Sabtu, Agustus 29, 2009

Reuni Kapten dan Penyerang

Oleh Fakhrurradzie Gade & Jamaluddin

Hasan Tiro mahir menggiring si kulit bundar. Tendangannya kerap membobol gawang lawan.

“I can’t speak English,” kata Azhari saat Hasan Muhammad di Tiro menanyakan namanya.

Pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu lantas bertanya dalam bahasa Arab. “Man ismuka?”

“Ismi Azhari,” jawabnya.

“Azhari...?” Raut wajah Hasan Tiro berubah. Ia terlihat menebar senyum. Azhari lalu dipersilakan duduk di sisi kirinya. Keduanya lantas melepaskan kerinduan yang sudah lama terpendam. Azhari berkali-kali meraba tangan kiri Hasan Tiro, mencubit kecil tangan kerutnya yang sudah renta.

“Kita sudah tua,” katanya, masih dalam bahasa Arab. Hasan Tiro mengangguk.

Azhari dan Hasan Tiro berteman sejak kecil. Dulu, mereka satu sekolah di Madrasah Diniyah Islamiyah Blang Paseh, Sigli. Hasan Tiro merupakan adik kelas Azhari. Tapi, “dia terlalu pandai,” kenang pria berusia 85 tahun itu. “Dia sering loncat kelas, sehingga saya tertinggal di belakang.”

Tak mengherankan, Hasan Tiro dengan mudah bisa merampungkan pendidikan di sekolah yang diasuh Teungku Muhammad Daud Beureu-eh itu. Dia lantas bersekolah di Al Muslim Peusangan, Matang Geulumpang Dua, Bireuen. Sejak menamatkan sekolah di Blang Paseh, kedua sahabat karib itu tak pernah lagi bertemu.

Tapi, jarak yang memisahkan keduanya tak lantas membuat mereka saling melupakan. Azhari selalu mengikuti perkembangan Hasan Tiro melalui surat kabar. Begitu pula, saat kabar Hasan Tiro pulang kampung, 11 Oktober silam. “Saya selalu berdoa agar Allah memanjangkan umur saya dan bisa bertemu Hasan Tiro,” kata Azhari.

Doa itu dilafalkannya setiap usai menunaikan salat lima waktu. Doa itu pula yang disampaikan Azhari saat bersua dengan Hasan Tiro, di rumah adiknya di Dusun Tanjong Bungong, Desa Mali Cot, Kecamatan Sakti, Pidie, 14 Oktober silam.

“Sekarang, doa saya terkabulkan. Kita telah bertemu sekarang,” kata Azhari. Hasan Tiro hanya mengangguk. Keduanya terdiam. Tak berapa lama, reuni dua sahabat itu berakhir karena Hasan Tiro harus bersantap makan siang.

***

PERTEMUAN lima belas menit itu sangat berarti bagi Azhari. Ini merupakan pertemuan yang dinanti semasa hayatnya. Begitu koran-koran mengabarkan Hasan Tiro yang di kalangan aktifis GAM dikenal sebagai wali nanggroe akan pulang ke Aceh, Azhari telah mempersiapkan diri. Kabar itu ditulisnya di secarik kertas dan ditempel di pintu rumah, dekat ranjangnya. Saban hari, dia membaca kabar itu, menanti hari kepulangan Hasan Tiro tiba.

Ahad, 12 Oktober, sehari setelah Hasan Tiro menjejakkan kakinya kembali di Aceh, Azhari bersiap diri. Pagi-pagi sekali, saat matahari masih belia, dia telah datang di rumah Siti Aisyah, adik tiri Hasan Tiro. Pagi itu, Azhari mengenakan jas tua, yang dibelinya bersama Hasan Tiro dulu.

Jas hitam itu lusuh sudah. Warnanya telah pudar. Lama sekali jas itu disimpan di lemarinya. “Saya tidak pernah memakainya lagi,” kata Azhari.

Pagi itu, jas tua sengaja dipakainya, dipadu kemeja tua berwarna merah. “Saya pakai jas, biar sama dengan Hasan Tiro. Apalagi saya lihat dia memakai dasi merah. Saya pikir itu warna bajunya,” kata Azhari, tersenyum memperlihatkan gusi yang tak bergigi.

Namun, penantian itu tak membuahkan hasil. Hasan Tiro yang ditunggui, tak kunjung datang. Jelang siang, dengan sepeda mininya, dia kembali ke rumah. Jas yang dipakainya, dilipat dan kembali disimpan di lemari.

Besoknya, Azhari kembali mendatangi rumah Aisyah, yang berjarak sekitar 400 meter dari rumahnya. Azhari lagi-lagi harus memendam kecewa. Hasan Tiro yang ditungguinya tak jua datang. Sialnya, ban sepeda bututnya bocor saat pulang dari rumah adik Hasan Tiro. Baru pada Rabu, penantian itu membuahkan hasil. Itu pun, setelah bersusah payah menunggu sejak pagi.

Hampir saja Azhari tak bisa bertemu dengan teman sekaligus idolanya. Pasalnya, pengawalan Hasan Tiro sangat ketat. Azhari yang semula hanya mau bersalaman saja, tidak bisa. Hasan Tiro keburu digiring ke rumah sang adik.

“Saya didorong-dorong tidak boleh bertemu. Padahal saya hanya ingin salaman saja,” kata dia.

Untung saja, beberapa pengawal Hasan Tiro dikabari bahwa Azhari merupakan teman sepermainan bos mereka sewaktu kecil. Tak berapa lama, Azhari pun digiring ke dalam rumah dan dipertemukan dengan Hasan Tiro.

“Saya senang bisa bertemu Tengku Hasan Tiro. Sudah lama sekali kami tidak berjumpa,” kata Azhari pada ACEHKINI usai melepas kerinduannya.

Rindu Azhari benar-benar tertunaikan, meski ia harus rela sandal kesayangannya raib entah kemana. Memang, usai bertemu teman masa kecilnya itu, dia harus rela sandal Mirado coklat miliknya hilang. “Tapi tidak apa-apa, saya senang bisa bertemu teman saya,” ujarnya.

Azhari lega. Usai duduk bersanding dengan Hasan Tiro, dengan sepeda bututnya, Azhari kembali ke rumah. Kemeja hitam bermotif bunga dilepasnya. Dia langsung merebahkan diri di peraduan. “Saya senang sekali. Makanya, begitu pulang saya langsung tidur,” ujarnya. “Njoe teungeut-teungeut ka mangat.”

***

AZHARI ingat betul masa kecilnya bersama Hasan Tiro. Di mata Azhari, Hasan Tiro kecil, sosok yang cerdas. Saat bersekolah di Blang Paseh dulu, Hasan Tiro sangat menyukai pelajaran berhitung dan mengaji. Tak mengherankan jika kemudian Teungku Daud Beureu-eh, pejuang Darul Islam, merekomendasikan Hasan Tiro melanjutkan pendidikan di Al Muslim Bireuen. Usai di Al Muslim, Hasan Tiro mengambil jurusan Hukum Internasional di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Menurut Azhari, saat masih di Blang Paseh, Hasan Tiro nyambi sebagai tenaga pengajar di balai pengajian yang didirikan ayahnya, Muhammad di Tiro, di Tanjong Bungong. Di balai itu, Hasan Tiro berduet dengan Azhari mengajar anak-anak sekampungnya belajar ilmu agama dan umum. Balai pengajian itu kemudian jadi cikal-bakal lahirnya Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Tanjong Bungong, Desa Mali Cot. “Di sana, saya dan Hasan Tiro mengajar, ganti-gantian. Ada dua guru lagi, tapi saya tidak ingat lagi nama mereka,” kata Azhari.

Tak hanya pandai di bangku sekolah, Hasan Tiro kecil juga menjadi bintang di lapangan hijau. Dia pandai mengolah si kulit bundar. Azhari bilang, hampir saban hari usai sekolah atau mengaji, mereka menjejal kemampuan sepak bola. Tapi jangan membayangkan si kulit bundar yang mereka mainkan itu terbuat dari bahan kulit atau plastik. “Kami main bola boh giri,” kenang Azhari.

Boh giri adalah jeruk bali. Saban hendak main bola, Hasan Tiro memetik jeruk bali di kebun neneknya. Tak jarang, Hasan Tiro harus main kucing-kucingan dengan sang nenek. “Dia dilarang main bola, karena tidak baik kata neneknya,” ujar Azhari.

Karena Hasan Tiro sangat kepingin main bola, larangan itu tak dihiraukan. Dia rela saat harus “mencuri” jeruk bali di kebun neneknya untuk bisa menggiring si bundar di lapangan hijau. Azhari dan Hasan Tiro selalu berduet. Hasan Tiro sering bertindak sebagai penyerang kanan. Sedangkan Azhari di posisi kapten.

“Kalau bola sudah di kaki Hasan Tiro, pasti masuk. Tendangannya keras sekali,” kenang Azhari.

Mereka kerap memenangkan permainan. Bahkan, saat berlaga di kampung tetangga, duet Hasan Tiro-Azhari selalu membuat kesebelasan Tanjong Bungong keluar sebagai pemenang. Tarkam alias permainan sepak bola antarkampung menjadi favorit mereka. Jika sudah berlaga di arena tarkam, Tanjong Bungong selalu unggul. Azhari masih ingat saat mereka mengalahkan kesebelasan Titeue, Beureunuen, dan Lamlo. Dalam ajang tarkam itu, Hasan Tiro selalu berhasil menjaring boh giri ke jaring lawan.

Tentu, reuni singkat antara kapten dan penyerang itu tak hendak menjejal lagi kemampuan mengolah si kulit bundar. Keduanya, kini telah renta dimakan usia. [a]

Pesta Kecil Menyambut Cut Abang

Oleh FAKHRURRADZIE GADE & JAMALUDDIN

Sang adik mempersiapkan segalanya, demi menyambut kepulangan Hasan Tiro. Bersama warga desa pedalaman itu, dia menata semuanya, bagaikan pesta, hingga makanan kesukaan cut abang disiapkan.

Matahari baru sepenggalah, saat Siti Aisyah keluar dari rumahnya. Dia bergegas menuju kios yang ada di depan rumah. Di sana, dia bertemu sejumlah warga yang menunggu kepulangan Hasan Tiro, abang kandungnya dari ibu yang berbeda.

“Nyak Liah, tolong petik kelapa beberapa butir, ya,” kata Aisyah kepada Ilyas, yang berdiri di sampingnya. Ilyas mengangguk. “Bereh njan. Buet peue yang hana bereh meunye ngon lon (Beres, pekerjaan apa yang tidak beres kalau saya yang kerjakan),” timpal Ilyas, setengah bercanda. Aisyah tersenyum. “Teungku, kapan Cut Abang pulang?” tanya Ilyas. Teungku adalah panggilan masyarakat setempat pada Aisyah. Dia hanya menggeleng. “Tidak tahu. Kita hanya menunggu, saya tidak berani tanya,” jawabnya.

Aisyah meninggalkan kios. Ilyas menyusulnya. Tiba-tiba, di bawah pohon sawo, kaki Aisyah berhenti. Matanya melihat ke bawah. “Nyak Liah, nyoe pat mantong cot anoe jih, teusireuk watei tagidong (Ilyas, ini masih ada gundukan pasir. Tolong ratakan),” ujar Aisyah.

Ilyas manggut-manggut. Di depan Aisyah, dua perempuan terlihat sibuk menyapu dedauan sawo yang berguguran. Seketika, tanah kosong itu bersih.

Kesibukan tak hanya di luar pagar rumah. Di pekarangan, tiga helai daun pisang muda dijemur. “Nyan on keu timphan,” kata Aisyah, sembari mempersilakan ACEHKINI duduk di bangku yang ada di sisi kanan tangga rumah Aceh.

Rumah Aisyah berada di Desa Mali Cot, Dusun Tanjong Bungong, Kecamatan Kota Bakti, Pidie. Dua puluh lima meter sebelah kanan rumah, sebuah jembatan gantung yang menghubungkan Desa Pande dan Tanjong Bungong, berdiri tegak. Air sungai Tiro mengalir jernih di bawahnya.

Beberapa pria berkumpul. Sebagian sibuk menimbun pasir pada setiap lubang becek di halaman rumah. Ada juga yang sibuk, memasang kain berwarna merah bergaris hitam di sepanjang jalan menuju rumah. Banyak pula yang hanya duduk di depan sebuah kios, tak jauh dari jembatan.

Rumah Aisyah seketika berganti rupa. Di dalam rumah, para wanita berkumpul. Seperti ada pesta besar. Mereka sibuk mempersiapkan makanan khas Aceh, seperti timphan, ketan, dan kuah pliek u. Nyak Aisyah juga tak mau ketinggalan. Dia ikut memasak bersama puluhan perempuan di dapur rumahnya. Meski usianya sudah mencapai 81 tahun, namun Aisyah masih gesit. Ia ingin menyajikan masakan khusus untuk Cut Bang Hasan Tiro, langsung dari tangannya sendiri.

“Gobnyan deumpeue makanan galak, hana meuceh-meuceh, kuah pliek gobnyan pih galak syit (Abang suka makan apa saja, tak pilih-pilih, tapi yang paling digemari adalah kuah pliek)”, ujar Aisyah dalam bahasa Aceh, sembari memanggil keponakan agar menyediakan minuman bagi tamu yang datang.

Kisahnya, semenjak kepergian Hasan Tiro menuntut ilmu ke Bireuen dan kemudian ke luar negeri, dia nyaris tak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah tempatnya dilahirkan dulu. “Cut bang pernah pulang sekali tahun 1971, namun hanya sebentar,” lanjut Aisyah.

Dia bercerita, Hasan Tiro muda pernah mengajar pendidikan agama pada sejumlah anak-anak desa, di balai belakang rumah. Kini, tempat itu telah menjadi sebuah dayah. Menjelang kepulangan Hasan Tiro, dayah tempat pengajian inipun turut dipermak.

Halamannya ditaburi pasir, tempat wudhuk yang dulunya bocor sudah ditambal. Selang beberapa meter dari dayah, ada tempat pemakamam. Makam itu juga telah bersih dari rumput dan daun-daun yang berguguran. “Di sini kuburan orang tua dan abang kandungnya ‘wali’, sejak seminggu lalu sudah dibersihkan,” ungkap Waled, seorang warga sekitar. Dia juga mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Dua hari menjelang Tiro pulang kampung, Wakil Bupati Pidie, Nazir Adam, sempat mengunjungi rumah Aisyah, melihat persiapan. Dia menyumbangkan sejumlah pasir untuk ditimbun di halaman balai. Sedangkan camat setempat juga ikut membantu pemompa air untuk dayah. Urusan kebersihan bagian warga, yang bergotong royong mengecat dayah, menimbun jalan sampai memasang pompa air.

Dua hari kemudian, penantian Aisyah dan warga untuk melihat raut muka Hasan Tiro terwujud. Dari sebuah mobil mewah bernomor polisi BK 20 SD, kaki deklarator GAM, kembali manapaki menginjak rumah tempat ia dibesarkan. Aisyah tak mampu berkata-kata. Dari matanya yang penuh kedutan, bulir air mulai mengalir. Sesekali pandangannya dikaburkan oleh ramainya warga yang saling berebutan menyapa, “wali”.

Di pelukan sang abang, prosesi sipreuk breuh pade dilakukan, pertanda permohonan berkah dari Yang Maha Kuasa. Ucapan syukur terus meluncur dari bibir tua Asiyah yang tak pernah tersentuh lipstick itu. “Alhamdulillah…” ucapnya bergetar.

Beberapa pria renta berjejer di bawah tangga rumah. Mereka kawan sepermainan Hasan Tiro kecil. Sama seperti warga Tanjong Bungong lain, mereka mencuri mata untuk melihat sosok yang selama ini jauh dan hanya didengar nama. Pandangan mereka kerap terusik dengan tubuh kekar para pasukan pengawal. Mereka hanya melihat ‘wali’ dari celah sempit tubuh tim apet yang menjaganya masuk ke rumah.

Di dalam rumah, dia disanding di kasur pelaminan yang telah dipersiapkan. Hasan Tiro tersenyum dan selalu bertanya nama kepada setiap kerabat yang menyalaminya, termasuk pada adiknya Nyak Aisyah. Padahal saat penjemputan di bandara, Aisyah pernah bertemu muka dan berangkulan. Malik Mahmud, setia menyegarkan ingatan Hasan Tiro.

“Thank you, thank you…” Kata itu tak pernah lupa dia ucapkan. Pada kerumunan keluarga di dalam rumah, seorang cicitnya membalas, “I miss you, Abu chik”. [a]

[Edited by Riza Nasser]

Minggu, Agustus 16, 2009

Akhirnya, Wikipedia Berbahasa Aceh Lahir

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Pihak Wikimedia Foundation akhirnya menyetujui adanya Wikipedia dalam bahasa Aceh, sejak Kamis (13/8). Lahirnya Wikipedia berbahasa Aceh ini setelah pihak Yayasan Wiki menghubungi Mark Durie, doktor asal Australia yang meneliti bahasa Aceh.

Koordinator Aceh Blogger Community Fadli Idris mengaku menerima kabar disetujuinya Wikipedia Aceh dari Ivan Lanin, pengasuh Wikipedia Indonesia, dan secarik surat yang dikirim pihak Wikimedia Foundation ke inkubator Wiki versi Aceh.

Lahirnya Wikipedia berbahasa Aceh ini membutuhkan waktu panjang. Sejak dicetuskan oleh Muhammad Nabil Berry pada awal 2008 lalu, proyek Wiki Aceh sempat terseok-seok. Apalagi, banyak user yang semula telah mendaftar sebagai penyumbang bahan untuk lahirnya Wiki Aceh, satu-demi-satu akhirnya mengundurkan diri alias menjadi user-pasif.

Baru dua bulan terakhir ini, Nabil bersama Komunitas Blogger Aceh menggarap proyek ini lebih serius. Fadli menyebutkan, pihaknya sampai harus menghubungi Mark Durie, ahli bahasa asal Australia. Kebetulan, Durie sedang meneliti bahasa Aceh.

“Wikipedia meminta ada salah seorang yang ahli dalam bahasa Aceh, sehingga kami menawarkan Mark Durie untuk jadi ahli yang bisa dihuhungi,” kata Fadli kepada acehkita.com, Kamis (13/8).

Beruntung, sebut Fadli, Mark Durie mau membantu lahirnya Wikipedia brevaza Aceh ini. “Setelah diverifikasi ke Mark Durie, Wikipedia bahasa Aceh siap dicreate, namun memerlukan persetujuan dari language borrad dulu,” kata dia.

Fadli mengaku girang atas lahirnya Wiki Aceh ini. “Saya terharu, akhirnya usaha untuk melahirkan Wikipedia dalam bahasa Aceh terwujud,” ujar pemilik blog fadli.web.id ini. “Setelah ini, harus dipikirkan bersama untuk menyosialisasikan telah adanya Wikipedia dalam bahasa Aceh, dan harus kita perkaya isinya.” []

Rabu, Juli 15, 2009

Ayo, Menulis di Wiki Aceh!

FAKHRURRADZIE GADE
Anggota Aceh Blogger Community

Gara-gara membidani lahirnya Wikipedia berbahasa Aceh, ia sempat tak lulus matakuliah. Ini upaya anak muda melestarikan bahasa Aceh di jagat maya. Dan, Wikipedia berbahasa Aceh pun tinggal selangkah lagi.

DI awal tahun 2008, Muhammad Nabil Berri punya kesibukan baru. Saban hari ia menyambangi warung internet usai jam kuliah. Ia tak melahap situs berita atau jejaring sosial yang digandrungi kawula muda. Selama berjam-jam ia betah memelototi monitor komputer di warnet untuk memperbarui laman web yang baru dibuatnya.

Saat itu, Nabil baru saja membuat halaman Wiki dalam bahasa Aceh. Ia mengajukan proposal kepada Wikimedia Foundation untuk menyediakan halaman khusus bagi pengembangan bahasa dan budaya Aceh di situs ensiklopedi daring (online), Wikipedia. Wikipedia merupakan ensiklopedia daring yang digemari warga dunia. Keinginan Nabil untuk membidani lahirnya Wikipedia dalam bahasa Aceh, terinspirasi dari Wikipedia dalam sejumlah daerah. Sebut saja misalnya, ada Wikipedia dalam bahasa Jawa, Sunda, dan Banyumasan.

“Kenapa tidak ada dalam bahasa Aceh?” pikir Nabil waktu itu.

Dengan berbekal uang jajan sehari-hari, mahasiswa Fakultas Kedokteran ini menyambangi warnet dan menulis permohonan kepada Yayasan Wikimedia. Ia kemudian diberikan laman di ruang inkubator Wiki. Di sinilah, saban hari ia menulis dan memperbarui tentang Aceh dalam bahasa Aceh. Sebelumnya, Wikipedia hanya menyediakan informasi tentang Aceh dalam bahasa Indonesia. Nabil sendiri, sering memperbarui berbagai informasi tentang Aceh di Wikipedia berbahasa Indonesia.

Nabil tergerak untuk melestarikan bahasa Aceh. “Perlu ada Wikipedia berbahasa Aceh untuk pelestarian bahasa Aceh, dan ada keinginan dari orang untuk belajar bahasa Aceh,” kata pria kelahiran Banda Aceh 23 tahun silam.

Sejak itu, ia aktif mengampanyekan proyek barunya ini. Kampanye tak hanya dilakukan pada teman-teman kuliahnya, tetangga, dosen, penjaga pustaka tempat ia kuliah, tapi juga kepada sejumlah warga Aceh yang menetap di luar negeri yang ia kenal. Sayang, tak banyak sambutan positif yang ia peroleh.

“Tidak ada respons, mereka cuma bilang insya Allah,” kata Nabil.

Pun begitu, ia tak patah arang. Di bulan April 2008, bulan pertama ia menggarap Wikipedia berbahasa Aceh, ia berhasil menambah anggota jadi dua orang. Bulan berikutnya bertambah jadi empat, dan terus bertambah di bulan selanjutnya.

Semula, ia girang, karena ada minat dari sejumlah teman-temannya. Tapi, sayang, bertambahnya anggota justru tak menambah jumlah postingan informasi di Wiki Aceh. Karenanya, ia makin mengintensifkan kampanye. Ia sendiri setiap bulan harus memposting dan memperbarui minimal 10 informasi.

“Jumlah posting-an di bawah 10, dianggap user tidak aktif dan dicoret secara otomatis oleh Wiki,” kata pemilik blog http://nabilberri.wordpress.com ini.

Baru pada awal 2009, Nabil memperoleh suntikan anggota baru. Abi Azkia, yang baru bergabung di akhir tahun 2008, menginput berbagai informasi ke Wiki Aceh. Abi Azkia merupakan seorang pengajar ilmu agama di Lamlo, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie.

“Ia menulis artikel soal agama. Tulisannya bagus,” ujar Nabil.

Gara-gara mengerjakan proyek nirlaba untuk melestarikan dan menggalakkan penulisan dalam bahasa Aceh, Nabil sempat abai pada pendidikan di kampusnya.

“Saya tidak lulus beberapa matakuliah. Pulang kuliah bukannya belajar, tapi langsung ke warnet untuk ngerjain ini,” kata alumnus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Banda Aceh. “Bahkan ada yang bilang, peue ka pungo?”

Kendati kuliah di Kedokteran, ketertarikan Nabil justru di bidang budaya dan bahasa. Selain mengelola blog pribadinya, Nabil juga aktif menggawangi blog bahasa Aceh yang beralamat di http://bahasaaceh.wordpress.com. Di blog ini, ia menulis sejumlah kosa-kata Aceh, seperi angka, ungkapan utama, kata tunjuk, kata tanya, hubungan bahasa Aceh dengan bahasa Melayu yang ditulis dalam empat seri, makanan, warna, dan berbagai postingan informatif lainnya. Banyak pengunjung yang merasa terbantu dengan adanya blog yang diasuh Nabil.

Nabil mengaku kesulitan dalam membidani lahirnya Wiki berbahasa Aceh ini. Selain karena literatur yang minim soal bahasa Aceh, juga terdapat dialek yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Nabil yang berasal dari Banda Aceh, harus bisa mengakomodasi pengunjung Wiki yang berasal dari kabupaten lain di Aceh.

Karenanya, ia berharap ada ahli bahasa Aceh yang mau membantu mengerjakan proyek ini, setidaknya memperbaiki tatabahasa Aceh yang sudah mereka tulis di
http://incubator.wikimedia.org/wiki/Wp/ace/ôn_Keuë.

Wiki berbahasa Aceh yang digagas Nabil (di Wiki dia punya akun Si Gam Acèh) kini sudah mendapat suntikan pengguna baru. Ia kini dibantu Fadli Idris. Aktivis Aceh Blogger Community ini tergerak untuk membantu Nabil melahirkan Wiki berbahasa Aceh. Saban hari mereka mendiskusikan tampilan dan informasi yang akan disajikan di halaman Incubator Wiki Aceh.

“Saya ingin bahasa Aceh tidak hilang di bawah pengaruh bahasa-bahasa lain. Dan generasi muda Aceh jangan malu menggunakan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari,” kata Fadli.

Menurut Fadli, Wikipedia berbahasa Aceh tinggal selangkap lagi mendapat persetujuan Wikimedia Foundation. Empat hari lalu, Fadli telah mengirim surat kepada Mark Durie,Ph.D, ahli linguistik yang mempelajari bahasa Aceh, asal Australia.

“Alhamdulillah, dia merespons positif. Nanti, pihak Wikimedia akan menghubungi beliau untuk mengonfirmasi apakah ini benar bahasa Aceh,” kata pemilik blog fadli.web.id ini.

Pun begitu, Fadli mengajak warga dan ahli bahasa Aceh untuk terlibat dalam pengerjaan Wikipedia berbahasa Aceh ini. Ia menyebutkan, Bahasa Acèh di wikipedia masih berada dalam incubator (tabung penetasan) yang membutuhkan perawatan untuk bisa menetas dengan baik.

Untuk bisa keluar dari incubator dan memiliki subdomain sendiri [ace.wikipedia.org], kata Fadli, masih membutuhkan perjuangan dan dukungan dari segenap pemuda Aceh yang bangga akan bahasa Acèh. Dibutuhkan sedikitnya 10 artikel setiap bulan. Sayang, untuk memenuhi batasan minimal ini, Fadli, Nabil, dan Abi Zaskia harus bekerja ekstra keras.

“Untuk dukungan saja masih 21 orang yang memberikannya. Sungguh naif memang dengan jumlah pengguna lebih dari 3 juta orang, namun sampai saat ini bahasa Acèh masih tertatih-tatih untuk bisa keluar dari inkubator Wikipedia,” sebutnya.

Nabil dan Fadli mengajak warga Aceh untuk terlibat dalam proyek Wiki ini. “Agar bahasa kita lestari. Mari kita cintai bahasa Aceh,” ujar Fadli. []

Artikel ini dimuat di Tabloid Kontras edisi 16 Juli 2009.

Jumat, Juli 03, 2009

Mari Bantu Nurjannah, Penderita Lumpuh Layu


DUA malam lalu saya terperangah, ketika membuka surat elektronik. Di kotak pesan sudah ada kiriman foto dari Yo Fauzan, teman saya di acehkita.com. Dia mengirim foto anak berusia 21 tahun, yang menderita lumpuh layu sejak berusia empat bulan. Sungguh miris!

Anak itu terkulai tak berdaya di atas dipan, di dekat jendela. Rumahnya sempit. Hanya jendela kecil satu-satunya ventilasi yang mengantarkan udara ke kamar yang – maaf—sumpek itu. Di ruangan sempit itu, Nurjannah menghabiskan hari-harinya: tidur, makan, buang air.

Ia sama sekali tak bisa menikmati udara segar, atau sekadar jalan-jalan di pagi dan sore hari. Kakinya lumpuh. Badannya kurus-kering.

Teman saya, Riza Nasser, menulis berita warga Desa Lamtimpeung, Kecamatan Darussalam, ini. Miris. Berikut saya kutip sebagian tulisan yang telah dimuat di acehkita.com.

Nurjanah, 21 tahun, warga Desa Lamtimpeung, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, membutuhkan biaya perawatan untuk mengobati lumpuh layu yang dideritanya sejak kecil. Menurut Muhammad Dehan, ayahnya, Nurjanah menderita lumpuh layu sejak usia empat bulan. Sebelum sakit, Nurjanah pernah disuntik tetanus oleh petugas kesehatan yang mendatangi rumah mereka.


Berikut yang ditulis di Facebook.

Bola matanya nanar, menatap dari balik jendela kamar berdiamer 3x3 itu. Di atas dipan yang mengeluarkan bau pesing, gadis yang kaki dan badanya mengecil ini, hidup serba memprihatinkan. Dia hanya bisa membolak-balikan badanya, seolah mengharap iba.

21 tahun lalu, menjelang magrib, Muhammad Dehan, pulang dari mengembala ternak dan memotong rumput. Pria yang kini berusia 64 tahun itu, mendapati Nurjannah, putri pertamanya, kejang-kejang. menjelang siang, rumahnya didatangi petugas kesehatan dan menyuntikkan vaksin tetanus ke tubuh Nurjanah.


Berita ini mengingatkan saya pada cerita Nek Rahsia, janda tua-miskin dari Geumpang, Kecamatan Pidie. Nek Rahsia mempunyai anak semata wayang, yang menderita keterbelakangan mental. Rahsia sendiri sering sakit-sakitan.

Cerita dan foto Nek Rahsia dimuat di Harian Aceh, ditulis dengan baik oleh Suparta. Ia juga memberikan kami foto dan dimuat di acehkita.com.

Kami lantas membuat aliansi. Harian Aceh dan acehkita.com, kemudian menggalang dana untuk membantu keluarga miskin ini. Penggalangan dana juga dilakukan oleh aktivis blog. Komunitas Blogger Aceh ikut andil. Dana yang terkumpul melalui solidaritas dunia maya ini lumayan banyak. Alhamdulillah, kami telah sepenuhnya menyerahkan bantuan itu kepada Nek Rahsia.

Pengalaman sukses itu, ingin kami lakukan lagi (saya tidak mau bilang lanjutkan, karena musim kampanye). Kali ini, acehkita.com ingin memfasilitasi kawan-kawan untuk menyumbang kepada Nurjannah.

Ide awalnya, kami ingin mengobati Nurjannah. Jika dana mencukupi, kami ingin membeli beberapa ekor kambing atau bebek atau ayam, untuk membantu ayahnya, Dehan.

Alhamdulillah, respons positif datang dari banyak kalangan. Fadli Idris dari Komunitas Aceh Blogger sudah memposting kabar duka ini di blognya. Aceh Forum juga ikut bagian.

Melalui pesan ini, saya ingin mengajak kawan-kawan blogger, pengguna internet, dan siapa pun yang membaca tulisan ini, berkenan menyumbang demi membantu saudara kita yang lagi mengalami musibah dan cobaan ini.

Berapa pun yang terkumpulkan, akan kami informasikan perkembangannya melalui blog ini, situs acehkita.com, dan Facebook via akun Riza Nasser.

Ingin ikut membantu, silakan kirimkan donasi melalui:

Nomor Rekening 8040020145
PERMATA BANK CABANG ACEH
a.n. Daspriani Y. Zamzami


Jangan lupa kabari kami setelah menyumbang, melalui: +628126968257 & +628126964923 e-mail: redaksi@acehkita.com. Terimakasih.

Radzie

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting