Sabtu, Desember 17, 2005

PANTAI BARAT
Setelah Setahun Bencana Berlalu


Setahun sudah bencana berlalu. Pantai barat Aceh menyisakan persoalan. Ribuan pengungsi masih terkurung dan kekurangan makanan. Setahun tsunami, BRR mencatat, 67.500 pengungsi masih di tenda. Sementara rumah baru dibangun 16.200 unit.

Taufik menarik perahunya ke tepi “dermaga”. Tidak terlalu besar perahu yang akan memuat empat sepeda motor itu. Namun, dia tidak terlalu hirau. Tak jauh dari posisinya, seorang teman kerjanya sedang menurunkan sepeda motor trail ke “dermaga” kecil yang agak miring ke danau.

Perahu motor yang tidak terlalu besar itu digunakan untuk mengangkut sepeda motor melayari anak danau yang terbentuk setelah tsunami menghancurkan Aceh Jaya akhir Desember tahun lalu. Taufik dan tiga rekannya memindahkan satu per satu sepeda motor ke dalam perahunya. Sedikit oleng ke kiri. Namun mereka tidak peduli. Begitu seterusnya.

Dengan bermodal mesin 25 PK, dia mengarungi danau yang tidak terlalu besar itu. Setelah sekitar 150 meter perjalanan, perahu milik Taufik berpas-pasan dengan perahu lain, yang memuat empat motor dan sekitar tujuh penumpang, ditambah empat awak boat. “Beginilah Bang, pemandangan rutin,” kata Taufik kepada acehkita.com, Senin (12/12) lalu.

Apa yang diungkapkan Taufik, sepenuhnya benar. Perjalanan ke Aceh Jaya, masih harus melalui jalan yang rusak. Setidaknya, acehkita.com harus naik perahu tiga kali dalam perjalanan dari Lamno, Kecamatan Jaya, ke Calang, ibukota Kabupaten Aceh Jaya.

Jalan yang rusak dihumbalang tsunami, belum diperbaiki. Jembatan putus di beberapa tempat, seperti di Desa Ujong Muloh, Lamno, Desa Babah Nipah dan Kuala Ligan, Kecamatan Sampoiniet, belum diperbaiki. Akibatnya, perjalanan dari dan ke Calang, terpaksa harus naik perahu.

Ada jalan alternatif melalui Gle Mancang. Namun, kondisinya tidak lebih baik dari menyusuri anak danau dan padang pasir. Jalanan di Gle Mancang jauh lebih parah kondisinya. Sejak dari Lamno, reporter situs ini sudah diwanti-wanti untuk tidak melewati jalan tembus baru yang didanai oleh pemerintah Amerika Serikat melalui USAID.

“Beberapa hari lalu, ada mobil LSM yang terjebak tiga hari tiga malam,” kata Usman U, Panglima Laot Lhok Lhok Kruet, Kecamatan Sampoiniet, Ahad (11/12).

Selain jembatan putus, sepanjang jalan dari Kecamatan Jaya, Lamno, puluhan kilometer jalan masih berlumpur dan berlobang. Praktis, jika musim hujan banyak warga yang tidak bisa melalui jalan ini, karena menyerupai kubangan kerbau. Bahkan lumpur setinggi lutut orang dewasa. Tak sedikit motor yang melintasi jalan berlumpur itu, terjebak dan jatuh.

Jalan itu merupakan lintasan yang dibangun oleh 2.000-an personel Zeni Tempur, Infanteri, dan Marinir. Mereka membuka jalur Banda Aceh-Meulaboh sepanjang 83 kilometer.

Untuk rehabilitasi lintasan pantai barat, Pemerintah Abang Sam (AS) telah menjanjikan akan mendanai perbaikan jalan pantai barat sepanjang 240 kilometer. Tak tanggung-tanggung, negeri adidaya itu akan mengucurkan 245 juta US Dollar. Penyerahan bantuan itu sebesar itu tertuang dalam Nota Kesepahaman yang ditandatangani Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto dan Direktur USAID William Frej.

Pembangunan kembali jalan Banda Aceh-Meulaboh sepanjang 240 kilometer akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama akan diprioritaskan pada beberapa jalan dan jembatan yang tingkat kerusakannya parah, sepanjang 10 kilometer. Pada tahap kedua akan dibangun kembali sekitar 230 kilometer termasuk 108 jembatan dan gorong-gorong sepanjang Banda Aceh-Meulaboh.

Kendati sudah ada perjanjian antara kedua negara ini, masyarakat di pantai barat juga menyiratkan kekecewaannya, karena pembangunan jalan yang relatif lambat. Mereka terus mempertanyakan kapan jalan yang bisa membebaskan keterisolasian mereka selesai. “Kapan ya jalan ini dibangun lagi,” tanya Taufik kepada wartawan situs ini. “Kami minta supaya segera dibuatkan jalan.”

Taufik mungkin lelah menjadi penyedia jasa penyeberangan, kendati di sana dia bisa mengais rezeki. Namun, dia tidak tega melihat ribuan korban tsunami yang masih hidup di pengungsian dengan kondisi yang memprihatinkan, apalagi para janda yang suaminya menemui ajal dalam prahara besar itu.

Pria berkulit hitam legam karena dibakar teriknya matahari ini, tidak asal omong. Hanya sekitar 400 meter dari tempatnya bekerja, terdapat kamp pengungsian Kuala Ligan. Mereka masih tinggal di bawah tenda darurat. Sebagian sudah tinggal di rumah gubuk yang dibuat sendiri dari kayu peninggalan tsunami.

Jalan aspal menuju ke Calang tertutup rumput. Sisi kiri kanan jalan, ditumbuhi ilalang setinggi orang dewasa. Ini pertanda, jalanan itu jarang dilintasi mobil. Tak jauh dari kamp Kuala Ligan jalan aspal tidak ada lagi, sudah amplas diterjang tsunami.

Untuk mencapai Patek saja, harus melalui jalan setapak. Hanya sepeda motor yang bisa melintasi jalan yang super kecil itu. Rupanya, di sana ada pengungsi korban tsunami, yang masih tinggal di tenda-tenda. Nyaris tidak tersentuh bantuan untuk pengungsi di sini. Apalagi, jalan dari Patek juga putus total. Sementara mobil NGO, tertahan di sebuah jembatan yang berjarak 1 kilometer dari desa.

Di Desa Lhok Kruet dan Pulo Raya, Kecamatan Sampoiniet, ribuan pengungsi tidak memperoleh bantuan makanan, seperti beras, ikan, dan minyak goreng, sejak tiga hingga empat bulan terakhir ini. Tersendatnya penyaluran bantuan logistik, kata Sekretaris Desa Pulo Raya Syamsuddin (55), karena kesulitan sarana transportasi. “Mereka selalu beralasan itu,” kata Syamsuddin.

Akibatnya, para pengungsi di dua desa ini terpaksa membeli beras, minyak goreng, dan ikan. Padahal, penyaluran dana jaminan hidup atawa jadup yang seharusnya mereka terima Rp 3.000 per hari, juga setali tiga uang.

Menurut Syamsuddin, sejak mengungsi sebelas bulan lalu, mereka baru menerima jadup empat bulan saja. Sejak Juli, mereka tidak lagi diberikan jadup oleh pemerintah.

Bukan hanya Desa Pulo Raya yang tidak memperoleh bantuan logistik. Desa Lhok Kruet, Krueng No, dan Desa Ceuramong, juga setali tiga uang.

Seorang warga Desa Lhok Kruet yang enggan disebutkan namanya mengatakan, para pengungsi yang masih tinggal di tenda darurat di desanya sudah tiga bulan tidak memperoleh bantuan makanan, sejak September, Oktober, dan Desember. “Untuk bulan November sudah dibagikan,” kata warga tersebut. “Kami nggak tahu kenapa beras bantuan untuk kami tidak disalurkan.”

Pengungsi tenda di Desa Kareung Ateuh, Kecamatan Jaya, Lamno, Aceh Jaya, juga mengeluhkan penyaluran jadup yang tersendat. Dia dan 260 jiwa pengungsi lainnya hanya mendapatkan jadup sejak Maret hingga Mei. Selebihnya, tidak sama sekali. “Kami baru dapat jadup tiga bulan,” kata Aton (31).

Bagaimana nasib perumahan? “Tidak ada yang tangani masalah perumahan di sini,” kata seorang warga Lhok Kruet.

Hamparan tenda putih yang sudah lusuh dan compang-camping mewarnai sejumlah kamp pengungsian yang tersebar di pantai barat, mulai dari Lamno hingga Calang. Pemandangan ini seperti terlihat di Desa Kareung Ateuh (Kecamatan Jaya/Lamno), Desa Kuala Bakong, Desa Lhok Kruet, Krueng No, Pulo Raya, dan Desa Ceuramong. Pemandangan serupa juga terlihat di sejumlah lokasi pengungsian yang tersebar di Kecamatan Setia Bakti.

Tidak banyak NGO yang melirik desa yang masih terkurung ini. Kalau pun ada yang datang ke sana, hanya untuk menjanjikan bantuan. Selebihnya, tidak! “Janji hanya tinggal janji,” kata Usman U.

Usman lalu menceritakan kisah getir yang diperlihatkan sebuah NGO di desa mereka. Menurut Usman, NGO tersebut mengampanyekan Aksi Memerangi Kelaparan. Namun, hingga kini mereka belum pernah menerima bantuan pangan untuk mengatasi kekurangan logistik yang mereka alami. “Mereka hanya membuat satu unit WC,” kata Usman.

Kisah lain lagi, ada NGO yang datang menjanjikan seng untuk menggantikan atap tenda. Namun, sekali lagi, janji itu hanya tinggal kenangan pahit untuk diingat. Sebab, hingga kini mereka masih tinggal di tenda darurat.

“Kalau dihitung, ada 80 ton minyak dihabiskan hanya untuk memamerkan mobil mewah,” kata Panglima Laot yang membawahi empat desa di Kecamatan Sampoinit itu. Bahkan, kata dia, warga pernah mau mengusir sebuah NGO dari desa mereka. “Ada yang mau diusir,” ujarnya.

Calang
Kondisi yang sudah lumayan pulih di Calang, ibukota Kabupaten Aceh Jaya. Kehidupan perekonomian warga Calang juga sudah mulai bangkit. Toko-toko yang dulu digulung tsunami, kini sudah kembali dibangun, walaupun hanya berkonstruksi kayu. Aneka barang dan makanan dijual di toko baru yang menyesakkan tepi jalan yang selamat, karena berada di kaki Bukit Carak.

Para korban tsunami juga sudah tinggal di rumah-rumah bantuan. Di Desa Bahagia saja, sebanyak 83 unit rumah telah dibangun oleh Jawa Pos Group bekerjasama dengan Zeni Tempur TNI. Sebelumnya, tsunami hanya menyisakan satu rumah dan 27 jiwa di Desa Bahagia. Selebihnya digulung tsunami yang mengepung desa itu dari tiga sisi. Sementara di Kemukiman Calang, sudah dibangun 1.200 rumah oleh grup media berbasis di Surabaya, Jawa Timur itu.

Kendati sudah memperoleh rumah, tidak serta merta kondisi mereka berubah. Warga Desa Bahagia saja sejak Agustus lalu tidak lagi memperoleh bantuan jadup. “Kami hanya terima jadup empat kali,” kata Rusydi, salah seorang warga Desa Bahagia, yang ditemui di rumah Nek Beng, satu-satunya rumah yang selamat dari gempuran tsunami, Minggu (11/12) malam.

Beruntung warga Desa Bahagia. Beberapa di antara mereka yang selamat, sudah bekerja di NGO asing atau lembaga pemerintah, menjadi security. Rusydi, misalnya. Dia menjadi petugas keamanan di kantor cabang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias. Sementara Joli (28), menjadi petugas keamanan di salah satu NGO asing.

Sekitar 3 kilometer dari pusat kota Calang, ribuan pengungsi masih berdiam di tenda, sama halnya dengan pengungsi di beberapa kecamatan yang sudah disebutkan di muka. Di Desa Monmata, Kecamatan Krueng Sabe, misalnya, ratusan warga belum memperoleh bantuan perumahan. Mereka hanya tinggal di tenda dan rumah gubuk. Pihak Citra Agung sudah menjanjikan pembangunan rumah itu sejak bulan September lalu.

“Baru dibangun 10 pondasi, dari 40 unit yang dijanjikan Citra Agung,” kata Nurdin W, warga Monmata, Senin (12/12).

Lagi-lagi, masalah yang muncul di sini adalah penyaluran jadup yang tidak lancar. “Kami hanya dapat jadup empat bulan. Sejak Agustus, tidak terima lagi,” tambah Nurdin, dibenarkan lima pengungsi lain yang sedang menyerubut kopi di sebuah tenda yang disulap jadi warung.

Penduduk di Monmanta kini hanya 230 KK atau sekitar 700-an jiwa. Tsunami merenggut 165 jiwa warga. Mereka yang selamat berharap adanya bantuan modal, selain kelancaran jadup dan rumah. “Kami harapkan perekonomian warga dijalankan. Kami nggak tahu apa yang harus kami kerjakan,” katanya lagi. Tapi, “ada 100 KK yang diberikan bibit tamanan oleh ACF.”

Lambat
Lambatnya proses pemulihan pascatsunami di pesisir pantai barat Aceh, diakui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. Seperti terlihat dalam laporan setahun yang diberi judul Aceh and Nias One Year after the Tsunami: The Recovery Effort and Way Forward, diperlihatkan kemajuan proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh.

Dalam paparan itu jelas terlihat pembangunan masih terkonsentrasi di Banda Aceh, Aceh Besar, Lhokseumawe, Pidie, dan Bireuen. Namun, di sepanjang pesisir pantai barat, pembangunan terlihat berjalan lambat.

“Ada beberapa kesenjangan. Ada daerah yang pembangunannya signifikan, tapi ada juga yang sangat lambat seperti di pantai barat Aceh dan Nias,” kata T Syafrizal Sofyan dari Bank Dunia dalam paparan di depan sejumlah wartawan dalam dan luar negeri di Media Center BRR, Kamis (15/12).

Dalam laporan kemajuan setahun tsunami, BRR juga mengatakan, hingga Desember ini sebanyak 16.200 rumah telah selesai dibangun, 13.200 sedang dibangun. Tentu, angka itu sangat tidak sebanding dengan kerusakan rumah yang diperkirakan 80.000 hingga 110.000 rumah. Sebanyak 75.000 rumah di Aceh dan Nias harus direhabilitasi. Lembaga-lembaga donor sendiri telah berkomitmen membangun 103.000 rumah (termasuk 20.000 unit melaluio program tempat tinggal sementara).

Kendati sudah setahun tsunami berlalu, masih ada 67.500 korban tsunami yang tinggal di tenda darurat, 50.000 jiwa tinggal di barak penampungan. Sementara dari 3.000 kilometer jalan yang rusak, baru 235 kilometer yang selesai dibangun. Begitu juga dengan jembatan. Dari 120 jembatan arteri yang rusak, baru 35 yang selesai. Sedangkan lebih dari 2.000 sekolah rusak, namun baru 335 yang dibangun.

Padahal, dana yang telah dialokasi untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh-Nias USD 4,4 miliar untuk membiayai lebih dari seribu proyek.

Jumlah bantuan yang dijanjikan paling sedikit mencapai USD7,5 miliar, yang berasal dari USD2 miliar dari donor multilateral, USD 1,6 miliar dari donor bilateral, USD 1,8 miliar dari LSM, dan USD 2,1 miliar dari pemerintah Indonesia (tidak termasuk kontribusi pemerintah daerah).

Hal senada dikemukakan Kepala BRR Kuntoro Mangkusubroto. “Pembangunan di daerah itu memang terlambat. Banyak NGO yang kesusahan. Begitu dia bawa makanan ke sana, diminta oleh aparat yang berseragam,” kata Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias, Kuntoro.

Tahun depan, kata Kuntoro, BRR akan memfokuskan pemulihan Calang dan Aceh Jaya. Bahkan, pihaknya sudah menganggarkan dana Rp 518 miliar, ditambah lagi dana dari NGO yang diperkirakan mencapai Rp 1 triliun. “Saya sudah minta ini diamankan semua. Kalau nggak, orangnya akan diganti,” tegasnya.

Kuntoro tidak membantah jika ada NGO yang hanya menebar janji kepada korban tsunami. Namun, dia menegaskan, janji yang tidak terealisir bukan hanya diberikan para NGO. Pejabat di Jakarta juga demikian. “Menteri dan orang-orang Jakarta juga banyak yang janji-janji saja,” katanya.

Nah lho!
[dzie]

Kamis, Desember 15, 2005

Testi buat Tim AirPutih

Sebagaimana namanya, AirPutih seakan menjadi oase di tengah “kegelapan” informasi saat koneksi Internet di Aceh terputus akibat humbalang tsunami akhir Desember tahun lalu. Ini bukan untuk memuji, tapi memang itulah kenyataan yang saya rasakan.

Sebagai pekerja di media online (www.acehkita.com), saya harus tersambungkan dengan koneksi Internet selama 24 jam. Sebenarnya, itu tidak menjadi masalah, karena kantor saya memang tersambungkan dengan koneksi wireless. Namun, kendala justru mencul di lapangan: di mana hampir 40-an kontributor kami bekerja di Aceh.

Praktis, setelah dihumbalang tsunami, Banda Aceh, Calang, Meulaboh, dan Pidie, menjadi daerah yang terisolasi. Tidak ada yang bisa berkomunikasi ke sana. Kontributor acehkita.com pun akhirnya tidak bisa berkirim kabar berita tentang kejadian mahadahsyat di Aceh, karena memang koneksi Internet putus total, setelah kota rusak.

Baru hari ketiga, jalur komunikasi telepon di Banda Aceh mulai berdenyut. Melalui telepon, segala perkembangan dilaporkan kontributor ke Jakarta. Alhamdulillah, dalam beberapa hari setelah itu, koneksi Internet mulai tersambungkan. Semua kontributor acehkita.com sudah bisa mengirimkan foto dan berita melalui Internet.

Nah, keberadaan AirPutih, semakin dirasakan saat kami mengutus seorang wartawan ke Calang, Aceh Jaya. Melalui koneksi Internet yang disediakan AirPutih pula, reporter kami di sana bisa melaporkan berbagai perkembangan setelah tsunami.

Di Banda Aceh, kontributor kami juga menggunakan fasilitas yang disediakan AirPutih. Apalagi, kemudian antara acehkita.com dan Aceh Media Center, terjalin semacam kerjasama informal.

Selama pindah ke Banda Aceh, saya menggunakan jasa AirPutih untuk meng-upload berbagai berita ke acehkita.com. Namun, kadang-kadang, ada sedikit masalah dengan koneksi. Sebab, tak jarang koneksi AirPutih macet dan down. Saya tidak tahu ini apa kendalanya. Tapi, biasanya kawan-kawan di AirPutih Banda Aceh cepat tanggap, kok.

Baru-baru ini saya pergi ke Calang, Aceh Jaya. Di sana ada kantor AirPutih. Namun, sayang beberapa warga yang saya tanyai, tidak mengetahui apa itu AirPutih. Dan, yang membuat saya bingung, yang tidak tau AirPutih itu, ya tiga Security (kalau dulu dibilang Satpam, biar keren dikit pakai bahasa Inggris aja dah; security) di UN-WFP. Padahal, ternyata markas AirPutih itu, ya di depan markas UN-WFP, hehee.

Sebagai pengguna jasa AirPutih gratisan, saya berharap, aktivis AP menghibahkan peralatan ini ke mereka yang tidak berpikiran komersil.

Fakultas Ekonomi Unsyiah, Banda Aceh, 14 Desember 2005.

CATATAN: Dibuat sebagai testimoni bagi tim AirPutih yang telah bekerja maksimal memulihkan koneksi Internet di Aceh pascatsunami. Mereka akan keluar dari Aceh pada akhir tahun ini. Koneksi Internet wifi gratisan pun, terancam tidak bisa digunakan lagi.

Minggu, November 13, 2005

Ironi Aceh!

Saya tidak menduga jika ada orang tua (baca: generasi tua) yang menolak dibangun rumah adat Aceh oleh lembaga swadaya masyarakat, yang merekonstruksi Aceh pascatsunami.

Menurut pria yang saya taksir berusia 55 tahun, dia menolak rumahnya yang porak-poranda dihantam gelombang tsunami akhir tahun lalu, diganti dengan rumah yang berbentuk rumah tiang atau menyerupai rumah Aceh. Alasannya, material pembuatan rumah langka itu bukan berasal dari kayu-kayu yang kualitas bagus.

“Tiangnya dibuat dari pohon kelapa,” kata dia.

Memang, saya pernah melihat rumah Aceh bantuan Muslim Aid di Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, bahan bakunya pohon kelapa. Saya memang awam perihal ilmu bangunan dan arsitektur. Namun, sekilas rumah Aceh bantuan Muslim Aid itu bagus. Ini membuat pikiran saya kembali menerawang ke tahun 1980-an.

Di kurun waktu itu, masih banyak rumah adat yang gampang ditemui. Di Pidie, saya masih bisa menemukan rumah khas Aceh itu di pinggir jalan raya. Ada dengan tiang yang tinggi, ada pula pendek, sehingga menyerupai rumah panggung. Saya paling menyukai ukiran di tampong, berbentuk segi tiga yang banyak lubang, sehingga memudahkan masuknya angin. Jika di rumah masa kini dinamakan dengan ventilasi angin.

Beragam bentuk ukiran itu, membuat rumah khas Aceh tersebut tampak indah. Selain, mengandung filosofi yang sarat makna. Pintu utama rumoh Aceh, lebih pendek, sehingga orang dewasa harus merunduk saat memasuki. Itu artinya, masuk ke rumah tersebut harus dengan sopan santun, untuk menghormati sang pemilik rumah. Jadi, tidak bisa masuk sembrono, atau sambil lari.

Bagian dalam rumah Aceh sendiri terbagi dari tiga bagian: seuramoe keu, rambat, dan seuramoe likot.

Seuramoe keu dikhususkan bagi para tamu. Di sana pemilik rumah akan menjamu setiap orang yang berkunjung ke rumahnya. Lalu rambat, khusus dipakai bagi orangtua (ayah dan ibu). Biasanya di rambat hanya ada satu kamar atau dua, jika ukuran rumah lebih besar. Sementara seuramoe likot digunakan sebagai dapur dan tempat tidur bagi anak perempuan. Anak laki-laki di Aceh jarang tidur di rumah. Mereka lebih memilih tidur di meunasah atau masjid. Di sana, mereka belajar ngaji dan beribadah, selain sebagai pageu gampong (menjaga kampung).

***

Pak tua asal Lhok Nga itu dengan bangga menyatakan menolak bantuan rumah khas Aceh bagi korban tsunami di desanya. Para warga meminta dibuatkan rumah permanen ala modern. Dia kemudian menamsilkan, rumah Aceh adalah nasi basi, dan rumah permanen adalah nasi segar.

Dia menambahkan lagi, jika mereka menerima rumah khas Aceh, maka mereka akan kembali ke era tahun 70-an, di mana masih mudah ditemui rumah adat tersebut. Alasan lain dia menolak rumah tersebut, karena mudah diterpa angin laut yang tak berpenghalang tanaman yang sudah dimatikan tsunami.

Bagi saya, apa pun alasannya, penolakan seperti itu tetap tidak bisa diterima. Lain halnya jika penolakan itu dilakukan oleh generasi seumuran saya, yang tidak terlalu familiar dengan rumah warisan endatu itu.

Yang sangat disayangkan, penolakan generasi tua terhadap simbol budaya itu, bisa menggerus budaya Aceh yang perlahan-lahan memang sudah terkikis dan dimakan zaman. Generasi saya banyak yang sudah tidak paham dengan budaya, adat istiadat, yang berlaku di tengah-tengah masyakarat Aceh. Ini tentu tidak bisa disalahkan generasi muda. Sebab, generasi tua saja sudah tidak care lagi dengan budaya dan simbol-simbolnya.

Jika dia menolak pembuatan rumah Aceh, karena memakai material tidak bagus, kenapa dia tidak membuat kesepakatan dengan LSM tersebut: buat rumah Aceh dengan material yang bagus, sehingga tidak cepat rusak. Kenapa tidak dibuat perjanjian seperti itu?

Potret di Aceh ini sangat kontras dengan masyarakat Minang. Mereka sangat bangga dengan kultur dan simbol-simbol kedaerahan. Kesimpulan ini saya ambil setelah melihat banyak warung nasi Padang di Jakarta, yang khas Padang. Mereka membikin warung dengan bangunan berbentuk rumah adat Padang. Mereka bangga dengannya. Sesama mereka pun jika bertemu, langsung saja bertutur bahasa daerah.

***

Percakapan Pak Tua dengan saudaranya (yang kawan saya), merupakan sebuah ironi. Saya tidak akan menyalahkan generasi di bawah yang sudah buta dengan budaya.

Tapi, kendati kesal, saya mencoba memahami alasan penolakan Pak Tua tadi. “Baru empat hari ditempati, kayu lantai sudah patah,” kata dia.

“Kita butuh rumah untuk jangka waktu lama.”

“Saya pernah diminta pendapat sama seorang LSM, yang gusar dengan harga rumah Aceh hingga Rp 48 juta. Saya bilang, kalau dilihat dari bahannya, paling pantas dibayar Rp 22 juta saja.”

“Rumah Aceh, kita kembali ke tahun 1970-an. Kita butuh rumah permanen.”

Itu beberapa ungkapan yang sempat terekam dalam pikiranku.

Tapi bagaimana pun, mereka butuh rumah. Terserah mau rumah yang seperti apa. Dan, “Kalau kalian mau bantu buat rumah, ya harus berdasarkan persetujuan kami, bukan atasan kalian,” kata dia kepada aktivis LSM yang hendak membangun rumah Aceh di kampungnya. “Kami mau rumah permanen.”

Rumit memang pengadaan rumah bagi korban tsunami. Banyak yang belum selesai. Bahkan, banyak pula yang sama sekali belum memperoleh rumah, seperti terlihat di kawasan Krueng Cut dan Kajhu. Di Lhok Nga sudah banyak rumah yang dibangun. Ada rumah Aceh, ada juga semi permanen. Di Lampuuk, juga demikian. Bahkan, Turki berupaya membangun 750 rumah di sana tipe 46. Lumayan bagus rumah itu. Di Lampuuk pula, ada perkampungan Turki, karena semua rumah dibangun oleh Turki.

Di Lamno Aceh Jaya, juga sudah banyak rumah yang dibangun oleh Turki. Masih ada juga manusia tenda.

Susah memang!

Andai Pak Tua saudara kawanku itu tidak mempermasalahkan rumah Aceh, aku tidak akan terusik. Karena, sebelum bertemu beliau aku pernah bilang: “Mau rumah kayak gereja kek, yang penting ada dan di dalamnya orang shalat dan ngaji. Buat apa rumah menyerupai masjid, tapi tidak pernah ada orang yang shalat dan ngaji. Kita lupakanlah simbol-simbol,” kataku pada kawan-kawan saat ngopi di Ulee Kareng.

Uh…! Sebuah ironi Aceh yang diperlihatkan Pak Tua. [r]

NB. Maaf, nama Pak Tua, desa, dan nama LSM tidak aku tulis di sini.

Banda Aceh, 12 November 2005

Rabu, November 02, 2005

Indahnya Bermaaf-maafan


SELAMAT IDUL FITRI Posted by Picasa

"Kesalahan mata karena melihat, telinga karena mendengar, kaki karena berjalan, tangan karena memegang/meraba, hidung karena mencium, lidah karena berucap/bertutur, kesalahan akal karena berpikir (yang bukan-bukan), dan kesalahan hati karena syak wasangka/iri/dengki/sombong."

Untuk itu, mohon diperbanyak maaf atas apa yang telah kulakukan dengan anggota tubuhku itu.

"Uhanni-ukum bi 'Idil Fitri. Minal Aidzin wal Faidzin. Kullu 'Aamin wa Antum bi Khairin."

Banda Aceh, 2 November 2005
Fakhrurradzie

Selamat Idul Fitri 1426 H


BAITURRAHMAN - RADZIE/ACEHINTERAKTIF Posted by Picasa

”Al insaanu makaan al khatthaa-u wa al nisya”. (Manusia tak luput dari salah dan lupa).

Benar. Manusia memang mempunyai sifat yang sering berbuat salah dan lupa. Karena itu, selama mengarungi hidup ini, tak terhitung lagi berapa kesalahan dan kelupaan yang telah diperbuat manusia. Namun, kata Nabi Muhammad, sebaik-baik manusia adalah yang sadar akan kesalahannya, dan mau meminta maaf atas kesalahan dan kelupaan yang telah diperbuatnya.

Selama kita berkawan, aku tidak bisa mengitung lagi seberapa banyak dosa, salah, dan lupaku yang telah kuperbuat kepada kawan-kawan, baik melalui ketajaman lidah, kekerasan tangan dan kaki, maupun syak wasangka yang disiratkan hatiku, yang tidak bisa diketahui orang lain.

Jika kuhimpun segala salahku, niscaya aku malu menjadi manusia. Karena itu, melalui momen hari raya Idul Fitri 1426 Hijriah kali ini, aku meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada kawan-kawan.

“Taqabba allahu minna wa minkum. Eidun mubaarak, wa kullu ‘aamin wa antum bi khair.” Minal Aidzin wa al Faaizin.

Banda Aceh, 1 November 2005
Fakhrurradzie MG

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Web Hosting