. Zamzami


Jangan lupa kabari kami setelah menyumbang, melalui: +628126968257 & +628126964923 e-mail: redaksi@acehkita.com. Terimakasih.

Radzie

Rabu, Juni 10, 2009

Hore, Saya Dapat Wesel Pos

Fakhruradzie Gade

SIANG kemarin, Pak Pos menyambangi kantor kami, Aliansi Jurnalis Independen. Ini tempat berkumpulnya sejumlah jurnalis-lintas-media di Banda Aceh. Tak ada istimewa sih sebenarnya kedatangan Pak Pos. Karena dalam seminggu pengendara sepeda motor orange itu bisa dua atau tiga kali mengunjungi kami. Yah, apalagi kalau bukan ngantar buku, tabloid, paket, atau surat.

Kemarin itu, Pak Pos ngantar kiriman buku fotografi dari World Press Photo, lembaga penyelenggara lomba foto dunia, kepada Fauzan Ijazah, fotografer freelance yang juga ikut bergabung di acehkita.com dan Majalah ACEHKINI.

Satunya lagi, kertas mirip surat. Reza Fahlevi, yang menerima antaran itu, langsung menggabungkan kertas mirip surat itu ke paket buku. Namun setelah saya perhatikan dengan seksama, mata saya terbelalak.

Di kertas itu tertulis PT. ACEHKINI.

Oh, ini untuk perusahaan majalah yang kami asuh sejak Agustus 2007. “Ja, ini wesel.” Reza ikut-ikutan memerhatikan. “Wow, hare gene masih pake wesel?” ujar saya meniru cas-cis-cus anak muda zaman sekarang.

Ya, siang itu saya menerima kiriman wesel dari KITLV Jakarta. Ini adalah lembaga kebudayaan Belanda di Jakarta. Tiga pekan lalu, saya memang ditelepon orang dari KITLV Jakarta. Mereka tertarik untuk mengoleksi Majalah ACEHKINI dari edisi Aceh Under Cover hingga edisi Ancaman AIDS, yang terbit April 2009.

Saya lupa nama petugas dari KITLV tadi. Dia bilang, mendapatkan ACEHKINI saat rekannya berkunjung ke Banda Aceh. Nah, setelah membaca satu edisi tadi, dia dan rekan-rekannya di KITLV tertarik untuk mengoleksi majalah ini di perpustakaan KITLV. Kan selama ini, KITLV banyak mendokumentasikan berbagai foto dan material Aceh di zaman dahulu.

Misalnya saja, saya menemukan rupa Masjid Raya Baiturrahman yang masih satu kubah, dari KITLV. Foto jadul Bank Indonesia yang ada di samping Markas Polda, sekarang Mapoltabes Banda Aceh, juga dari KITLV. Berbicara Aceh jadul, koleksi KITLV boleh dibilang lengkap.

***

SAYA sudah lama tak bersahabat dengan Wesel Pos. Dulu, sekitar tahun 1995, saat saya masih di jenjang Madrasah Tsanawiyah Swasta di Lueng Putu, kawan-kawan saya sering mendapatkan kiriman wesel dari orangtuanya. Atau dari hasil ikut teka-teki silang dan kuis di Serambi Indonesia atau harian di Medan.

Wesel tadi digunakan untuk mencairkan uang di Kantor Pos yang terdapat di dekat lapangan Lueng Putu, atau dekat SMA 1 Lueng Putu. Kami sering bertandang ke sana, untuk menukar wesel dengan uang, atau sekadar berkirim surat dengan sahabat pena.

Keberadaan Wesel Pos semakin tergusur belakangan ini. Tak hanya Wesel, produk PT Pos Indonesia juga banyak yang tergusur belakangan ini. Berkirim surat atau paket, orang lebih memilik jasa kurir yang lebih cepat. Misalnya PT Tiki, PT Tiki JNE, Elteha, dan banyak jasa kurir lainnya.

Kalau sekadar berkirim surat atau bertukar kabar – yang dulu selalu menggunakan jasa PT Pos Indonesia, kini cukup mengandalkan telepon yang murah meriah. Bisa bersurat elektronik ria, ngobrol di ruang chat. Pokoknya serba canggih lah.

Kalau berkirim uang, ya selama ini semakin mudah dengan transaksi bank. Apalagi, kini semakin mudah dengan adanya e-banking atau m-banking.

Kecanggihan inilah yang semakin menggusur pengiriman tradisional, seperti Wesel Pos tadi. Sehingga teman saya, Munar, kebingungan cara mencairkan uang.

“Ini dibawa ke kantor pos?” tanyanya.

“Iya.”

“Kalau gak dikasih, gimana?”

“Oo, harus bawa KTP…” dia menjawab sendiri.

“Pake ID Card ACEHKINI,” saran saya.

Dia pergi dengan membawa-serta kertas Wesel Pos. “Hare gene,” teriaknya saat keluar ruangan. []

Senin, Juni 08, 2009

Ibarat Orang Pacaran

Oleh FAKHRURRADZIE GADE

“FARID,” kata Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Malik Mahmud, “saya percaya kamu. Tapi saya belum percaya Jakarta.”

Farid tersentak. Belum lagi negosiator mewakili Indonesia itu memberi jawab, Malik berujar, “Saya belum percaya sama orang yang berbaju hijau.”

Orang berbaju hijau yang dimaksud Malik Mahmud adalah TNI. Kecurigaan Malik tak berlebihan. Beberapa kali proses perundingan selalu gagal dan ujung-ujungnya pemerintah mengirim tentara ke Aceh untuk menumpas gerilyawan GAM.

“Pemerintah sekarang adalah tentara dan sipil,” ujar Farid coba meyakinkan Malik. “Kalau Teungku tidak percaya, ayo bicara dengan Pak Jusuf Kalla.”
Dialog antara Malik Mahmud dan Farid Husain berlangsung dalam sebuah Mercedez Benz saat menempuh perjalanan ke Lahti, kota kecil di pinggiran Helsinki, ibukota Finlandia, usai perundingan babak pertama, pada 29 Januari 2005. Usai pertemuan, empat perunding Indonesia dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Widodo Adi Sucipto, memilih pulang ke Jakarta, sedangkan Farid tetap bertahan di Finlandia.

Di pagi yang dingin itu, delegasi GAM terdiri atas Malik Mahmud, Zaini Abdullah, M. Nur Djuli bertandang ke Lahti untuk bertamu ke rumah Juha Christensen, tokoh kunci di balik perundingan Helsinki. Malik mengajak Farid ikut serta. Nur Djuli tak semobil dengan Malik. Dia dan teman-temannya memilih naik sedan lain.

Farid semula ingin semobil dengan perwakilan GAM lain, tapi Malik mencegahnya. Dia meminta Farid ikut dalam mobil yang ditumpangi bersama Zaini Abdullah, koleganya yang menjabat Menteri Luar Negeri dan Menteri Kesehatan GAM. Jadilah mereka bertiga dalam satu mobil. Farid duduk di tengah, sementara Malik di bagian kanan dan Zaini di kiri.

Perjalanan berjarak 100 kilometer, digambarkan Farid, berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Canda dan tawa kerap hadir menyemarakkan kedua pihak yang selama ini berbeda aliran politik. Perjalanan itu dimanfaatkan Farid untuk lebih mendekati petinggi GAM. Dia berupaya keras untuk meyakinkan Malik dan Zaini soal komitmen pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dalam menyelesaikan konflik Aceh secara damai.

“Dalam perjalanan itulah, saya banyak masuk,” aku Farid saat ditemui ACEHKINI di kantornya di kawasan Rasuna Said Jakarta Selatan, awal Juli lalu.

Farid mencoba menumbuhkan kepercayaan GAM terhadap Pemerintah Indonesia selama perjalanan. Menurut Farid, Malik sempat mempermasalahkan pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla di media, yang menyebutkan orang Aceh takut sama orang Makassar. Sebagai informasi, tiga tokoh kunci perundingan yaitu Jusuf Kalla, Farid Husain, dan Hamid Awaluddin merupakan “geng Bugis.”

“Pak Farid, kenapa Pak Jusuf bicara seperti itu,” ujar Malik.

“Teungku, saya kenal Pak Jusuf. Tak mungkin beliau bilang begitu,” jawab Farid.

Agar Malik percaya, Farid langsung mengambil telepon selular miliknya dan menghubungi Kalla. Telepon kemudian diberikan kepada Malik, sehingga keduanya bisa berbicara langsung. “Saat kami berhenti dan pergi ke WC, saya telepon Pak Jusuf Kalla. Pak Malik dan Pak Jusuf ngobrol bersama. Pak Jusuf bilang, itu biasa, wartawan salah kutip,” ujar dokter bedah itu. Perbincangan telepon itu mencairkan hubungan Malik dengan Jusuf Kalla.

Sebelumnya, Malik meminta supir menghentikan laju Mercedez yang membelah jalanan bersalju, agar mereka bisa buang air kecil dan membeli kembang serta oleh-oleh untuk Lisa, istri Juha Christensen. Usai membeli kembang, mereka melanjutkan perjalanan. Kesempatan itu digunakan Farid untuk kembali meyakinkan pihak GAM agar menerima otonomi khusus yang ditawarkan pemerintah.

“Teungku, terimakasih. Karena Teungkulah, kita semua sehat hari ini,” ujar Farid. “Kalau Teungku tidak ada di mobil ini, belum tentu mobil akan berhenti, sehingga kami tidak bisa buang air kecil.”

Tindakan Malik memberhentikan mobil digunakan Farid untuk meyakinkan bahwa GAM bisa mengendalikan negara ini, jika mereka mau menerima tawaran otonomi khusus. “Kalau Teungku mau ubah pemerintah,” kata Farid kepada Malik, “Teungku harus masuk dalam pemerintahan. Karena Teungku tidak mungkin mengubah jika berada di luar.”

***

FARID Husain dikenal pandai melobi, padahal dia bukan seorang diplomat. Juha menggambarkan sosok Farid sebagai orang yang tidak kenal kata menyerah. Pernah dua kali dia ditolak bertemu Malik cs, tapi Farid tak langsung patah arang. Dia berusaha mendekati mereka melalui lingkaran keluarga. Suatu ketika, Farid sengaja terbang ke Singapura untuk bertemu Amir, abang kandung yang sangat disegani Malik. Pada Amirlah, Malik menitip semua anggota keluarganya saat dia menetap di Swedia. Tak hanya keluarga Malik, Farid juga menjumpai keluarga Zaini Abdullah di Desa Teureubue, Kecamatan Mutiara, Pidie.

“Tidak mungkin begitu saja bisa ketemu mereka. Saya ketemu bapaknya Zaini. Saya bikin hubungan emosional dengan bapaknya,” beber Farid.

Tak cukup melobi GAM Swedia, Farid juga bergerilya bertemu beberapa kalangan. Menurut dia, ada lima faksi di tubuh GAM yang harus ditemui untuk menemukan kata sepakat karena keputusan dalam kelompok gerilyawan itu diambil secara kolektif. Faksi pertama adalah pasukan GAM di lapangan, kemudian GAM Swedia, kalangan (aktivis) sipil, “dutabesar” GAM di sejumlah negara, dan terakhir adalah para pemikir GAM (think tank). “Saya dekati satu per satu agar semuanya bilang iya, baru boleh ketemu,” ujar mantan dosen di Universitas Hasanuddin itu.

Farid juga terbang ke sejumlah negara untuk bertemu “dutabesar” GAM, semisal Fadhlun di Belanda, Yusra di Denmark. Pertemuan dengan para “dutabesar” ini, kata Farid, terbilang sulit. “Mereka sampai menggebrak meja, mereka menceramahi dan memaki-maki saya,” aku Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan ini. “Tapi saya harus bersikap tenang dan bertahan.”

Kepada para “dutabesar”, Farid bilang bahwa dia simpati dengan perjuangan yang sedang digelorakan. Dia kemudian menarik garis sejarah pemberontakan Andi Aziz dan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan. Menurutnya, orang Bugis sudah dua kali melakukan pemberontakan terhadap republik dan menginginkan kemerdekaan.

“Selama ini mati satu per satu kita punya keluarga,” ujarnya mencoba meyakinkan pihak GAM. “Sekarang mari masuk bersama, kita urus negara ini. Buktinya, kami sekarang sudah pegang pemerintahan.”

Usai meyakinkan para pentolan GAM di pengasingan, menjelang penandatanganan Pakta Damai di Helsinki pada 15 Agustus 2005, bersama Mahyuddin, seorang warga Aceh yang dikenal dengan GAM lapangan, Farid bergerilya ke hutan di pedalaman Aceh Utara untuk menemui Jurubicara Militer GAM Sofyan Dawood.

Dalam upaya merintis hubungan dengan tokoh-tokoh GAM, Farid sempat beberapa kali berusaha menemui pucuk pimpinan tertinggi kelompok itu, Teungku Hasan di Tiro, di kediamannya di Stockholm, Swedia, tapi selalu gagal. Dalam bukunya, Farid mengakui bahwa tidak semudah itu untuk dapat menjumpai Hasan Tiro. Pertemuan Farid dengan deklarator Aceh merdeka baru berhasil terwujud empat bulan setelah Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki diteken.

Suatu hari bulan Desember 2005, Farid mendapat tugas bertemu Hasan Tiro, untuk mendiskusikan hal-hal yang sudah dicapai setelah kesepakatan damai. Selain itu, dia juga menyampaikan undangan dari Jusuf Kalla pada Hasan Tiro untuk menghadiri pertemuan segitiga antara pemerintah Indonesia, Martti Ahtisaari –mediator proses perundingan Helsinki— dan pimpinan GAM.
Farid menghubungi Malik untuk mengatur pertemuan dengan Hasan Tiro. Setelah mendapat lampu hijau, dia berangkat ke Finlandia. Bersama Juha, Farid bertolak ke Stockholm. Tiba di bandara, keduanya dijemput Malik dan sekretarisnya. Kemudian, mereka bersama menuju apartemen tempat Hasan Tiro di Norsborg, Stockholm.

Salju turun cukup deras, dan malam mulai menjelang saat mereka dalam perjalanan ke kediaman Hasan Tiro. Pikiran Farid melambung ke suatu hari akhir Agustus 2003 saat menjejak kaki di kawasan itu. Tetapi waktu itu dia tidak tahu apartemen Hasan Tiro, karena banyaknya bangunan di komplek tersebut.

Farid tidak ingat lagi Hasan Tiro tinggal di lantai berapa. Tetapi yang membesarkan hatinya, malam ketika mereka tiba di apartemen itu, Hasan Tiro turun menjemput di lobi. “Dia jemput dan antar saya ke lobi. Kata sekretarisnya, seumur-umur saya baru sekali ini ada yang begini. Semua orang Aceh menganggap saya, orang yang bisa dipercaya,” ujar Farid bangga.

Menurut sekretarisnya, tulis Farid dalam bukunya, biasanya Hasan Tiro menunggu tamunya di kamar apartemennya. “Saya dapat melihat senyum dan kegembiraan di wajah Hasan di Tiro ketika kami akhirnya berjabat tangan. Ia mengenakan setelan formal dengan jas berwarna coklat. Perawakannya kecil, tetapi wibawanya tak hilang karena itu,” kenang Farid.

Sambil mencicipi makanan kecil, dalam suasana penuh keakraban selama dua jam, mereka berdiskusi banyak hal. Hasan Tiro berulang kali menitip pesan agar kedua belah pihak memelihara perdamaian dan jangan mencederainya lagi.

“Saya bilang, saudara-saudara kita di Aceh ingin ayahandanya pulang,” tutur Farid seraya menambahkan, yang penting dalam perdamaian bersedia untuk kompromi dan harus bermartabat.

Ketika menyampaikan undangan dari Kalla untuk menghadiri pertemuan segitiga di Filandia, Hasan Tiro meminta maaf tak bisa datang karena alasan kesehatan. Sebenarnya, dia sangat ingin hadir dalam pertemuan tersebut, tetapi karena usianya sudah lanjut, dia sudah jarang keluar rumah, sebut Farid dalam bukunya.

Farid Husain menggambarkan lobi-lobi untuk meyakinkan GAM dari berbagai faksi, ibarat seorang pria yang sedang merayu belahan jiwanya. “Ini seperti orang pacaran. Kita tidak bisa main paksa,” katanya sambil tersenyum-senyum. [a]

Jumat, Juni 05, 2009

Istimewa Lebaran Bareng Upin dan Ipin

Oleh FAKHRURRADZIE GADE

Selain kocak, serial Upin dan Ipin bisa dijadikan film edukasi bagi anak-anak.

PERBINCANGAN itu terjadi di meja makan usai pengumuman datangnya bulan suci Ramadan. “Kalian berdua pun kena puase,” kata Opah.

“Hah, puase?” sergah Upin, terkejut. Tangannya berusaha menyentuh adik kembarnya, Ipin, yang lahap menyantap paha ayam goreng. Seketika, Ipin berujar, “Oh, boleh-boleh, boleh.” Dia terus melahap ayam goreng kesukaannya. Sementara Upin, masih bingung mendengar pernyataan Opah.

“Puase itu apa, Opah?” tanya Upin.

Dengan sabar, Opah menjelaskan pengertian puasa. Namun, Ipin terkejut saat Opah menyebutkan bahwa puasa tidak boleh makan dan minum mulai dari fajar sampai magrib.

“Hah, tak boleh makan?” sergah Ipin, masih dengan ayam goreng di tangannya. “Matilaaah,” lanjut Ipin.

Perbincangan di meja makan terus berlanjut. Upin belum puas dengan penjelasan yang diberikan Opah dan Kak Roes, kakaknya. Upin dengan lugunya lantas bertanya kenapa mereka harus berpuasa. Sekali lagi, Opah dengan bijak menjelaskan bahwa orang Islam diharuskan berpuasa di bulan suci Ramadan untuk menunaikan perintah Allah.

“Berpuasa itu Tuhan suruh, supaya kita tahu bagaimana rasanya orang miskin dan mereka yang kelaparan,” kata Opah.

Tak puas, Upin protes. Menurut Upin, mereka belum wajib berpuasa karena masih kecil. “Iyalah, kecil-kecil haruslah belajar puase,” jawab Opah.

Perbincangan tadi merupakan adegan dalam film animasi tiga dimensi, Upin dan Ipin, yang diproduksi Les’ Copaque, Malaysia. Pada bulan Ramadan ini, film animasi itu ditayangkan saban Jumat, Sabtu, dan Minggu di TV9.

Upin dan Ipin adalah serial animasi yang bercerita tentang kakak-beradik kembar berusia lima tahun. Ini pengalaman pertama mereka melaksanakan puasa di bulan Ramadan. Ceritanya disajikan sederhana dalam bentuk komik dengan nuansa kocak.

Dalam film 12 episode itu, Opah (dialihsuarakan oleh Hajjah Ainon) dan Ros (Ida Shaheera) memberikan petuah dan nasihat kepada Upin dan Ipin (Nur Fathiah). Nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan Opah dan Kak Ros dalam film ini sangat mudah dimengerti anak-anak. Adegan dan dialog disajikan dengan kocak dan sederhana. Selain bercerita soal puasa, film Upin dan Ipin juga menyampaikan pesan-pesan edukasi dan nilai moral kepada anak-anak.

Pesan sosial, agama, dan moral yang disampaikan Upin dan Ipin sangat kaya. Dalam hampir semua scene, Opah dan Kak Ros memberi nasihat kepada dua kakak-beradik kembar ini. Lihat saja misalnya saat Fizi mencoba mempengaruhi Upin dan Ipin. Saat itu, Fizi bilang bahwa dirinya mendapat satu ringgit dari puasa setengah hari yang dilakoninya.

Mendengar “provokasi” Fizi, Upin dan Ipin seakan hendak mengajukan protes pada Opah. “Opah. Kawan Upin kan, dia puase satu hari dapat seringgit... Jadi Opah, pahamlah Opah,” kata Upin, malu-malu. “Tapi kata kawan Ipin, dia puasa setengah hari ke. Boleh ke Opah?” timpal Ipin.

Kesempatan ini digunakan Opah untuk menjelaskan bahwa puasa dilakukan dengan ikhlas, tanpa mengharap pemberian uang. Boleh-boleh saja, kata Opah, anak-anak semisal Upin dan Ipin berpuasa setengah hari. Tapi apa salahnya belajar untuk berpuasa sehari penuh. Penjelasan Opah ini membuat dua kakak-beradik yang lugu ini merasa malu dan akhirnya mereka bertekad untuk berpuasa penuh selama sebulan Ramadan.

Atau misalnya, saat Upin, Ipin, Mei Mei, dan Rajoo –empat bocah berbeda etnis dan agama—bermain di halaman rumah Opah. Usai bermain, Upin dan Ipin kelelahan. Rajoo (Kannan) yang kalah, mengajak Upin dan Ipin untuk membeli minuman dan makanan. Hampir saja dua kakak-beradik ini terbujuk ajakan Rajoo, sebelum akhirnya dicegah Mei Mei (Yap Ee Jean).

“Hei, kamu berdua kan puasa?” sergah Mei Mei, teman Upin dan Ipin yang beretnis Tionghoa.

Seketika Upin dan Ipin mengangguk.

“Alah, tak ape, orang tak tau,” kata Rajoo, keturunan India.

“Betol, betol, betol,” angguk Ipin, dengan gaya khasnya.

“Tak boleh, yu punya Tuhan tau. Nanti ya, yu punya Tuhan malah, mana boleh main-main,” kata Mei Mei, dalam logat Tionghoa yang kental.

Rajoo, Upin dan Ipin pun akhirnya membatalkan niat mereka membeli minuman.

***

FILM Upin dan Ipin ini sarat dengan nilai edukasi, sehingga layak menjadi hadiah bagi putra-putri Anda saat bulan Ramadan dan Idul Fitri. Les’ Copaque Production merampungkan produksi film animasi Upin dan Ipin pada Agustus 2007. Sebulan kemudian, film ini diputar di Channel 9, satu televisi swasta Malaysia.

Film ini mendapat sambutan hangat dari publik Malaysia. Tak hanya berjaya di negaranya, film ini melebarkan sayap di negeri jiran, Indonesia. Ramadan tahun lalu, Upin dan Ipin menyapa penonton TVRI. Namun Ramadan tahun ini, Upin menyapa penikmat TPI. Bahkan di Banda Aceh, Upin dan Ipin dijual bebas penjual cakram padat bajakan di pinggir jalan. Tak hanya itu, Upin dan Ipin juga dengan mudah bisa diunduh di Internet, termasuk situs resminya. Les’ Copaque juga sudah memproduksi Upin dan Ipin dalam versi bahasa Turki.

Direktur Kreatif dan Pemasaran Les’ Copaque Mohd Nizam Abdul Razak yakin animasi Upin dan Ipin yang mengangkat nilai tradisi dan budaya Malaysia akan mendapat sambutan hangat dari publik, tak hanya di Malaysia tapi juga bagi penyuka film animasi di belahan dunia.

“Serial film animasi terkenal, seperti animasi Doraemon dari Jepang, semuanya mengangkat tema budaya lokal, ketimbang budaya internasional. Kami percaya bisa melakukan hal yang sama dengan karya kami,” kata Mohd Nizam seperti dikutip In.Tech.

Nizam tak sesumbar. Selepas dirilis dan ditayangkan di TV9, serial Upin dan Ipin memperoleh penghargaan Film Animasi Terbaik pada Kuala Lumpur International Film Festival 2007. Sukses dengan Upin dan Ipin I, Les’ Copaque merilis Upin dan Ipin Season Dua: Setahun Kemudian. Film kedua ini diproduksi dalam enam episode, masing-masing berdurasi lima menit.

Sesi ini mengisahkan Upin dan Ipin telah duduk di bangku sekolah dasar. Lagi-lagi, tema besar yang diangkat soal pengalaman puasa dua anak kembar ini. Di beberapa bagian, Les’ Copaque menyisip tema soal budaya Malaysia, seperti pada Episode 9 yang berjudul Adat.

“Kami akan meningkatkan staf menjadi 100 orang akhir tahun ini, karena kami akan mengerjakan animasi ‘Pada Zaman Dahulu’ dan merampungkan keseluruhan 52 serial Upin dan Ipin,” kata Nizam. Sukses Upin dan Ipin juga membuat rumah produksi Les’ Copaque merilis animasi “Geng: Sebuah Petualangan”. Pemeran utama tetap si bocah kembar lugu: Upin dan Ipin, Kak Ros, dan teman-teman mereka.

Pembuatan animasi tiga dimensi Upin dan Ipin terinspirasi film animasi Toy Story yang diproduksi Disney-Pixar pada 1995 silam. “Ini benar-benar menginspirasi kami karena diproduksi saat tidak ada orang yang percaya tentang film animasi tiga dimensi,” kata Safwan, tim kreatif Les’ Copaque.

Penghargaan yang diperoleh film Upin dan Ipin mendongkrak reputasi rumah produksi Les’ Copaque. “Kami memulai film berdurasi pendek ini tahun lalu sebagai tes penerimaan pasar lokal dan untuk mengukur bagaimana reaksi terhadap kemampuan cara bercerita kami,” tambah Safwan.

Managing Director Les’ Copaque Burhanuddin Md. Radzi mengatakan, sambutan publik Malaysia terhadap Upin dan Ipin luar biasa. “Bagus sekali, karena anak di sini maupun di Indonesia merindukan animasi yang bisa mereka pahami dan menceritakan kehidupan mereka sehari-hari,” kata Burhanuddin kepada ACEHKINI.

Respon pasar ini membuat Les’ Copaque akan memproduksi Upin dan Ipin sebanyak 52 episode. Pada lebaran pertama ini, Upin dan Ipin episode 13 sampai 18 akan kembali diluncurkan.

Serial Upin dan Ipin memberi nuansa baru dalam dunia film animasi Melayu. Apalagi, temanya tidak mengekor sukses film animasi versi Nickelodeon atau Disney, yang sebenarnya tak pantas ditonton anak-anak. Film animasi Nick dan Disney kebanyakan mengangkat soal kekerasan, perkelahian, dan bahkan disajikan dengan bahasa yang sama sekali tak mendidik. Dan Upin & Ipin menyuguhkan warna lain: toleransi dan sarat pesan moral. [a]

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting