Selasa, Agustus 05, 2008

Tradisi Mengenang Para Raja

Oleh FAKHRURRADZIE GADE dan CHAIDEER
ACEHKINI Writer

PAKAIANNYA serba hitam. Di kepa­lanya dililit kain kuning. Senampan nasi putih diletakkan di tengah-tengah balai yang sudah dipenuhi para tamu undang­an. Saat acara mulai, pria itu mengambil nasi dan menyuapi pria berbaju hitam yang me­ngenakan kupiah Meukeutop. Pria itu adalah Teuku Saifullah bin Teuku Hasymi el Hakimi, keturunan ke-13 raja Daya.


Saban tanggal 10 Dzulhijjah atau hari pertama lebaran Idul Adha, keturunan Kerajaan Daya menggelar upacara Seumeuleung. Upacara tahunan itu dipusatkan di makam Raja Alaiddin Riayatsyah di Gle Jong Desa Kuala Daya, Lamno, Kecamatan Jaya. Pada upacara tahun ini, Wakil Bupati Aceh Jaya Teungku Zamzami A. Rani menjadi tamu. Tetua adat Seumeuleung juga menyuapi mantan juru bicara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Meureuhom Daya itu.

Inilah tradisi yang dipelihara turun terumurun, dari tahun ke tahun. Tiap hari pertama Idul Adha, warga Lamno tumpah ruah di makam Po Teumeureuhom untuk menggelar upacara Seumeuleung. Biasanya, usai upacara dilanjutkan kenduri dengan menyembelih sapi atau kerbau.

Seumeuleung diperingati untuk me­ngenang para raja di Kerajaan Daya. Menurut Teuku Saifullah bin TH el Hakimi, upacara Seumeuleung diadakan tiap tanggal 10 Dzulhijjah pada pukul 10.00 WIB. “Ini untuk memperingati berdirinya Kerajaan Daya,” kata Saifullah kepada ACEHKINI.

Dia mengisahkan, Sultan Aceh mengutus Sultan Alaiddin Riayatsyah ke negeri Daya untuk mengatasi berbagai kemelut yang sedang dihadapi empat kerajaan kecil di sana, yaitu Kerajaan Kluang, Lamno, Kuala Unga, dan Kerajaan Kuala Daya. Tak lama setelah sampai di negeri Daya, Alaiddin Riayatsyah mengumpulkan keempat raja ini di Kerajaan Kuala Daya.

Di hadapan para raja, Alaiddin Riayatsyah berpidato dan mendeklarasikan berdi­rinya Kerajaan Daya. “Saudara-saudara, para raja. Hari ini, hari pertama Idul Adha, pukul 10, kita memperingati hari berdirinya negeri Daya. Semua masalah yang ada di negeri Daya harus diselesaikan dengan hukum Allah dan hukum adat. Kalau tidak bisa diselesaikan maka akan diserahkan kepada Kerajaan Aceh Darussalam,” kata Alaiddin seperti dikisahkan Saifullah.

Setelah mendeklarasikan Kerajaan Daya, Sultan Alaiddin Riayatsyah diangkat menjadi raja pertama. “Setelah itulah, Sultan Alaiddin Riayatsyah atau Po Teumeureuhom di-seuleung,” ujar Saifullah.

Syafrizal, seorang guru sekolah mene­ngah di Lamno, yang pernah meneliti tradisi Seumeuleung saat mengambil gelar Sarjana Pendidikan di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Perguruan Tinggi Serambi Mekkah Banda Aceh mengatakan, Seumeuleung pertama sekali digelar pada saat Sultan Umar bin Abbas dikukuhkan sebagai sultan di Kerajaan Daya. Dia kemudian bergelar Sultan Alaiddin Riayatsyah.

Masih menurut Syafrizal, dulu raja di­suapi kakeknya. Sedangkan kini dilakukan dua orang pengasuh (khadam/meungpeutimang po) yang berpakaian ala syaikh dari Arab. “Upacara Seumeuleung sebenarnya untuk menghormati pengangkatan Alaiddin Riayatsyah menjadi Sultan di negeri Daya,” kata Syafrizal.

Upacara seumeuleung selain diha­diri keluarga kerajaan dan rakyat, juga diha­diri sejumlah tamu penting dari negara lain. Seperti diketahui, Kerajaan Daya saat itu sudah menjalin hubungan bilateral dan multilateral dengan sejumlah negara, se­perti Amerika Serikat, Inggris, dan Portugis. Para raja dan tamu negara dijamu di sebuah balai (jambo).

Sebelum prosesi puncak seumeuleung, upacara dimulai dengan membagi-bagikan sirih (ranub gapu) kepada delapan meunaro (petugas di ruangan majelis). Para meunaro inilah yang meneruskan untuk membagikan sirih kepada anggota majelis. Disusul kemudian raja menyampaikan amanat tahunan yang berisikan nasehat tentang persatuan dan tertib hukum serta adat-istiadat. “Nah, di akhir upacara baru raja disuapi (seuleung) dengan nasi ketan,” kata Syafrizal.

Syafrizal menyebutkan, salah satu tradisi seumeuleung yang menarik adalah perebutan japan atau sisa-sisa hidangan. Ada kepercayaan japan berkaitan dengan nasib rezeki mereka. Bila mereka tidak berhasil mendapatkan japan, maka rezeki me­reka akan mampet selama 44 hari. Menurut Hasan Ibrahim, “Nasi japan ini dipercaya bisa menjadi obat bagi anak-anak.”

Bahkan, pada malam sebelum upacara seumeuleung dimulai, penjaga makam Po Teumeureuhom menyalakan tujuh lampu teplok yang terbuat dari tanah liat dan berbahan bakar minyak goreng. “Jika ketujuh lampu itu menyala dengan baik mereka percaya rezeki tahun ini akan berlimpah,” kata Syafrizal.

Lampu teplok itu diletakkan di tujuh segi. Mereka yakin, lampu itu sebagai pe­nanda rezeki mereka untuk masa depan. “Kalau misalnya nyala lampu yang diletakkan di sebelah laut terang benderang, maka dipercaya akan banyak hasil laut,” kata Saifullah, bapak beranak dua ini.

Versi berbeda dikemukakan Panglima Sultan Hasan Ibrahim, seorang keturunan Sultan Alaiddin Riayatsyah. “Pada awalnya upacara ini digelar sebagai pertanda bahwa agama Islam sudah tersebar ke seantero Kesultanan Daya dan Kesultanan Aceh,” kata Hasan Ibrahim saat ditemui ACEHKINI di Lamno, 26 Desember 2007.

Menurut Hasan Ibrahim, saat itu Sultan Alaiddin Riayatsyah menginstruksikan kepada empat pengawal kerajaan untuk me­ngenakan pakaian adat kerajaan yang serba hitam. Dua pria didandani menyerupai pengantin pria dan wanita (linto baro dan dara baro). Sementara dua lainnya bertugas sebagai dayang bagi para pengantin. Saat keduanya bersanding, sang istri mengambil sesuap nasi dari idang dan menyuapi suaminya. Setelah selesai, giliran suami menyuapi istrinya. “Begitulah awalnya tradisi seumeuleung dilakukan,” kata Hasan Ibrahim. Setelah prosesi “perkawinan” itu selesai, kata Hasan Ibrahim, raja beserta rakyat yang hadir di upacara itu makan bersama (kenduri).

Itu adalah cikal bakal lahirnya budaya seumeuleung di Kerajaan Daya. Masih menurut Hasan, pada awalnya upacara itu dilakukan oleh para pengawal kerajaan. Namun belakangan, setelah Po Teumeureuhom meninggal, prosesi itu diteruskan secara turun temurun oleh keturunan kerajaan. “Seumeuleung menjadi tradisi keluarga kerajaan dan diwariskan secara turun temurun. Tidak boleh oleh keluarga yang lain, kecuali keturunan raja sudah tidak ada lagi,” kata pria berusia 72 tahun itu.

Saat prosesi seumeuleung keluarga kerajaan mengenakan pakaian serba hitam. Hanya saja, orang laki-laki mengenakan kain sarung dan surban warna kuning. Sedangkan perempuan mengenakan busana yang menutup seluruh auratnya. “Baju hitam itu baju adat. Dulu semua tentara Kerajaan mengenakan baju hitam. Dan semua keluarga Po Teumeureuhom juga mengenakan pakaian hitam di lingkup kerajaan (dinas),” lanjutnya.

Sebelum prosesi seumeuleung dimulai, terlebih dahulu panglima (pemimpin acara) membacakan salawat dan ayat-ayat al-Quran. Setelah semua prosesi berakhir, dilanjutkan dengan kenduri dan doa bersama. “Kita mendoakan semoga Islam tetap maju di negeri Daya dan Aceh,” kata Hasan.

Tsunami yang melanda Aceh tiga tahun silam juga merembes pada pelaksanaan tradisi seumeuleung. Jika dulu panglima seumeuleung dan (keturunan) raja me­ngenakan jubah hitam yang dipadu dengan surban putih, kini atribut itu tak ada lagi. Perlengkapan seperti jubah hitam, pedang dan dalông yang sering digunakan dalam ritual juga musnah dihanyutkan gelombang raksasa. Balai tempat prosesi ritual juga tak luput dari ganasnya gelombang gergasi.

Kendati Seumeuleung sudah menjadi tradisi di Lamno, tidak semua warga paham seluk beluk tradisi ini. Abdullah, misalnya. Dia mengaku tak terlalu paham makna seumeuleung. Bagi dia, seumeuleung hanya­lah cara mereka mengenang para raja. “Ini adalah cara kami mengenang raja,” kata Abdullah. Tapi, bagi Saifullah yang keturunan raja, seumeulueng punya makna lain. “Kalau tidak diperingati, kami takut akan kena ganjaran dari pendahulu kami.” [a]

Rabu, Juli 30, 2008

Merawat Tradisi Berat di Ongkos.

OLEH FAKHRURADZIE GADE DAN DEDEK
ACEHKINI Writer

Di teras itu mereka duduk berjejer, bersila di lantai yang setengah bersih. Di depannya, sejumlah rapai kecil tergeletak di lantai. Di hadapan mereka, sang instruktur, seorang lelaki, memberi aba-aba. Para anak muda itupun mulai menepuk tangan di dada: kiri dan kanan, silih berganti dalam gerak lambat. Tak berapa lama tubuh mereka meliuk-liuk, menari. Oops, instruktur menghentikan gerakan mereka, karena tidak kompak. Gerakanpun diulang.

Suatu sore di pengujung Mei lalu, Auditorium Ali Hasjmy IAIN Ar-Raniry Banda Aceh menjadi saksi keuletan dan kegigihan para penari berlatih. Di sudut lain, tiga pria duduk bersila dengan gendang di tangan. Di belakangnya, berdiri tegak seorang perempuan. Sementara lima lainnya bersiap-siap menarikan tarian Kreasi Baru “Syukran”. Gerakan tubuh mereka mengikuti irama gendang dan lantunan syair yang dibacakan syekh. Beberapa gerakan seperti orang main karate atawa silat.

“Tarian ini yang banyak disukai,” kata Imam Juwaini, mantan ketua Sanggar Seni Seulaweut IAIN Ar-Raniry, sore itu.

Begitulah suasana latihan anggota Sanggar Seni Seulaweut. Dalam sepekan, mereka berlatih tiga hari. Latihan ini untuk terus mengasah keterampilan dalam memainkan berbagai tarian saat tampil di berbagai acara. Dua bulan terakhir, semangat berlatih kian menyala. Maklum, sanggar ini diundang secara resmi oleh Pemerintah Cina untuk tampil saat pesta pembukaan Olimpiade Beijing 2008 Agustus nanti. Pemerintah Cina rupanya kepincut saat mereka mentas di depan publik internasional yang berkumpul di Qing Dao, Beijing, Cina, akhir Oktober 2007 lalu.

Sayangnya, hingga kini belum ada kepastian keberangkatan. Ketua Sanggar Dedy Saputra mendapat kabar mereka terancam gagal ke ajang olimpiade. “Karena waktu berangkat ke Cina tahun lalu, entah kenapa, ada tersisa utang antara Dinas dengan pihak ketiga,” ujarnya.

Ceritanya, keberangkatan mereka ke Beijing tahun lalu difasilitasi Dinas Pariwisata dan Budaya Aceh. Di sana, mereka berhasil ‘membius’ para diplomat yang hadir pada perheletan yang menghadirkan utusan 45 negara. Panitia menyediakan satu pentas khusus bagi mereka untuk memperkenalkan seni dan budaya Aceh. Entah bagaimana ceritanya, keberangkatan mereka ke sana, rupanya melibatkan pihak ketiga. “Pihak ketiga inilah yang tersangkut utang piutang dengan dinas,” ujar Dedi.

Padahal, Dedi sudah berencana kembali membius publik Cina dan negara peserta Olimpiade dengan gerakan tari Saman yang dinamis. Ia ingat benar, saat tampil di Beijing tahun lalu, tepuk tangan seakan tak pernah berhenti. Mereka memberi applause kendati tak paham dengan syair dan lirik yang dilafalkan syekh. “Mereka sangat antusias. Tapi itu tadi, ini beneran lagee Cina nonton Seudati,” kata Dedi, tersenyum.

Selain ke Olimpiade Beijing, sanggar ini juga telah mengantongi undangan untuk mentas di festival budaya tradisional di Turki. Sayangnya, ongkos ke sana juga belum ada. Lagi-lagi, rencana ke Turki terancam gagal. “Kita hanya butuh tiket pesawat. Sedangkan akomodasi ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah Turki,” ujar Imam Juwaini, seorang pengurus sanggar yang juga pimpinan grup musik Saleum itu.

Lahir 12 tahun silam, Sanggar Seni Seulaweut adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa di IAIN Ar-Raniry. Sempat terseok-seok di awal, Sanggar itu berhasil berkibar dan melejit ke pentas seni mancanegara. Pada September 2005, mereka tampil live di stasiun TV3 Malaysia. Itulah pertama kalinya mereka tampil di di ajang intenasional. Saat itu, mereka menggoyang publik Malaysia dengan Rapai Geleng dan Likok Pulo.

Usai tampil di TV3, Sanggar diminta tampil pada malam amal seni budaya Aceh di Kampong Baru, Kuala Lumpur. Tak berhenti sampai di situ, TV3 kembali meminta mereka tampil dalam film dokumenter Jejak Rasul akhir 2006 lalu.

Bagi Imam Juwaini, penampilan di Malaysia menjadi kenangan manis. Betapa tidak, modal mereka berangkat hanya Rp 150 ribu. “Saat itu hampir tidak ada dukungan dari siapa pun. Namun dengan tekad membara, kami berangkat dan disambut hangat di sana,” kata Imam yang pernah memimpin Sanggar selama lima tahun.

Malaysia adalah batu loncatan mere¬ka tampil di panggung internasional. Di peng¬hujung tahun 2005 komunitas seni anak muda ini kembali mendapat un¬dangan mentas di Universitas Kebangsaan Malaysia dalam muhibah seni dan budaya Aceh-Melayu antarkampus. Kini, Sanggar Seulaweut telah mengoleksi lebih dari 50 piagam penghargaan. Ada penghargaan tingkat lokal, nasional, bahkan internasional.

Komunitas ini tak hanya berkutat pada pentas live di depan publik. Tahun lalu, me¬reka memproduksi cakram padat (VCD) yang berisi tarian tradisional dan lagu yang mereka bawakan. Sejumlah senior di sanggar itu bahkan telah merambah industri musik Aceh dengan membentuk Saleum Group. Menurut Imam Juwaini, pimpinan Saleum Group, produksi tari dan syair dalam cakram padat untuk menyasar audien yang lebih luas. Pasalnya, pentas langsung mereka sangat terbatas. “Dengan media VCD kita harap masyarakat bisa belajar syair dan tari tradisional Aceh,” kata dia.

Dengan deretan prestasi itu, Dedy yakin akan mengharumkan nama Aceh jika jadi tampil di Beijing. Itu sebabnya, ia berharap ada donatur yang bersedia mensponsori keberangkatan ke sana.

Bagi anak-anak muda yang ingin meng¬ukir prestasi sembari merawat dan mempromosikan budaya peninggalan leluhur ini, penampilan di pesta pembukaan Olimpiade Beijing merupakan sebuah impian. “Sayang saja, kalau gara-gara utang, momen untuk memperkenalkan budaya Aceh ke masyarakat dunia batal,” ujar Imam. [a]

Setelah Tanda Luka Terungkap

OLEH FAKHRURRADZIE GADE DAN NURDIN HASAN
ACEHKINI Writer

“Anakku,” teriak Suryani histeris sambil mendekap Riko Anggara. Bulir air mata seketika membasahi pipi perempuan 30 tahun itu. Saat pelukan terlepas, dia memelototi sekujur tubuh Riko. Hanya sekejap, ia kembali mendekap. Tak hanya memeluk, Suryani juga mencium dan menyapu wajah hitam manis bocah 11 tahun itu.

“Kamu mirip sekali dengan anak saya,” kata Suryani. Riko hanya mematung. Sesekali dia mengangguk. Raut wajahnya datar, tanpa ekspresi. “Sabar ya bu. Semoga ibu bisa bertemu kembali dengan anak ibu,” ujar Riko. Suryani kian erat memeluk dan menciumi tubuh mungil siswa Sekolah Dasar Negeri 4 Kelapa Dua, Jakarta.

Drama itu berlangsung di ruang pertemuan RCTI Jakarta, awal Mei lalu. Ini bukan reality show, tapi pencarian seorang ibu yang kehilangan anak. Seisi ruangan mematung. Rasa haru-biru menyeruak. Nenek, kakek dan paman Riko hanya menyak¬sikan drama itu. Tarmizi, suami Suryani, juga terpaku melihat Riko, yang mirip Rahmat, anaknya yang hilang dalam bencana tsunami tiga setengah tahun silam.

“Ayo, giliran bapak,” kata Deni Reksa, news manager RCTI, kepada Tarmizi yang masih terpaku. Tarmizi yang memakai kaos motif bergaris hijau tua-putih langsung mendekap Riko. Raut kesedihan terpancar dari wajah warga Desa Neuheun, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, ini. Untuk mencairkan suasana, news manager RCTI Deni Reksa, mempersilakan keluarga Riko dan Tarmizi duduk semeja. Riko duduk persis di samping Suryani yang tak henti menatapnya.

Semua berawal dari pentas Idola Cilik, ajang pencarian bakat menyanyi di RCTI. Suatu hari, tanpa sengaja Suryani melihat Riko sedang menyanyi di tivi. Dadanya bergetar. Matanya tak berkejap. Batinnya berkata, yang sedang mengolah vokal adalah anaknya. Ia bertambah yakin ketika suami dan para tetangga mendukung pendapatnya. Sejak itu, ia memendam tekad: bertemu Riko.

Berbagai upaya ditempuh. Menelepon redaksi RCTI di Jakarta, mencari perwakilan di Banda Aceh, hingga mencari siapa yang bersedia memfasilitasi keberangkatannya. Maklum, Suryani dan Tarmizi hanya pedagang kecil berpenghasilan terbatas. Di telepon, ia sempat berbicara dengan Riko. Namun, waktu itu, Riko mengaku bukan asal Aceh, melainkan Palembang. Suryani tak yakin. “Semua yang ada pada Riko persis anak saya, Rahmat,” ujarnya.

Difasilitasi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh – Nias, Suryani dan suaminya terbang ke Jakarta. Di ruang pertemuan RCTI, melihat Riko dari dekat, keyakinan Suryani bertambah. Menurutnya, banyak kemiripan antara Riko dengan Rahmat: cara jalan, senyum, potongan rambut, hingga raut wajah. Ditambah lagi, beberapa tanda khusus Rahmat juga dimiliki Riko. Sebut saja misalnya, luka di atas kening, di paha, dan lutut.

“Riko, luka di atas kening kamu itu kenapa?” tanya Tarmizi seketika.

“Kena kawat waktu jatuh dari sepeda,” jawab Riko.

Jawaban Riko membuat Tarmizi dan Suryani terhenyak.Tapi mereka berusaha menguasai diri. Tarmizi berusaha tersenyum. “Kok bisa sama ya. Rahmat juga punya bekas luka di atas kening,” kata dia.

Sontak saja seisi ruangan terpana. Kakek Riko mengatakan ikut prihatin dengan apa yang menimpa keluarga Tarmizi. “Saya ikut prihatin. Kalau ibu benar-benar rindu dengan anak ibu, saya juga persilakan ibu melepaskan kerinduan dengan cucu saya ini,” kata sang kakek tak meneruskan ucapannya.

Kesempatan ini benar-benar dipergunakan Tarmizi dan Suryani untuk menelisik kemiripan Rahmat dengan Riko.Tiga luka di tubuh Rahmat dimiliki Riko. Anehnya, luka-luka itu berada pada bagian tubuh yang sama, seperti luka di betis, paha, dan di atas kening. Hanya saja, tahi lalat yang ada di kepala Rahmat, tidak ditemukan pada diri Riko. “Tahi lalat di kepala anak saya kecil,” kata Suryani usai menyibak rambut lurus Riko.

***

Tarmizi dan Suryani ingat benar tragedi yang merampas buah ha¬tinya. Saat gempa 8,9 pada skala Richter menggoyang Aceh pagi Minggu, 26 Desember 2004, mereka masih di rumahnya di kawasan Dusun Mon Singet, Desa Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.

Usai gempa, Tarmizi membawa dagang¬annya ke Pasar Aceh, sekitar 10 kilometer dari rumah. Rahmat, anak kedua pasangan ini, meminta ikut sang ayah. Namun permintaan itu ditolak Tarmizi. Dia meminta Rahmat menyusul dengan ibunya, Suryani.

Bersama Rahmat, Suryani menggendong Fitrah—saat itu berusia sembilan bulan—menyusul sang ayah dengan menumpang angkutan kota. Beranjak satu kilometer, ia dikejutkan gelombang warga berlarian dengan wajah ketakutan ke arah berlawanan. Ia masih bingung apa yang terjadi.

“Air laut naik,” Suryani heran mendengar teriakan warga. Jalanan berubah menjadi lautan manusia. Turun dari labi-labi, ia berlari menghindar air bah. Sial, bajunya tersangkut kawat. Berkali-kali dia berusaha menarik bajunya, tapi gagal. Rahmat, anaknya, telah di depan. Namun melihat ibu dan adiknya tersangkut, dia berusaha membantu menarik baju ibunya. Berhasil.

Bebas dari kawat duri, tak berarti Suryani terbebas dari ancaman air. Saat berlarian, Suryani kembali terjatuh—bersama bayi mungilnya. Lagi-lagi, Rahmat berusaha menolong ibu dan adik kecilnya. “Padahal, saya suruh Rahmat lari menyelamatkan diri. Tapi dia tidak mau dan membantu saya,” ujar perempuan kelahiran Singkil itu.

Entah bagaimana, Suryani terpisah dengan buah hatinya. Ia sendiri sempat digulung gelombang air laut yang murka. Setelah air surut, Suryani memutuskan mencari anak-anaknya. Tiga anaknya berhasil ditemukan. Tapi Rahmat, hilang.

Sehari setelah tsunami, Suryani dan Tarmizi kembali ke kampung. Berhari-hari mereka mencari jejak Rahmat. Semua jenazah yang dijumpainya diperhatikan seksama. Tak ada jasad kaku Rahmat. Malah, pencarian dilakukan sampai ke Sumatera Utara. Lelah mencari, mereka mengikhlaskan kepergian Rahmat, kendati tidak yakin tsunami telah merenggut anaknya.

***

Tiga setengah tahun telah lewat. Suatu siang di bulan Maret, di rumah barunya di Kompleks Cinta Kasih Budha Tzu Chi, Desa Neuheun, Aceh Besar, mata Suryani terpacak pada sosok bocah kecil di televisi. Sosok itu tak asing baginya. “Dia mirip sekali dengan anak saya,” katanya.

Dia lantas memanggil suaminya. Suryani malah langsung bilang bahwa itu adalah Rahmat, anak mereka yang hilang dalam gelombang tsunami. Tapi, Tarmizi tak percaya begitu saja. Dia berusaha meyakinkan istrinya bahwa Riko yang tampil di Idola Cilik RCTI itu hanya mirip anak mereka. Tapi, para tetangga yakin Riko adalah Rahmat, anak mereka yang hilang.

Suami-istri ini lalu mencari nomor telepon stasiun RCTI. Berkali-kali mereka mendatangi stasiun transmisi RCTI di Mata Ie. Sejumlah nomor telepon yang diberikan petugas transmisi gagal tersambung. Kecewa, Tarmizi sempat membanting telepon genggang kesayangannya.

Tak kehilangan akal, mereka mendatangi tempat nongkrong jurnalis di Banda Aceh. Di sana, mereka bercerita kemiripan anaknya dengan Riko Anggara. Bahkan, mereka mengatakan bahwa Riko adalah anak mereka. Keyakinan itu tak berubah setelah mereka bertemu Riko.

“Saya yakin itu anak saya,” kata Suryani usai bertemu Riko. Keyakinannya bertambah karena keterangan keluarga Riko selalu berubah-ubah. Kadang kala, ibunya dibilang meninggal saat Riko masih berusia sembilan bulan. Di lain waktu, mereka berkata Riko kehilangan ibunya di usia lima tahun.

Saat mengajak Riko jalan-jalan di Tugu Monumen Nasional, Jakarta, Tarmizi dan Suryani menemukan banyak sifat Riko yang mirip Rahmat. “Anak saya paling tidak suka sama durian. Saat jalan-jalan itu, kami beli durian, tapi Riko tidak mau makan,” kata Tarmizi kepada ACEHKINI.

Sederet keanehan itu membuat Tarmizi dan Suryani masih menyimpan harapan bahwa Riko adalah Rahmat, buah hati mereka. Kini, mereka hanya berharap kejujuran keluarga Riko. “Keluarga si Riko tidak mau meyakinkan kami bahwa itu bukan anak kami. Seharusnya, mereka meyakinkan agar kami tidak ragu lagi.Misalnya, kalau itu bukan anak kami, ya tes darah.Tapi mereka tidak berani. Untuk periksa luka saja tidak dikasih nampak. Padahal luka itu ada semua,” kata Tarmizi.

Kini, Tarmizi hanya bisa berharap misteri Riko terungkap. “Riko sering menelepon waktu saya telah tiba di Aceh. Kadang-kadang dia mengaku tidak bisa tidur karena teringat kami,” ujarnya.[a]

Senin, Mei 12, 2008

Buang Pening ke Penang

Oleh FAKHRURRADZIE GADE
ACEHKINI Writer

Fitria Hayati kerap sulit bernafas. Setiap kali menghirup udara, mahasiswi semester pertama Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ini sering merasakan sakit di dada. Kondisi kesehatannya terus menyusut. Awal Desember 2007 lalu, keluarganya memboyong Fitria ke Rumah Sakit Harapan Bunda. Di sana, anak pasangan Zainal Abidin Latief dan Halimah ditangani dokter spesialis saraf. Tak lama, Fitria berpindah tangan ke dokter penyakit dalam.

Setelah dirontgen, dokter memvonis ia menderita TBC, batuk mematikan. Tak lupa sang dokter menulis deretan resep obat yang harus diminum. Dirawat beberapa hari, keluarganya memilih memulangkan Fitria. Padahal, kondisinya belum membaik. Dokter menganjurkan Fitria dibawa ke sebuah rumah sakit di Medan, Sumatra Utara. “Dokter juga melarang adik saya dibawa ke rumah sakit di Pulau Pinang, Malaysia,” ungkap Mukhtar, abang ipar Fitria, kepada ACEHKINI.Beberapa hari di rumah, sakit Fitria kembali kambuh. Kali ini, ia diboyong ke Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin. Setelah diperiksa, dokter mengabarkan ada cairan di paru-paru yang mengganggu pernafasan. Diagnosa dokter spesialis di Harapan Bunda melenceng jauh. Cairan yang ada di sekitar paru-paru pun disedot melalui pembedahan kecil. Ada 500 mililiter cairan dikeluarkan dari tubuh warga Perumnas Jeulingke, Banda Aceh, ini.

Kendati cairan sudah disedot, dokter menganjurkan Fitria mengonsumsi obat TBC. Hasilnya? Badannya menguning. Rupanya, itu pengaruh obat. Tapi, dokter bilang Fitria terserang penyakit kuning atau hepatitis. Tak kunjung sembuh, hari ke-20 di RSUZA, ia dipulangkan ke rumah.

Sesampai di rumah, Fitria kembali mengeluh sakit yang sama. Lelah berobat di Aceh, keluarga akhirnya memilih memboyong dara ini ke Rumah Sakit Lam Wah EE, Pulau Pinang, Malaysia, awal Januari silam. Diagnosa dokter Malaysia berbalik 180 derajat dengan hasil diagnosa dokter spesialis di Banda Aceh. “Adik saya ternyata menderita tumor paru-paru,” ujar Mukhtar.

Dokter menganjurkan pasien menjalani operasi pengangkatan tumor secepatnya. Biaya yang dibutuhkan mencapai 12.000 ringgit atau setara Rp 35 juta. “Saat itu kami bingung harus apa, karena belum ada uang. Tapi dokter bilang, pasien dioperasi saja dulu, uang bisa menyusul,” lanjut Mukhtar. Usai operasi, dokter berhasil mengangkat tumor seberat 443 gram.

Kini, Fitria sudah mulai normal. Berat badannya kembali beranjak naik. Namun, ia masih harus bolak-balik Penang-Aceh untuk sekadar cek kesehatan rutin pascaoperasi.

Fitria sedikit beruntung: punya kesempatan memilih rumah sakit. Tapi bagi Aulia Andra (13 bulan), Darwis Tarmizi, dan Nurjannah (8 tahun), bisa berobat ke rumah sakit saja adalah mukjizat. Aulia Andra, balita asal Desa Meunasah Baro, Seulimum, Aceh Besar, terpaksa harus meringis kesakitan di pembaringan dalam bangsal Mickey RSUZA.

Nasib lebih tragis menimpa Darwis Tarmizi, balita asal Indrapuri. Setelah lebih sebulan dirawat di rumah sakit plat merah ini, keluarga memulangkan Darwis. Gara-garanya, sang ayah sudah tak kuasa lagi menanggung biaya hidup istri, dan kedua orangtuanya yang menjaga Darwis. Sayang, setelah beberapa hari di rumah, Darwis yang dirawat dengan menggunakan asuransi kesehatan masyarakat miskin (Askeskin) menghembuskan nafas terakhir.

***

Pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin masih menjadi masalah di Aceh. Tak jarang, pasien yang berobat dengan Askeskin mendapat pelayanan buruk dari rumah sakit. Sri Wahyuni, misalnya. Warga Desa Alue Awe, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, ini memendam kecewa terhadap pelayanan rumah sakit. Pasalnya, buah hatinya yang baru berusia empat bulan harus meregang nyawa saat sedang dirawat. Pada 21 Januari 2008, Andriansyah, nama anaknya, diboyong ke RSU Cut Meutia, Aceh Utara, karena demam, susah buang air besar dan sulit bernafas.

Andriansyah, berusia empat bulan, merupakan anak pasangan Sri Wahyuni dan Suhendra. Keluarga muda ini tergolong miskin. Untuk mengobati anak semata wayang, mereka harus bermodalkan rekomendasi dari Komite Peralihan Aceh. Menurut Sri Wahyuni, sejak dirawat di ruang Seulanga IV, Andriansyah kurang mendapat perawatan paramedis. Sri Wahyuni kerap bersitegang dengan perawat saat menyampaikan keluhan anaknya. Bahkan, perawat pernah menyuruh agar Andriansyah dikompres saja untuk mengurangi demam.

Buruknya pelayanan membuat Sri Wahyuni berusaha memindahkan perawatan anaknya. Tapi upaya itu sia-sia, karena perawat mengancamnya. “Kalau pindah, semua biaya obat dari hari pertama masuk harus dibayar semua,” kata Sri kepada ACEHKINI menirukan ancaman perawat. Sri tak kuasa. Dia mengalah, pasrah.

Tak berapa lama mendapat perawatan di RSU Cut Meutia, pada 21 Januari, sekitar pukul 02.00 WIB, kondisi kesehatan Andriansyah semakin memburuk. Namun, ia tak cepat ditangani. Baru sejam kemudian, perawat datang dan memasukkan NDT ke tubuhnya. Dari rongga mulut dan hidungnya keluar cairan biru. Tak berapa lama, Andriansyah menghembus nafas terakhir.

“Anak saya mungkin sudah ajalnya sampai di situ, tetapi yang membuat saya kecewa adalah pelayanan buruk dari pihak rumah sakit,” kata Sri Wahyuni.

Kepala Bagian Perawatan RSU Cut Meutia Sadli Hanafiah membantah pihak rumah sakit menelantarkan pasien. Namun dia berjanji akan mengecek kepada bawahannya. Kalau terbukti, “Kita akan memberikan sanksi kepada petugas yang melakukan kesalahan,” katanya saat dikonfirmasi ACEHKINI. Ia menyebutkan, pihak rumah sakit acap memberikan sanksi kepada petugas yang lalai menangani pasien. Sanksi itu beragam. Kadang kala dikurung dalam kamar jenazah.

Tak hanya di Lhokseumawe, di rumah sakit pemerintah di Banda Aceh pasien sering mengaku kecewa. Simak saja pengalaman Basri. Warga Grong Grong, Kecamatan Delima, Pidie, ini terpaksa harus menelan kekecewaan terhadap pelayanan rumah sakit plat merah di Banda Aceh.

Basri membawa anaknya berobat ke RSUZA akibat kecelakaan lalulintas. Sebelumnya, Basri mengobati anaknya di RSU Sigli. Meski memegang kartu Askeskin, tak berarti Basri tak harus merogoh kantong untuk biaya pengobatan. Dia harus menebus obat bius, benang jahit, dan obat lain agar anaknya bisa dioperasi. Lumayan besar juga biaya yang dikeluarkan: Rp 1,5 juta.

Bagaimana dengan pelayanan? Menurut Basri, dalam sehari dokter hanya sekali mengontrol pasien. Selebihnya, hanya perawat keluar-masuk ruangan bila ada keluarga pasien yang memanggil.

***

Saat berkampanye sebelum terpilih jadi gubernur dan wakil gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar, pernah menjanjikan akan memperbaiki pelayanan kesehatan di Aceh. Bahkan, dia sesumbar akan membebaskan biaya berobat bagi warga kurang mampu. Setahun sudah Irwandi-Nazar bercokol di puncak kekuasaan, belum terlihat perubahan di sektor pelayanan kesehatan. Padahal, fasilitas medis di Aceh tak kalah bersaing dengan rumah sakit di daerah lain, terutama pascatsunami.

Dalam setahun ini makin banyak warga Aceh yang memilih berobat ke Malaysia atau Singapura. Irwandi dan Nazar bukannya tak sadar akan hal ini. Saat meresmikan RSU Meuraxa, Irwandi menyentil kegemaran warganya berobat ke Penang. Dia bertekad, dalam waktu lima tahun berkuasa jumlah warga Aceh yang berobat ke luar negeri bisa menurun, seiring dengan perbaikan pelayanan kesehatan dan fasilitas medis di Aceh.

Menurut Irwandi, tantangan dalam memberikan pelayanan kesehatan bagus bagi warga Aceh masih terkendala fasilitas dan sumber daya manusia yang dimiliki rumah sakit di Aceh. “Selama ini ada rumah sakit, tidak ada alat. Ada alat, tidak ada dokter. Ada dokter tapi tidak cukup perawat,” kata Irwandi usai meresmikan RSU Meuraxa, 11 November 2007.

Dia menyebutkan, selama ini warga Aceh berobat ke Malaysia karena minimnya fasilitas dan pelayanan kesehatan yang diberikan pihak rumah sakit kepada pasien belum maksimal. “Kalau alat canggih, pelayanan rumah sakit bagus, dan dokter ahli memadai, saya yakin ini akan membuat orang Aceh betah berobat di sini,” kata dia.

Saat meresmikan RSU Meuraxa, Irwandi berjanji akan memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan di tahun 2008, agar penduduk Aceh tidak (sering) berobat ke Malaysia. “Saya pikir tahun berikutnya, marilah kita menghemat anggaran pengobatan. Berobat bisa di Aceh saja dengan harapan agar mutu pelayanan kesehatan lebih bagus. Kalau tidak bisa lebih bagus, minimal samalah dengan mutu pelayanan di Malaysia,” ujar Irwandi.

Tapi itu hanya sebatas harapan Irwandi. Nyatanya, pelayanan kesehatan di Aceh tak kunjung membaik dan semakin banyak warga Aceh yang berobat ke Penang. Bagi mereka, berobat di Aceh sudah cukup membuat kepala pening: administrasi yang njilimet dan pelayanan kesehatan di bawah standar. Simak saja ucapan seorang keluarga Fitria,”Pening kita berobat di Aceh. Peng abeh, puleh han.” [a]

Laporan: Imran MA (Lhokseumawe), dan Dedek (Banda Aceh)

Sabtu, Maret 08, 2008

Bisnis Mantan Kombatan GAM

Oleh FAKHRURRADZIE GADE
Acehkita Writer

SEBUAH truk colt warna kuning tiba-tiba berhenti di sebuah toko berlantai dua di kawasan Kota Mini, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie. Di badan truk itu tertulis H.M.R, dengan stiker warna hijau nyala. Truk itu berlepotan dengan pasir. Pertanda, baru saja menurunkan muatannya. Tak berapa lama, truk kembali melaju ke arah barat Kota Mini.H.M.R yang tertera di badan truk itu adalah singkatan dari Halimon Meugah Raya. Ini merupakan sebuah perusahaan yang didirikan oleh bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Pidie. Toko yang disinggahi tadi merupakan kantor perusahaan tersebut.

Tidak banyak yang mengetahui kalau di toko itu GAM mengelola sebuah perusahaan yang baru didirikan pada awal Mei 2006 itu. Pasalnya, lantai dasar digunakan sebagai toko buku. Sedangkan PT HMR berkantor di lantai dua.

Jangan menduga perusahaan ini dipadati pegawai yang sedang sibuk bekerja. Atau berbagai kesibukan lain laiknya sebuah perusahaan. Tidak ada kesibukan berarti. Di lantai dua, tempat perusahaan itu bermarkas, hanya ada enam meja rapat dan sejumlah kursi plastik warna hijau. Tidak ada yang namanya ruangan untuk direktur atau pemegang saham. Atau meja komputer untuk pegawainya. Hanya ada satu ruangan kosong yang difungsikan sebagai tempat istirahat dan ibadah.

Meja komputer, hanya ada di lantai bawah, tempat yang selama ini dijadikan sebagai toko buku. Di situ, hanya ada dua komputer dan satu unit printer. Selebihnya, lemari ukuran besar yang tidak terisi. Hanya rak paling bawah yang ada isinya, berupa beberapa bundel dokumen. Salah satu dokumen adalah akta pendirian perusahaan tersebut.

Dalam akta itu tertulis nama Sardjani Abdullah, Anwar Husen, Aiyub Abbas, Sayed Rizal Fahlevi, Abubakar Usman, dan Mahdalena. Mereka adalah para pentolah GAM di Pidie. Dua nama yang disebutkan pertama adalah petinggi GAM wilayah Pidie.

Menurut Muhammad Bardan, 41 tahun, wakil kepala pengangkutan, PT Halimon Meugah Raya sudah didaftarkan ke notaris, Gabungan Pengusaha Konstruksi Nasional (Gapeknas) Pidie, dan juga sudah mendapatkan Surat Izin Usaha Perusahaan (SIUP). “Secara legal sudah ada semua,” kata Muhammad Bardan saat ditemui Aceh Magazine di kantor HMR, medio Juni lalu, sambil memperlihatkan segepok dokumen.

Perusahaan yang dipimpin Said Rizal Fahmi ini didirikan dengan modal dari dana reintegrasi bagi bekas pasukan GAM. Saat itu, Badan Reintegrasi Damai Aceh telah menyalurkan bantuan 113 bekas kombatan itu. Besaran dana yang disalurkan adalah Rp 12,5 juta per orang. Uang itu lalu dikumpulkan dan dijadikan sebagai modal mendirikan perusahaan.

Pendirian perusahaan ini, menurut Muhammad Bardan, telah disetujui semua bekas kombatan GAM wilayah Pidie. Pasalnya, ide pendirian ini telah dimusyawarahkan dengan semua gerilyawan yang ada di kawasan tersebut.

“Modal pendirian perusahaan ini murni dari dana reintegrasi. Penggunaan dana itu atas persetujuan KPA (Komite Peralihan Aceh) Pidie. Semua pasukan juga menyetujuinya, karena sudah ada musyawarah,” ujar bekas panglima muda daerah tiga Caleue ini.

Lantas, kenapa dana reintegrasi yang seharusnya dibagikan kepada para bekas kombatan dijadikan modal untuk mendirikan perusahaan? Bardan punya jawabnya. Menurut pria berkumis lebat ini, jika uang sebesar Rp 1,4 miliar itu dibagikan kepada semua bekas kombatan, maka uang itu tidak akan merata. “Jadi kami bentuk badan usaha untuk kesejahteraan bekas TNA. Badan usaha ini nantinya akan kita kembangkan. Nah, keuntungannya nanti kita bagi kepada semuanya,” jelasnya pria yang mengaku pernah mendapatkan pendidikan militer di Libya itu.

Berbekal dana Rp 1.412.500.000 (113x12.500.000 –-red.) itulah, mereka mengurus perizinan, menyewa kantor, dan membeli peralatan. Terakhir, perusahaan ini membeli lima unit truk Mitsubishi Colt Diesel HD 120 Ps. Truk ini menjadi tulang punggung perusahaan.

Perusahaan bergerak dalam bidang pengangkutan pasir, walaupun di plang nama tertulis sejumlah bidang usaha lainnya, semisal kontraktor, laveransir, ekspor, dan impor. “Sekarang baru di bidang pengangkutan,” ujar Bardan, pria berbadan tegap itu.

Walaupun didirikan dengan meuripee (patungan) antarbekas kombatan GAM, tidak semua pekerja di sana mempunyai latar belakang sebagai anggota di organisasi tersebut. Untuk lima orang sopir, misalnya, semua direkrut dari warga biasa yang sudah berpengalaman di bidang itu. “Pertama kita minta dari anggota GAM. Kalau tidak ada, kita berikan kepada siapa saja yang bersedia,” terang Bardan.

Lima sopir yang dipekerjakan di perusahaan yang baru seumuran jagung itu, digaji berdasarkan persenan. “Sopir kami gaji 30 persen dari pendapatan total seharian,” sebutnya.

Halimon Meugah Raya bukanlah unit bisnis pertama yang didirikan bekas gerilyawan penuntut kemerdekaan Aceh itu. Sebelumnya, Muzakkir Manaf, bekas panglima TNA, telah mendirikan PT Pulau Gadeng. Perusahaan ini bergerak di bidang ekspor-impor hasil bumi dari dan ke Aceh.

Perusahaan ini didirikan tidak terlepas dari kerjasama yang dilakukan Aceh World Trade Center (AWTC) Holding Sdn. Bhd dengan perusahaan pelayaran ASDP Malaysia. AWTC adalah perusahaan yang berkedudukan di Malaysia dan sahamnya dimiliki oleh sejumlah petinggi GAM di sana. Dalam nota kesepakatan dengan ASDP pada Minggu, 15 Januari lalu, AWTC akan membuka jalur angkutan laut dari Penang (Malaysia) ke pelabuhan umum Krueng Geukueh, Aceh Utara.

Dalam pelayaran perdana pada 27 Januari lalu, perusahaan ini mengimpor berbagai hasil bumi di Aceh, seperti pinang, ke Malaysia. Selain itu, perusahaan yang dipimpin Muzakkir Manaf ini juga mengimpor gula dan bawang putih dari negara di semenanjung Malaya itu.

Ternyata, langkah Muzakkir Manaf ini diikuti para bawahannya. Bukan hanya bekas kombatan di wilayah Pidie yang mengikuti jejak sang petinggi. Sejumlah bekas pasukan GAM di Pasee (Aceh Utara) juga ada yang bergerak dalam bisnis, kendati tidak melibatkan GAM sebagai institusi.

Di Aceh Utara, Komite Peralihan Aceh memperoleh hak pengelolaan tata usaha tandan buah segar kelapa sawit yang diolah PT Perkebunan Nusantara 1 Cot Girek. Dalam sebuah pertemuan yang melibatkan KPA, PTPN-1, dan Penjabat Bupati Aceh Utara Teuku Pribadi, disepakati bahwa KPA mendapat hak 40 persen dan Puskobun 60 persen hak tata usaha tersebut. Setelah mendapatkan persenan ini, KPA nantinya akan menjadi rekanan PTPN-1 dan bisa membeli kelapa sawit.

KPA Blang Pidie juga mendirikan unit usaha dengan bermodalkan dana reintegrasi. Menurut Juru Bicara KPA Teungku Zainal Cot, dari 112 personel GAM, baru 37 orang saja yang memperoleh dana yang dijanjikan pemerintah tersebut. “Itu pun baru dapat setengah dari bantuan. Jadi per orang baru dapat Rp 12,5 juta,” kata Zainal kepada acehkita.com, pertengahan Oktober lalu, saat ditemui di Blang Pidie.

Dana reintegrasi yang telah diterima anggota GAM, kata Zainal, berjumlah Rp 462.500.000. Kini, dana tersebut dikelola oleh KPA dan digunakan untuk membuka usaha. “Usaha rental beco dan pengangkutan material bangunan, seperti tanah dan pasir,” ujar Zainal yang diamini bekas Juru Penerang GAM Blang Pidie, Teungku Kamaluddin alias Teungku Young.

“Kalau dibagi untuk semua anggota GAM, satu orang paling hanya dapat Rp 500 ribu saja,” lanjut Teungku Young, yang kini bekerja sebagai petani.

Cerita di atas adalah cerita tentang mereka yang telah memperoleh dana reintegrasi. Namun, simak apa yang dikemukakan Ketua KPA Lhoong Juli Muliadi.

Menurut Juli, KPA sudah mengajukan nama-nama anggota yang berhak memperoleh dana reintegrasi itu. Namun, belum satu pun yang cair. Dia juga mengatakan, kini anggotanya masih hidup luntang lantung. Dari 47 anggota GAM baru 10 yang mempunyai pekerjaan.

“Itu pun kerja serabutan. Kami berharap dana yang telah dijanjikan bisa dicairkan dan digunakan untuk modal usaha,” ujar Juli.

Terkait banyaknya anggota GAM yang belum memperoleh dana reintegrasi, Sekretaris Badan Reintegrasi Damai Aceh, dr. Haniff Asmara, mengatakan, pemerintah akan menuntaskan penyaluran dana itu pada akhir November ini. Apalagi, pihak GAM telah menyerahkan daftar 3.000 nama anggotanya yang berhak mendapatkan dana tersebut.

"Pada 10 November lalu GAM menyerahkan daftar nama anggotanya. Kita sudah mengklarifikasi untuk 3.000 orang. Sebagian besar sudah lengkap dengan nama dan alamat jelas. Pekan ini (maksudnya pekan depan --red.) selesai," kata Haniff kepada wartawan beberapa waktu lalu. [dzie]

(Jamaluddin menyumbang bahan untuk laporan ini dan dipublikasikan di situs berita acehkita.com dan majalah Aceh Magazine)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting