Jumat, Juni 05, 2009

Istimewa Lebaran Bareng Upin dan Ipin

Oleh FAKHRURRADZIE GADE

Selain kocak, serial Upin dan Ipin bisa dijadikan film edukasi bagi anak-anak.

PERBINCANGAN itu terjadi di meja makan usai pengumuman datangnya bulan suci Ramadan. “Kalian berdua pun kena puase,” kata Opah.

“Hah, puase?” sergah Upin, terkejut. Tangannya berusaha menyentuh adik kembarnya, Ipin, yang lahap menyantap paha ayam goreng. Seketika, Ipin berujar, “Oh, boleh-boleh, boleh.” Dia terus melahap ayam goreng kesukaannya. Sementara Upin, masih bingung mendengar pernyataan Opah.

“Puase itu apa, Opah?” tanya Upin.

Dengan sabar, Opah menjelaskan pengertian puasa. Namun, Ipin terkejut saat Opah menyebutkan bahwa puasa tidak boleh makan dan minum mulai dari fajar sampai magrib.

“Hah, tak boleh makan?” sergah Ipin, masih dengan ayam goreng di tangannya. “Matilaaah,” lanjut Ipin.

Perbincangan di meja makan terus berlanjut. Upin belum puas dengan penjelasan yang diberikan Opah dan Kak Roes, kakaknya. Upin dengan lugunya lantas bertanya kenapa mereka harus berpuasa. Sekali lagi, Opah dengan bijak menjelaskan bahwa orang Islam diharuskan berpuasa di bulan suci Ramadan untuk menunaikan perintah Allah.

“Berpuasa itu Tuhan suruh, supaya kita tahu bagaimana rasanya orang miskin dan mereka yang kelaparan,” kata Opah.

Tak puas, Upin protes. Menurut Upin, mereka belum wajib berpuasa karena masih kecil. “Iyalah, kecil-kecil haruslah belajar puase,” jawab Opah.

Perbincangan tadi merupakan adegan dalam film animasi tiga dimensi, Upin dan Ipin, yang diproduksi Les’ Copaque, Malaysia. Pada bulan Ramadan ini, film animasi itu ditayangkan saban Jumat, Sabtu, dan Minggu di TV9.

Upin dan Ipin adalah serial animasi yang bercerita tentang kakak-beradik kembar berusia lima tahun. Ini pengalaman pertama mereka melaksanakan puasa di bulan Ramadan. Ceritanya disajikan sederhana dalam bentuk komik dengan nuansa kocak.

Dalam film 12 episode itu, Opah (dialihsuarakan oleh Hajjah Ainon) dan Ros (Ida Shaheera) memberikan petuah dan nasihat kepada Upin dan Ipin (Nur Fathiah). Nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan Opah dan Kak Ros dalam film ini sangat mudah dimengerti anak-anak. Adegan dan dialog disajikan dengan kocak dan sederhana. Selain bercerita soal puasa, film Upin dan Ipin juga menyampaikan pesan-pesan edukasi dan nilai moral kepada anak-anak.

Pesan sosial, agama, dan moral yang disampaikan Upin dan Ipin sangat kaya. Dalam hampir semua scene, Opah dan Kak Ros memberi nasihat kepada dua kakak-beradik kembar ini. Lihat saja misalnya saat Fizi mencoba mempengaruhi Upin dan Ipin. Saat itu, Fizi bilang bahwa dirinya mendapat satu ringgit dari puasa setengah hari yang dilakoninya.

Mendengar “provokasi” Fizi, Upin dan Ipin seakan hendak mengajukan protes pada Opah. “Opah. Kawan Upin kan, dia puase satu hari dapat seringgit... Jadi Opah, pahamlah Opah,” kata Upin, malu-malu. “Tapi kata kawan Ipin, dia puasa setengah hari ke. Boleh ke Opah?” timpal Ipin.

Kesempatan ini digunakan Opah untuk menjelaskan bahwa puasa dilakukan dengan ikhlas, tanpa mengharap pemberian uang. Boleh-boleh saja, kata Opah, anak-anak semisal Upin dan Ipin berpuasa setengah hari. Tapi apa salahnya belajar untuk berpuasa sehari penuh. Penjelasan Opah ini membuat dua kakak-beradik yang lugu ini merasa malu dan akhirnya mereka bertekad untuk berpuasa penuh selama sebulan Ramadan.

Atau misalnya, saat Upin, Ipin, Mei Mei, dan Rajoo –empat bocah berbeda etnis dan agama—bermain di halaman rumah Opah. Usai bermain, Upin dan Ipin kelelahan. Rajoo (Kannan) yang kalah, mengajak Upin dan Ipin untuk membeli minuman dan makanan. Hampir saja dua kakak-beradik ini terbujuk ajakan Rajoo, sebelum akhirnya dicegah Mei Mei (Yap Ee Jean).

“Hei, kamu berdua kan puasa?” sergah Mei Mei, teman Upin dan Ipin yang beretnis Tionghoa.

Seketika Upin dan Ipin mengangguk.

“Alah, tak ape, orang tak tau,” kata Rajoo, keturunan India.

“Betol, betol, betol,” angguk Ipin, dengan gaya khasnya.

“Tak boleh, yu punya Tuhan tau. Nanti ya, yu punya Tuhan malah, mana boleh main-main,” kata Mei Mei, dalam logat Tionghoa yang kental.

Rajoo, Upin dan Ipin pun akhirnya membatalkan niat mereka membeli minuman.

***

FILM Upin dan Ipin ini sarat dengan nilai edukasi, sehingga layak menjadi hadiah bagi putra-putri Anda saat bulan Ramadan dan Idul Fitri. Les’ Copaque Production merampungkan produksi film animasi Upin dan Ipin pada Agustus 2007. Sebulan kemudian, film ini diputar di Channel 9, satu televisi swasta Malaysia.

Film ini mendapat sambutan hangat dari publik Malaysia. Tak hanya berjaya di negaranya, film ini melebarkan sayap di negeri jiran, Indonesia. Ramadan tahun lalu, Upin dan Ipin menyapa penonton TVRI. Namun Ramadan tahun ini, Upin menyapa penikmat TPI. Bahkan di Banda Aceh, Upin dan Ipin dijual bebas penjual cakram padat bajakan di pinggir jalan. Tak hanya itu, Upin dan Ipin juga dengan mudah bisa diunduh di Internet, termasuk situs resminya. Les’ Copaque juga sudah memproduksi Upin dan Ipin dalam versi bahasa Turki.

Direktur Kreatif dan Pemasaran Les’ Copaque Mohd Nizam Abdul Razak yakin animasi Upin dan Ipin yang mengangkat nilai tradisi dan budaya Malaysia akan mendapat sambutan hangat dari publik, tak hanya di Malaysia tapi juga bagi penyuka film animasi di belahan dunia.

“Serial film animasi terkenal, seperti animasi Doraemon dari Jepang, semuanya mengangkat tema budaya lokal, ketimbang budaya internasional. Kami percaya bisa melakukan hal yang sama dengan karya kami,” kata Mohd Nizam seperti dikutip In.Tech.

Nizam tak sesumbar. Selepas dirilis dan ditayangkan di TV9, serial Upin dan Ipin memperoleh penghargaan Film Animasi Terbaik pada Kuala Lumpur International Film Festival 2007. Sukses dengan Upin dan Ipin I, Les’ Copaque merilis Upin dan Ipin Season Dua: Setahun Kemudian. Film kedua ini diproduksi dalam enam episode, masing-masing berdurasi lima menit.

Sesi ini mengisahkan Upin dan Ipin telah duduk di bangku sekolah dasar. Lagi-lagi, tema besar yang diangkat soal pengalaman puasa dua anak kembar ini. Di beberapa bagian, Les’ Copaque menyisip tema soal budaya Malaysia, seperti pada Episode 9 yang berjudul Adat.

“Kami akan meningkatkan staf menjadi 100 orang akhir tahun ini, karena kami akan mengerjakan animasi ‘Pada Zaman Dahulu’ dan merampungkan keseluruhan 52 serial Upin dan Ipin,” kata Nizam. Sukses Upin dan Ipin juga membuat rumah produksi Les’ Copaque merilis animasi “Geng: Sebuah Petualangan”. Pemeran utama tetap si bocah kembar lugu: Upin dan Ipin, Kak Ros, dan teman-teman mereka.

Pembuatan animasi tiga dimensi Upin dan Ipin terinspirasi film animasi Toy Story yang diproduksi Disney-Pixar pada 1995 silam. “Ini benar-benar menginspirasi kami karena diproduksi saat tidak ada orang yang percaya tentang film animasi tiga dimensi,” kata Safwan, tim kreatif Les’ Copaque.

Penghargaan yang diperoleh film Upin dan Ipin mendongkrak reputasi rumah produksi Les’ Copaque. “Kami memulai film berdurasi pendek ini tahun lalu sebagai tes penerimaan pasar lokal dan untuk mengukur bagaimana reaksi terhadap kemampuan cara bercerita kami,” tambah Safwan.

Managing Director Les’ Copaque Burhanuddin Md. Radzi mengatakan, sambutan publik Malaysia terhadap Upin dan Ipin luar biasa. “Bagus sekali, karena anak di sini maupun di Indonesia merindukan animasi yang bisa mereka pahami dan menceritakan kehidupan mereka sehari-hari,” kata Burhanuddin kepada ACEHKINI.

Respon pasar ini membuat Les’ Copaque akan memproduksi Upin dan Ipin sebanyak 52 episode. Pada lebaran pertama ini, Upin dan Ipin episode 13 sampai 18 akan kembali diluncurkan.

Serial Upin dan Ipin memberi nuansa baru dalam dunia film animasi Melayu. Apalagi, temanya tidak mengekor sukses film animasi versi Nickelodeon atau Disney, yang sebenarnya tak pantas ditonton anak-anak. Film animasi Nick dan Disney kebanyakan mengangkat soal kekerasan, perkelahian, dan bahkan disajikan dengan bahasa yang sama sekali tak mendidik. Dan Upin & Ipin menyuguhkan warna lain: toleransi dan sarat pesan moral. [a]

7 comments:

Anonim mengatakan...

baguslah, salut untuk serial upin dan ipin...anak2 kita akhir2 ni kehilangan figur tokoh dlm cerita yg bisa dijadikan tauladan. semoga dengan adanya serial ini mampu mengajarkan sebuah bentuk toleransi dan pesan moral yg sangat mendidik untuk generasi mendatang. saya yg bukan anak kecil lagi pun sangat suka dengan upin dan ipin. Selamat!

Unknown mengatakan...

NaJis gua nonton film bikinan para pecundang malaysia,Bikinan Musuh kok malah di bagus2in lo tolol apa bego?,lo penduduk mana?,...Bego bgt sih malaysia udah ngatain indo!!!!,ngeklaim batik dan etc punya dia padahal punya indo,anjrit Lu semua Dasar MALINGSIA NEGRI JIRAN/BANGSAT SAMPAH PERANG LO SINI,GAMERS nya UDAH KYK TAI,SEKALI BANTAI MA INDO ARMY GA ADA APA2nya Sampah CUMA MENANG MALING DOANK GOBLOK LO SEMUA ORG MALAYSIA!!!!!!!!!!!

Anonim mengatakan...

Wahh.. tontonan spt ini yang mendidik.. i love upin dan ipin.. sudah saatnya kita tidak selalu berkiblat kebarat..
and please yang komen provokasi. there is nothing to do upin dan ipin dengan apa yang terjadi dengan kedua negara..

Anonim mengatakan...

Awas pemecah belah persatuan Umat ISLAM. Indonesia dan Malaysia adalah negara dengan mayoritas beragama islam. mari kita singkirkan sifat asshobiyah (kelompok,suku,golongan). mari kita bersatu dalam akidah. sesungguhnya umat islam itu satu. buat apa batik, tari pendet dll. tidak ada gunanya untuk akhirat.

Anonim mengatakan...

Betul, betul, betul. Paling yg comment kata2 kasar tu nak nasrani. Dengar ya, dengar.. Hati2 dng nak nasrani tolol. Ad jg nak non muslim yg pandai, kayak mei mei. Hehe. Dlm upin dn ipin jg g' ad ras nasrani tolol.

AKPhoto mengatakan...

@ malaysia_tai... Saya tidak ada urusan dengan Indonesia dan Malaysia yang tengah bertikai... Saya orang Aceh, wilayah teritori masih Indonesia. Lantas kenapa memang kalau saya menyukai produk Malaysia ketimbang produk Indon(esia) yang gak mutu?

Anonim mengatakan...

@malaysia_tai
Pemikiran kolot kamu udah dipenuhi sifat2 dari kebanyakkan sinetron yang kamu tonton iaitu penuh dengan sifat dengki, keji dan tidak membina ke arah satu bangsa yang bertamadun-berfikiran positif mampu membawa kamu kearah yang lebih maju dan menghadapi dunia yang lebih global

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting